Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 44 Taruhan


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Dina sudah kembali bersikap seperti biasanya. Ia mengikuti kata hatinya untuk tetap fokus dengan apa yang ia cita-citakan, masalah Toni biarlah waktu yang menjawabnya.


Dina tak lagi menghindari atau sengaja mendekati Toni. Dina kini malah lebih dekat dengan Widi dan Krisna. Setelah studio radio sekolahnya mulai bisa mengudara, Dina lebih sering menghabiskan waktunya di studio.


Jika istirahat dia lebih sering ke kantin pak Jo yang terletak di sudut gedung sekolah bagian belakang. Jika tidak ada jam sore Dina menghabiskan waktunya dengan les.


Akhir minggu yang biasanya diisi dengan bersantai-santai, untuk Dina akhir minggu ia pulang lebih sore dari biaasanya karena ada les. Dina seolah-olah tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain selain sekolah.


Toni pun juga merasa kehilangan, Dina yang biasanya sering ke kantin belakang kelasnya, sekarang hanya sesekali. Dina seperti hilang ditelan bumi. Jarang terlihat, ia hanya bisa bertemu dengan Dina ketika hari jumat waktu jam pelajaran olahraga.


Jam pelajaran olahraga kelas mereka bersamaan. Toni kadang masih sering mencuri-curi pandang terhadap Dina. Dina tidak menyadarinya ia terlalu fokus dengan teman-temannya.


Meski di kelas Dina merasa kesepian, tapi ia berusaha berbaur dengan teman-temannya. Di kelasnya ia hanya dekat dengan Yuni, Anto dan Putra.


Dina sekarang juga sedang dekat dengan Dendy adik sepupu Gilang. Mereka menjadi lebih dekat sejak acara makrab di puncak beberapa hari setelah Dina berulang tahun.


Beberapa kali Toni mencoba mencari Dina di kelasnya tapi tidak pernah berhasil. Toni akhirnya menyerah dan membiarkan waktu yang akan menunjukkan semuanya.


Akhir-akhir ini Dina sering menghabiskan waktunya dengan Dendy. Dina merasa nyaman, dan bisa menjadi dirinya sendiri, bersikap apa adanya. Ia tahu jika Dendy menyukainya tapi Dina tak mau terlalu percaya diri.


Dina masih trauma, ia masih belum ingin memulai hubungan dengan siapapun, termasuk Dendy. Dina masih ingin menata hatinya, menyembuhkan lukanya terlebih dahulu.


Siang itu, karena Dina merindukan nasi pecel di kantin belakang kelasnya Toni, Dina makan di sana. Tak sengaja ia bertemu dengan Toni. Pertemuan yang tidak disengaja yang membuat hati Toni merasa bahagia.


Dina sebenarnya senang, tapi entah kenapa setiap bertemu Toni, ia seolah-olah menyangkal apa yang ia rasakan. Ada sesuatu yang bertentangan dalam hatinya Dina.


Setelah kejadian pertemuan tak terduga itu, Toni memberanikan diri untuk mendekati Dina kembali. Hubungan mereka pun berangsur membaik kembali. Mereka beberapa kali pergi berdua dan semua orang melihat mereka adalah pasangan yang serasi.


Hingga suatu ketika jam pelajaran olah raga, guru kelasnya Toni tidak hadir dan pelajaran mereka digabung. Guru olah raga mereka mengadakan pertandingan basket antar kelas.

__ADS_1


Toni bermain dengan penuh semangat karena ada Dina yang sedang menonton di pinggir lapangan. Beberapa kali mereka saling curi-curi pandang. Bahkan teman-teman sekelas Toni lebih perhatian kepada Dina dibanding teman sekelas Dina.


Bahkan dengan santainya Toni merebut air minum yang dipegang oleh Dina. Dina kesal tapi mau bagaimana lagi, Toni yang mengambilnya tak mungkin ia marah kepada Toni.


Pertandingan telah selesai, saatnya mereka berganti pakaian. Kebetulan toilet cewek dan cowok bersebelahan. Bahkan mereka bisa saling mendengar suara-suara yang keluar dari toilet sebelah.


Dina sedang berganti baju, dan tak sengaja Dina mendengar percakapan yang ia yakini suara Toni dan suara Bian dan teman-temannya. Ia heran padahal Bian tidak satu kelas dengan Toni tapi kenapa berada di toilet di saat yang bersamaan.


Dari percakapan mereka membuat Dina sakit hati, Dina menyesal karena akhir-akhir ini ia mau memberikan kesempatan untuk Toni untuk bisa dekat dengannya lagi.


.


Di toilet cowok, Toni sedang berganti pakaian karena waktu yang sangat singkat yang tak memungkinkan untuk ia pulang, selain itu ia sudah berencana mengajak Dina untuk ke kantin belakang kelasnya.


Saat Toni sedang berganti baju, tiba-tiba orang yang selama ini sudah membuat hidupnya sulit datang bersama teman-temannya.


"jadi....kamu sudah balikan dengan Dina?" tanya Bian dengan gaya angkuhnya


"ayolah Ton...kalau kamu bisa kembali sama Dina aku akan traktir kamu seminggu di warung 'A' " ucap Angga


"iya bener Ton....kamu juga bisa pakai motorku yang baru selama sebulan, bagaimana?" ucap Bian


Bian sengaja melakukannya karena tadi ia tahu Dina ke toilet cewek yang berada di sebelah toilet yang dipakai oleh Toni. Bian hanya ingin melihat Dina hancur, dan tak mau berdekatan dengan Toni kembali.


Bian sengaja menggunakan motornya sebagai bahan taruhan, karena ia tahu Toni juga sangat menginginkan motor itu. Selain itu Angga juga menawarkan mentraktirnya di sebuah warung yang menjadi favorit Toni.


Semua itu sebenarnya hal-hal sepele bagi Toni dan tidak sebanding dengan perasaannya terhadap Dina. Namun ia bingung kenapa Bian dan teman-temannya sengaja mendatanginya ke toilet hanya untuk menawari taruhan seperti itu setelah sekian lama mereka tidak berbicara lagi.


Toni sadar pasti Bian mengetahui sesuatu. Toni berpikir keras, dan akhirnya tahu Dina pasti berada di toilet sebelahnya. Toni bergegas keluar toilet.

__ADS_1


Ia mendengar seseorang memanggil Dina "Dina....." Toni mempercepat langkahnya namun ia hanya mendapati Dina sekilas menatapnya dengan tatapan marah sambil berlalu dari toilet.


"Dina...!" Toni setengah berteriak memanggil Dina " ah....sial..." jangan-jangan Dina dengar apa yang anak-anak tadi bicarakan" Toni mengusap kasar rambutnya frustasi.


Toni frustasi, ia benar-benar marah sedih dan kecewa. Kemudian Bian dan teman-temannya keluar dari toilet dengan senyum kemenangan. Toni bingung kenapa Bian melakukan semua ini, apa maksudnya.


Kenapa Bian selalu saja mengganggu Dina. Setelah sekian lama mereka tak lagi berteman, tiba-tiba Bian bertindak seperti itu setelah Toni dan Dina dekat kembali.


"kamu pasti sudah tahu kalau Dina ada di sebelah?! Iya kan?!" ucap Toni dengan kilatan amarah di matanya


"kalau iya, memangnya ada apa?" tanya Bian dengan senyum sinisnya


"sebenarnya apa maksudmu, sejak dulu kamu selalu berusaha memisahkan aku dengan Dina, hah?!" Toni benar-benar marah, kesabarannya telah habis


"hahahhaha....Toni....Toni...." Bian dan teman-temannya berlalu meninggalkan Toni dengan tertawa penuh kemenangan


Toni ingin sekali menghajar Bian hingga babak belur, tapi ia urungkan karena masih di area sekolah.


Ia tak mau terkena masalah dengan pihak sekolah. Dan juga ia tidak mau mamanya marah besar terhadapnya. Ia sudah cukup lelah menghadapi mamanya yang sering mengatur-atur hidupnya sesuka hatinya tanpa mempedulikan perasaan Toni.


.


.


.


B e r s a m b u n g


Baca juga di 'PACARKU ADIK KELASKU' biar ceritanya nyambung ya...

__ADS_1


Thank you bestie...


__ADS_2