Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 175 Ponselku rusak


__ADS_3

Empat hari sudah Toni tidak mendapatkan kabar dari Dina. Ia sudah kehilangan akal, ia bingung tak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang ada dipikirannya sekarang adalah ia mendatangi orang tua Dina.


Ia berharap Dina ada di rumah kedua orang tuanya, jika tidak ada ia terpaksa harus jujur kepada kedua orang tua Dina. Ia terima jika nantinya papanya Dina kan marah kepadanya.


Meski bukan sepenuhnya kesalahan dia, namun Toni siap jika harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya menjaga Dina. Ia benar-benar pasrah jika semua tak seperti yang ia harapkan.


Sepulang dari kantor, Toni langsung berangkat ke kota K. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah ramainya lalu lintas yang padat di saat jam pulang kerja.


Tak sampai dua jam, Toni sudah sampai di rumah Dina. Ia benar-benar sudah siap menerima semua amukan dari papanya Dina. Ia pun masuk mengetuk pintu samping rumah Dina.


Dan Dina lah yang membuka pintu itu. Toni terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan langsung memeluk Dina.


"sayang....kamu kemana saja? Aku seperti orang gila mencari-cari kamu" Toni memeluk Dina sangat erat. Dina hanya diam, hatinya tercubit mendengar ucapan Toni seperti itu.


"ehem..." terdengar suara bariton seorang pria, Toni buru-buru melepaskan pelukannya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


"malam om..." ucap Toni sopan


"malam...." ucap papanya Dina datar "kalau mau bicara di depan atau di ruang tamu jangan di depan pintu" papanya Dina kemudian meninggalkan mereka berdua


Dina pun berjalan keluar, seperti biasa mereka berdua duduk di teras rumah. "jadi kemana saja empat hari ini?" tanya Toni dengan wajah sendu namun ada kilatan marah di matanya


"memangnya kamu lihat aku ada dimana?" Dina tersenyum mencoba mencairkan suasana, ia tahu Toni sedang marah padanya. Dina tahu ia salah karena sudah pergi tanpa pamit ke Toni.


"kenapa tidak mengabariku? Aku telepon nomermu tidak aktif" Toni dengan nada kesal


"ponselku rusak Ton..." kilah Dina, padahal dia sengaja menonaltifkan ponselnya agar Toni tidak terus-terusan bertanya

__ADS_1


"ayo ikut aku" Toni beranjak dari tempat duduknya kemudian menarik tangan Dina


"eh....mau kemana?" Dina menarik tangannya


"beli ponsel baru untukmu" Toni menahan marahnya


"ck..." Dina berdecak "tidak perlu, aku sudah memperbaikinya, sekarang sudah baik-baik saja" Dina menyembunyikan kegugupannya


Toni pun duduk kembali, ia memperhatikan Dina, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dina, namun ia masih belum tahu apa itu.


"hari minggu besok aku dan keluargaku akan datang ke sini untuk melamar kamu, meski kita sudah bertunangan waktu itu, tapi aku harus memintamu baik-baik kepada kedua orang tuamu" ucap Toni mulai lembut, ia tak ingin Dina tiba-tiba marah dan merusak rencananya dan papanya.


"iya aku sudah tahu....makanya aku pulang" akhirnya Dina menemukan alasan yang tepat kenapa ia pergi tanpa kabar


Toni mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Dina. Ia tidak menyangka Dina mempersiapkan dirinya untuk menyambut kedatangan dirinya dan keluarganya.


Toni pun meminta ijin kepada kedua orang tua Dina untuk mengajak Dina keluar untuk malan malam. Ia ingin melepas rindu bersama Dina. Empat hari tidak tahu kabar Dina membuat ia gila.


"aku sudah seperti orang gila yang mencari kekasihnya yang tidak tahu ada dimana, dan sekarang aku tidak akan melepaskan kamu lagi"


Dina menghela nafasnya "baru juga empat hari, dulu aku berminggu-minggu diabaikan juga biasa saja, sekarang baru tahu rasanya kalau diabaikan" ucap Dina ketus


"kenapa mengungkit yang dulu-dulu?" Toni kesal karena Dina mengungkit lagi ketika ia terlalu larut dalam kesibukannya dan mengabaikan Dina.


"makanya jangan memulai duluan, kalau nggak mau terima akibatnya Dina semakin kesal.


----------------

__ADS_1


Hari minggu telah tiba, acara lamaran Dina akan diadakan pukul sepuluh pagi. Di rumah Dina sudah terjadi kesibukan sejak pagi, mempersiapkan jamuan untuk menyambut keluarga Toni.


Papanya Dina hanya mengundang kakak tertuanya sebagai saksi atas lamaran tersebut. Sebenarnya Dina tidak menyukainya namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Di rumah Toni juga sedang terjadi perdebatan antara Toni dan kakaknya Vanya. Mereka berdua meski sudah sama-sama dewasa namun mereka masih seperti anak kecil ketika berkumpul.


Mereka memperdebatkan masalah pakaian yang harus Toni pakai, dan juga memperdebatkan masalah-masalah kecil lainnya.


"apa kalian ini tidak malu dengan umur kalian? Masih saja bertengkar untuk hal yang sepele" papanya Toni menyela "sudah ayo berangkat"


Akhirnya kedua saudara itu berhenti berdebat dan mengikuti papanya keluar menuju mobilnya. Papanya Toni mengajak serta Mbok Nah, Ridwab serta asisten pribadinya untuk membawa barang-barang hantaran mereka yang cukup banyak.


Pukul sepuluh kurang lima menit, rombongan keluarga Toni sudah sampai di rumah Dina. Mereka pun dipersilahkan masuk oleh adik Dina.


Dina pun keluar dengan digandeng mamanya, Toni tak berkedip, ini kal8 kedua ia melihat Dina berdandan dan terlihat begitu cantik. Memakai kebaya berwarna peach serta kain batik, rambutnya disanggul modern dengan make up tipis namun terlihat begitu cocok di wajah Dina.


"untung kamu ikuti apa kata kakak, kalau tidak kasihan Dina sudah berdandan cantik namun kamu datang hanya pakai kemeja ala kadarnya" bisik Vanya dan mendapat tatapan tajam dari Toni.


Tatapan Toni kembali lagi tertuju pada Dina, yang kali ini terlihat malu-malu dan hanya menunduk sejak tadi. Padahal mereka berdua sudah sering menghabiskan waktu bersama namun kenapa kali ini Dina terlihat malu-malu.


Rasanya Toni ingin sekali menarik tangan Dina, dan mengajaknya ke rumah dan menguncinya di dalam kamar. Ia merasa sangat gemas, dan sudah tidak sabar untuk segera menikahi Dina.


Tak ada keinginan lain dihatinya selain segera menikahi Dina. Ia sudah tidak sabar menantikan Dina menjadi miliknya seutuhnya, tanpa harus takut kepada kedua orang tya Dina jika ia ingin bermesraan dengan Dina.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2