
Satu setengah jam Toni menunggu Dina di depan ruang siadang bersama sahabat-sahabat Dina. Toni pun sebenarnya juga merasa cemas, jika Dina tidak lulus sekarang maka semua rencananya akan gagal.
Sejujurnya Toni sudah lelah menunggu, ia ingin segera menikahi Dina. Ia terlalu mencintai Dina, ia tak ingin pengorbanannya berakhir sia-sia. Usianya memang masih terlalu muda, namun ia telah siap menikahi Dina.
Toni memang ingin menikah muda, sedangkan Dina tak ingin menikah muda. Belum lagi papanya yang selalu menanyakan kapan ia akan kembali ke kota K untuk mengurus perusahaan.
Pintu ruang sidang terbuka, Dina keluar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya, ia duduk di sebelah Toni.
"bagaimana Din...?" Berta menghampiri Dina
Dina menggelengkan kepalanya "entahlah...aku nggak tahu..."
Toni membeli punggung Dina, ia tak berani mengatakan apapun. Saat ini yang Dina butuhkan bukan pertanyaan atau kata-kata motivasi.
Lima belas menit berlalu, Dina dipanggil masuk kembali ke ruang sidang. Tak sampai sepuluh menit, Dina sudah keluar lagi dengan wajah yang lebih ceria namun seperti masih ada raut kesedihan.
"bagaimana...bagaimana....?" Caca langsung menghampiri Dina
"lulus...sih...." Dina duduk di sebelah Toni
"kok seperti nggak yakin begitu?" tanya Ratna
"aku disuruh memilih...lulus dengan nilai kurang atau mengulang lagi" ucap Dina sedikit sedih
"terus..." Berta tak sabar
"aku pilih lulus tapi dengan nilai kurang memuaskan..." ucap Dina sendu
Toni menarik Dina dalam pelukannya "tak peduli nilai tugas akhir kamu jelek, kamu sudah berusaha, aku senang kamu memilih lulus sekarang" Toni mengembangkan senyumnya
Dina melepaskan pelukan Toni "itu kan mau kamu..." Dina tampak kesal "kalau aku cepat lulus kamu yang untung"
Toni terkekeh "kamu masih ingat kata-kata papa kan?"
__ADS_1
"kalian ini...ada aja....yang diributkan" Ratna menggeleng-gelengkan kepalanya
"sudah...sudah...ayo kita rayakan kelulusan Dina...aku traktir kalian di restoku sepuasnya..." Toni beranjak dari duduknya
Dina tampak kesal melihat Toni yang terlihat sangat bahagia "selamat ya sayang kami sudah lulus...." Toni menarik tangan Dina kemudian mengecup kening Dina.
Toni membawa Dina dan teman-temannya ke restonya. Teman-teman Dina begitu senang karena bisa makan sepuasnya di LouAn resto yang makanannya terkenal enak.
"aku tinggal ya...kalian nikmatilah makanannya" ucap Toni meninggalkan Dina dan teman-temannya.
Dina menghapus kesedihannya, untuk apa ia meratapi apa yang telah ia pilih. Baginya yang terpenting adalah telah lulus kuliah kini tinggal ia mencari pekerjaan seperti yang ia inginkan selama ini.
Mereka berempat bercanda, sesekali bernyanyi mengikuti alunan musik yang diputar di resto tersebut. Toni sengaja menempatkan mereka di bagian belakang resto yang jarang ditempati oleh pengunjung. Sekaligus tempat favorit Dina jika berada di sana karena cenderung sepi namun masih bisa menikmati pemandangan alam di sekitarnya.
Tak terasa sudah sore menjelang malam. Mereka berempat terlihat sedikit mabuk, Toni mengijinkan Dina minum anggur namun hanya sedikit hanya untuk merayakan kelulusannya, namun Dina sepertinya tidak mendengarkan ucapan Toni.
"sudah hampir malam, sebaiknya kalian pulang biar nanti sopir yang akan mengantar kalian" Toni mendekati Dina
"hemmm...aku ingin tidur bersama mereka..." ucap Dina
"kalian pulanglah...biar Dina aku yang urus" ucap Toni sambil mengangkat tubuh Dina "oohh iya...ini Diki yang akan mengantar kalian" Toni kemudian meninggalkan ketiga sahabat Dina dan menggendong Dina keluar restorannya ke vila pribadinya.
Dalam gendongan Toni, Dina tertidur, Toni hanya tersenyum menatap wajah Dina yang terlihat lelah. "Tinggal satu langkah lagi Din, dan kamu akan menjadi milikku selamanya"
Toni membaringkan Dina di tempat tidurnya. Kemudian ia meninggalkan Dina agar bisa beristirahat. Toni keluar kamar ke ruang tengah, sambil ia menunggu Dina bangun ia pun memeriksa laporan restoran mereka. Toni terlalu lelah, ia pun tertidur di sofa.
Dina mengerjapkan matanya melihat sekeliling, semua tampak gelap. Dina mencoba bangun, ia merasakan kepalanya sedikit pusing. Dina berjalan keluar kamar mencari keberadaan Toni.
Dina pun mendekati Toni yang terlihat tertidur di sofa. Perlahan ia duduk di sebelah Toni, menatapnya dalam-dalam. Dina memang telah memantapkan hatinya menerima Toni. Namun hati kecilnya masih belum bisa melepaskan masa lalunya.
Toni terusik, ia pun membuka matanya dan mendapati Dina duduk di sampingnya.
"kamu sudah bangun?" Toni menegakkan duduknya
__ADS_1
Dina tersenyum "sudah sejak tadi, kalau kamu lelah kenapa nggak tidur di kamar?"
"aku tadi memeriksa laporan kondisi restoran tiba-tiba mengantuk"
"istirahatlah...mau aku buatkan sesuatu?" tanya Dina lembut
"sayang....minggu depan aku juga akan ujian tesisku...aku ingin kamu menemaniku" ucap Toni lembut dengan tatapan teduh
"pasti...pasti...jika kamu lulus berarti kita bisa wisuda bulan depan" ucap Dina kemudian ia memeluk Toni, mencoba menghilangkan bayangan masa lalunya.
"iya sayang...." Toni membelai Dina. Toni merasa kali ini Dina terlihat berbeda, ia merasa Dina memikirkan sesuatu namun Dina tak menceritakannya pada Toni.
Toni memeluk Dina mencium puncak kepalanya. Ia sedikit kawatir, Dina akan berubah pikiran dan akan meninggalkannya lagi. Tapi melihat Dina mengeratkan pelukannya, Toni merasa bingung.
"ada apa hemm...?" tanya Toni lembut
"nggak ada apa-apa, hanya ingin memelukmu saja, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama" ucap Dina menyembunyikan wajahnya di dada Toni.
"yakin....hanya itu saja? Nggak ada yang ingin kamu ceritakan?"
"memangnya apa yang harus aku ceritakan?"
"entahlah...mungkin ada yang mengganggumu?"
"nggak ada...nggak ada..." Dina tak ingin menceritakan apa yag pernah ia alami dan sampai sekarang masih mengusik pikirannya.
Dina hanya tak ingin menambah masalah. Ia tahu perangai Toni, jika Dina menceritakannya pasti Toni akan bertindak seperti yang ia takutkan.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g