Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 179 Berebut sapu


__ADS_3

"baru training kan? Biar papa yang bayar pinaltinya, kamu kerja di perusahaan papa saja mulai senin besok" papanya Toni menengahi


Dina menghela nafasnya ia rasa ia akan kalah dalam perdebatan ini, bagaimanapun juga ia sekarang sudah tak bisa memutuskan semuanya sendiri, ia harus meminta ijin pada Toni juga pada calon mertuanya.


"biarkan Dina yang menentukan Yan...dia yang akan menjalani, kita sebagai orang tua tidak bisa memaksa" mamanya Dina akhirnya ikut berbicara, ia kasihan dengan Dina.


"baiklah....tolong beri aku waktu menyelesaikan masa trainingku, hanya tiga bulan, setelah itu aku akan menjadi asisten kak Vanya" Dina menyerah, ia sudah kehilangan semangatnya.


"tapi sayang....kota S itu jauh...a.." ucapan Toni terhenti


"baiklah....aku tidak akan memaksamu lagi, lakukan apa yang membuatmu bahagia, aku tidak ingin calon menantuku tidak bahagia, jika kamu berubah pikiran datang saja ke kantor Vanya" akhirnya papanya Toni membiarkan Dina menentukan apa yang akan ia lakukan. Dina menatap papanya Toni dengan senyum yang mengembang


"tapi pa..." protes Toni


"sudahlah Ton....biarkan Dina menjalani apa yang telah ia mulai, kalian sudah bertunangan tak ada lagi yang perlu kamu kawatirkan lagi" papapnya Toni memotong ucapan Toni


"begitu lebih baik, aku juga tidak begitu menyetujui Dina bekerja di kota S sementara Toni di kota J, tapi Dina sudah dewasa aku yakin dia tahu apa yang baik untuknya" timpal papanya Dina


"kalau begitu untuk tanggal pernikahan kalian kita bicarakan 3 bulan lagi, jika sekarang pasti akan berdebat kembali" ucap mamanya Dina sambil terkekeh.


Semuanya menyetujui apa yang diucapkan oleh mamanya Dina kecuali Toni. Ia kecewa dengan Dina karena tidak jujur padanya.


Acara lamaran yang menegangkan namun berakhir bahagia pun selesai. Rombongan keluarga Toni berpamitan untuk pulang.


"aku di sini dulu pa...ada yang mau aku bicarakan dengan Dina" ucap Toni ketika berada di halaman rumah Dina


"baiklah...kalau begitu Ridwan nanti biar kembali ke kota J bersama sopir kantor" ucap papanya


Toni kembali ke dalam rumah Dina, ia pun menghampiri Dina yang tampak membereskan semua makanan di ruang tamu.


"ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ucap Toni dengan wajah serius


"bicaralah...." Dina masih sibuk menyapu


"jangan di sini..." ucap Toni. Dina menatap Toni, wajah Toni terlihat serius.


"baiklah...bantu aku beres-beres dulu, aku ganti baju dulu sebentar"

__ADS_1


"eh...jangan ganti" Toni mencekal tangan Dina. Dina mengerutkan dahinya, bingung kenapa dia tidak boleh berganti pakaian


"aku nggak nyaman kalau pakai kebaya Ton..." ucap Dina lembut.


Toni melepaskan cekalan tangannya membiarkan Dina masuk ke kamarnya untuk bergaanti pakaian. Sedangkan Toni mengambil alih apa yang dikerjakan oleh Dina.


Tiba-tiba mamanya Dina menghampiri Toni "kenapa kamu yang menyapu? Dina kemana?" Mamanya Dina merebut sapu yang depegang oleh Toni


"eh...tante jangan...biar aku saja..." Toni kembali mengambil sapu yang dipegang oleh mamanya Dina "Dina sedang berganti baju tante...."


"tapi ya...jangan kamu disuruh menyapu begini, direktur kok disuruh menyapu" gerutu mamanya Dina


"itu kan di kantor, kalau di rumah saya biasa mengerjakan semua sendiri" Toni masih menyapu "setelah ini saya minta ijin untuk mengajak Dina keluar bolehkah tante?"


"boleh...asal jangan pulang malam-malam" mamanya Dina kembali lagi ke dalam


Dina pun keluar dari kamarnya, sudah berganti baju memakai rok jeans di atas lutut dan kemeja warna putih. Ia pun mengambil lagi sapu yang dipegang oleh Toni, melanjutkan menyapu yang tinggal sedikit.


.


"aku ganti baju sebentar" Toni mengambil tas yang ada di kursi belakang kemudian mengganti kemejanta dengan kaos yang lebih santai.


Toni membawa Dina ke air terjun saat ia menyatakan perasaannya pada Dina. Kini tempat itu jauh lebih bersih lebih rapi daripada terakhir kali mereka ke sana. Ada beberapa gubuk kecil dan juga sudah ada yang berjualan di sana.


Suasana di sana sedikit ramai karena hari libur. Toni mencari tempat yang sepi, karena ia ingin berbicara dengan Dina tanpa adanya gangguan.


"sekarang mau bicara apa?"


"masih ingat tempat ini kan?" tanya Toni menatap sekelilingnya


"masih...."


"di tempat ini pertama kalinya aku menyatakan perasaanku padamu hari ini kita ke sini lagi dengan status berbeda, terima kasih sayang...." Toni menggenggam tangan Dina "kamu telah memberikan kesempatan kedua untukku, terima kasih karena sampai hari ini kamu tetap sabar menghadapi aku yang kadang mudah marah"


Dina tersenyum "iya....terima kasih juga kamu telah membuktikan jika kamu telah berubah, dan tetap menyayangiku sampai detik ini"


"hari ini aku bahagia, satu tahap dalam hidupku telah terlalui" Toni mencium kening Dina penug perasaan.

__ADS_1


"tapi ada satu hal yang membuat aku kecewa" Toni melepaskan genggamannya


Dina menghela nafasnya "aku tahu....saat itu aku tidak punya pilihan lain, aku ingin mencoba tes itu, sedangkan kedua orang tuaku telah mendukung semua rencana yang sudah aku buat" ucap Dina lirih


"kenapa kamu enggak cerita kalau mau pergi? Aku sudah seperti orang gila mencarimu kemana-mana, aku takut terjadi sesuatu denganmu sayang....kamu ngerti nggak sih?"


"iya....maaf....saat itu aku berpikir jika aku cerita ke kamu pasti kamu melarangku pergi" cicit Dina


"itu sudah tahu.....tapi setidaknya kamu menulis pesan atau apalah....itu sama halnya kamu tidak menganggap aku ada..." Toni menahan emosinya


"iya...maaf...." hanya itu yang bisa Dina ucapkan "kamu mau kan memaafkan aku?" Dina menangkup kedua pipi Toni dan menatapnya lekat-lekat


"iya...iya....jangan kamu ulangi lagi...aku calon suami kamu, apapun itu tolong beritahu aku....aku kawatir setengah mati Din...." Toni memegang tangan Dina


"kamu serius ke kota S? Kapan kamu berangkat?" Toni sudah merubah nada bicaranya


"kamis besok aku berangkat, aku harus mencari kos di sana"


"kamis? Baiklah...aku akan membantumu mencari tempat tinggal sementara di sana" Toni mengambil ponselnya di kantong kemudian mulai menelpon satu per satu temannya yang ia tahu berada di kota S


"jangan berlebihan, aku bisa sendiri... "


"sayang....kamu itu tunanganku, calon istriku, sekarang kamu sudah menjadi tanggung jawabku" ucap Toni lembut "aku juga akan mengantarmu ke sana besok"


"hah....pekerjaan kamu bagaimana?" Dina panik, ia sebenarnya malas jika pergi dengan Toni, ia tidak leluasa menikmati suasana di kota yang baru ia datangi


"sudah...jangan dipikirkan, ada Ridwan..."


"baiklah...." Dina lesu, semua rencana yang telah ia susun hancur berantakan karena Toni. Tapi mau bagaimana lagi, jika ia menolak ia takut tiba-tiba ia mendatangi tempat Dina bekerja dan membayar pinalti. Kalau sudah begitu Dina tidak bisa bekerja di tempat yang ia inginkan.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2