
Dina beranjak dari duduknya, ia ingin menjernihkan dulu pikirannya. Ia tak mau salah ucap dan akan membuat keadaan semakin rumit. Bukannya ia salah namun, menghadapi Toni yang sedang emosi membutuhkan kesabaran dan otak yang dingin.
"kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara!" Toni sedikit membentak Dina
Dina hanya bisa menghela nafasnya, ini yang tidak ia sukai dari Toni, selalu mengedapankan emosinya "aku mau mandi dulu, biar kepalaku lebih dingin...." ucap Dina yang kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Toni yang masih emosi, hanya bisa menarik rambutnya frustasi. Ia pun teringat ketika tadi sore ia sangat bersemangat memberikan kejutan untuk Dina.
FLASHBACK ON
Toni sampai di kota S sekitar pukul tiga sore, ia juga sudah mengabari teman baiknya Deni si sopir taksi. Ia berjalan keluar dari area kedatangan kemudian ia mencari keberadaan temannya itu.
"Ton..." Deni melambaikan tangan dari kejauhan
Toni tersenyum kemudian berjalan menghampiri Deni yang berdiri di antara banyak sopir taksi.
"kenapa kami begitu lama tidak datang kemari?" tanya Deni
"ada masalah di perusahaanku Den..."
Mereka berdua pun berjalan ke arah taksi Deni terparkir, Deni membawa Toni keluar dari stasiun.
"apa kamu tidak rindu dengan Dina?" goda Deni
"jangan ditanya kalau itu" Toni terkekeh "oh...ya...bagaimana Dina? Apakah selama aku tidak ke sini dia sering pergi?"
"dia itu sepertinya tipe cewek rumahan ya...rutinitas dia setiap hari ya cuma pergi ke kantor, pulang pun juga paling mampir di swalayan jarang sekali iaa pergi untuk sekedar jalan-jalan" terang Toni
"ya...begitulah Dina...tap apa ia cerita kalau dia juga rindu?"
Deni tergelak "kadang-kadang ia bertanya, apa kamu sering menghubungi aku, atau cuma bilang 'kira-kira kapan Toni ke sini' itu saja"
Senyum Toni melebar, kerinduan di dalam dadanya sudah benar-benar tak dapat ia tahan. Ia terpaksa sedikit mengabaikan Dina karena masalah perusahaan yang sangat serius yang tak mungkin ia tinggalkan.
__ADS_1
"kita makan dulu...aku belum makan siang tadi" ucap Toni
Deni mengajak Toni makan di cafe waktu Dina mengajaknya makan waktu itu. Deni juga menceritakan ia pernah diajak Dina sekali makan di sana karena Dina kesepian butuh teman mengobrol.
Toni sedikit cemburu namun ia juga menyadari, Dina di sini sendirian tak punya teman dekat atau saudara, Toni pun menepis rasa cemburunya itu.
Mereka berdua makan sambil mengobrol. Deni menceritakan apa yang ia ketahui tentang Dina selama 2 bulan terakhir, apa aktivitasnya, keluh kesah Dina, namun ia tak menceritakan perihal Bimo yang pernah membuat Dina terusik. Ia menepati janjinya pada Dina, ia hanya ingin menjaga kepercayaa Dina pada dirinya.
"ayo kita jemput Dina..." ucap Toni bersemangat.
Deni pun melajukan mobilnya ke kantor Dina. Sesampainya di sana, Deni memarkirkan taksinya di tempat ia biasa menunggu Dina.
"sebentar lagi jam Dina pulang kantor..." ucap Deni
"kirim pesan padanya kalau kamu sudah menunggu, jangan bilang kalau aku ada di sini"
Deni pun melakukan perintah Toni. Mereka berdua menunggu di dalam taksi, mata Toni menatap ke arah pintu keluar gedung perusahaan tempat Dina bekerja.
Tangannua terkepal, Bimo berada di sana, di tempat Dina bekerja. Kemudian ia melihat kembali ke arah pintu lobi perusahaan itu, terlihat Dina berjalan keluar.
Toni masih memperhatikan apa yang Dina lakukan, ia kawatir Dina menghampiri Bimo. Ternyata Dina melewati mereka berdua begitu saja. Namun tiba-tiba Dina ditarik dengan kasar oleh Bimo. Toni tidak terima, ia bisa melihat Dina hanya diam tak berusaha pergi dari sana.
Rasa cemburunya telah mengalahkan kesabarannya, ia pun keluar dari mobil dan berjalan ke arah Dina. Toni bisa melihat jika kedatangannya membuat Dina tersenyum bahagia.
Namun dua orang cowok yang dari tadi berdebat sepertinya tidak suka dengan Toni. Toni tak peduli setelah mengatakan jika dirinya adalah tunangan Dina, ia pun menarik tangan Dina dan mengajak Dina pulang.
FLASHBACK OFF
Setelah selesai mandi, Dina tak langsung menghampiri Toni yang masih duduk di ruang tamu. Dina berjalan ke arah dapur kemudian mulai memasak untuk makan malam mereka.
Dina masih mendiamkan Toni, biarlah emosi Toni mereda dulu baru ia berbicara dengan Toni pikirnya. Namun Toni yang masih belum mendapat jawaban dari Dina menghampiri Dina di dapur.
Toni mematikan kompor "kita beluk selesai bicara" ucap Toni dingin
__ADS_1
"mandilah dulu...aku siapkan makan malam..." ucap Dina tanpa menatap Toni
"Din...!" Toni menahan amarahnya, Dina hanya diam mengacuhkan Toni kemudian ia melanjutkan memasak kembali.
Toni semakin dibuat frustasi ia menarik menyugar rambutnya kasar, "kalau kamu masih emosi, aku nggak akan bicara" ucap Dina tanpa menoleh ke arah Toni.
Toni mendesis kesal, kemudian ia meninggalkan Dina di dapur kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Dina menghela nafasnya, ia tahu hari ini pasti akan tiba. Ia sudah siap jika Toni marah, namun semua di luar kendali dirinya.
Lima belas menit berlalu Toni sudah selesai mandi, ia memakai setelan rumahan, kemudian ia duduk di pantri menunggu Dina menyiapkan makanan.
Dina sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia sengaja memasak makanan kesukaan Toni kemudian meletakkan makanannya di meja. Dina pun mencuci tangannya kemudian ia duduk di hadapan Toni.
"dari tadi kenapa kamu menghindar dari pertanyaank?" ucap Toni yang tak lagi emosi seperti tadi
"makanlah dulu..." ucap Dina sambil meletakkan sepiring nasi di hadapan Toni.
Mau tidak mau Toni makan terlebih dahulu. Di hadapannya ada beberapa menu, yang semua itu makanan kesukaannya. Toni tersenyum dalam hati "ternyata meskipun kamu marah masih memikirkan aku sayang..." batin Toni.
Setengah jam berlalu, mereka berdua telah selesai makan dan Dina juga telah selesai merapikan peralatan makan dan memasaknya. Mereka berdua pun duduk di ruang tamu. Dina masih diam, sebab sebenarnya ia kesal karena Toni telah membentaknya.
"pertanyaanku tadi belum kamu jawab" ucap Toni tanpa menatap Dina
"aku harus jawab apa? Semua di luar kendaliku, jika aku bertemu dengan mantanku itu juga di luar kendaliku, jika ternyata aku satu kantor dengannya itu juga di luar kendaliku, andai aku tahu dia di sana, pasti aku juga tak akan menerima pekerjaan itu" ucap Dina datar
Kata-kata dari Dina masih belum bisa dicerna oleh Toni dengan baik. Mungkin karena rasa cemburu dan emosi membuat pikirannya tidak bisa diajak kerja sama
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1