
Keesokan harinya, Dina terbangun dengan kepala yang terasa pusing serta mual. Meski tidak sampai mabuk, namun efek alkohol itu membuatnya pusing dan merasakan sakit di perutnya.
Karena tak tahan dengan rasa mualnya, Dina pun berlari ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Toni yang mendengar Dina muntah pun segera berlari menyusul ke kamar mandi.
Dina memuntahkan semua isi perutnya, ia terduduk lemas di lantai kamar mandi. "Sayang kamu kenapa?" Toni pun mendekat, kemudian mengangkat tubuh Dina dan membawanya ke tempat tidur.
"kepalaku pusing, perutku mual sekali" ucap Dina lirih
"sebentar..."
Toni menelpon layanan kamar, ia meminta air jahe hangat serta obat mual untuk Dina. Kemudian ia mengambil bajunya dan memakainya karena tak mungkin ia membuka pintu tanpa memakai pakaian.
Tak lama pintu diketuk, Toni membukakan pintu dan mengambil pesanannya. Ia memberikan air jahe hangat pada Dina. Kemudian memberikan obat mual untuknya.
"sudah lebih baik?" tanya Toni dan dijawab anggukan oleh Dina. "istirahatlah dulu...." Toni menarik selimut dan menyelimuti tubuh Dina.
"sayang...temani aku..." Dina menarik tangan Toni. Toni pun mengerti ia merebahkan tubuhnya di sebelah Dina, kemudian memeluknya dan membelai kepala Dina.
"bagaimana kalau pernikahan kita dipercepat?" ucap Toni lembut sambil membelai kepala Dina
"jangan....aku ingin ditunda dulu..." ucap Dina lirih
"sayang....ucapan papa ada benarnya, sebaiknya kita mempercepat pernikahan kita, kita sudah sering melakukannya, tidak menutup kemungkinan jika kamu tiba-tiba hamil" ucap Toni lembut
"tidak...aku yakin tidak...aku masih meminum pencegah kehamilan sampai sekarang" ucap Dina menyembunyikan wajahnya di dada Toni
"apa kamu tidak ingin memiliki anak denganku?" Toni menahan rasa kecewanya karena sampai detik ini pun Dina masih meminum pil itu. Padahal pernikahan mereka sudah di depan mata. Bagi Toni tak masalah jika Dina hamil duluan, itu malah semakin mempermudah dirinya untuk mempercepat pernikahan mereka
"kamu sudah tahu alasanku, aku akan berhenti meminumnya jika aku merasa sudah siap, aku janji itu" Dina mengeratkan pelukannya.
"ah...aku lupa belum mengabari orang tuaku" Dina mengurai pelukannya
"semalam aku sudah mengabari kedua orang tuamu jika kamu menginap di sini bersama teman-teman yang lain, orang tuamu juga berpesan agar aku menjagamu" ucap Toni lembut
"tapi ini sudah siang, aku mau bersiap ke kantor" Dina beranjak dari tidurnya
__ADS_1
"apa kamu lupa kalau hari ini kantor diliburkan" Toni terkekeh
"oh...iya aku lupa..." Dina kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
"tolong ambilkan baju gantiku di mobil, setelah itu antar aku ke dokter" ucap Dina lirih
Toni pun mengambil kunci mobil Dina dari dalam tas Dina kemudian ia keluar dari kamar. Dina pun segera bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Ia ingin ke dokter karena beberapa hari ini sepertinya penyakit lamanya kambuh. Perutnya sering terasa perih dan juga sering mual.
.
Hari pernikahan Dina tinggal satu bulan lagi. Semua persiapan sudah hampir selesai. Untuk acara pengucapan ikrar janji suci mereka Dina dan Toni memilih sebuah Kapel di pinggiran kota K. Kapel di sebuah bukit dengan nuansa alam dengan pemandangan indah. Untuk resepsinya Tuan Yanuar meminta diselenggarakan di Hotel bintang lima miliknya. Orang tua Dina keberatan, namun Tuan Yanuar memaksa karena tamu yang akan mereka undang sangatlah banyak makan butuh tempat yang sangat luas.
Toni dan Dina semakin dekat, tak ada lagi pertengkaran atau perselisihan di antara mereka. Mereka semakin lengket terbukti jika ada kesempatan mereka selalu menyempatkan untuk bercinta entah di ruang kerja Toni, ruang kerja Dina atau bahkan di mobil.
Tak ada rasa bosan bagi mereka berdua. Mereka semakin bersemangat karena sudah mendekati hari pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
"sayang....hari ini kita harus ke butik untuk fitting baju pengantin" ucap Dina mengingatkan
Mereka telah bertemu klien, tepat jam dua siang Toni mengemudikan mobilnya ke sebuah butik terkenal, yang tak lain tak bukan adalah milik Vanya.
Gaun pengantin yang akan dipakai oleh Dina khusus dirancang oleh Vanya. Dari dulu Vanya menyukai fashion, meski ia bukan perancang busana terkenal namun rancangan-rancangannya tak pernah mengecewakan.
Toni dan Dina memasuki butik tersebut dan langsung disambut oleh Vanya sendiri. "Aku kira kamu jadi membatalkan acara ini" cibir Vanya
"kenapa kamu mendoakan aku yang jelek-jelek..." Toni tak terima
"bagi kamu mendapat Dina itu sebuah anugerah namun bagi Dina itu adalah sebuah musibah, anak nakal dan manja begini bisa dapet calon istri seperti bidadari" cibir Vanya sambil menggandeng tangan Dina masuk ke dalam butik
"iri bilang....kalau iri cepatlah cari calon suami" sindir Toni dan mendapat tatapan tajam dari Vanya.
Vanya kemudian menyuruh pegawainya untuk mengambil gaun yang sudah ia buat khusus untuk Dina. Tak menunggu lama pegawai Vanya pun membawa dua buah gaun pengantin dan juga dua buah setelan jas untuk Toni dan Dina.
"ini yang desain simpel dan sedikit tertutup namun tetap ada kesan mewah ini untuk acara pemberkatan, sedangkan yang satunya yang lebih terbuka dan glamor untuk acara resepsi" terang Vanya "sekarang cobalah dulu kalau ada yang mau diperbaiki kamu tinggal katakan"
__ADS_1
Dina pun masuk ke ruang ganti dan mencoba satu gaun yang lebih tertutup dan menjuntai panjang namun tetap memiliki kesan mewah.
Dina keluar dari ruang ganti, Toni yang tadi duduk dan membaca majalah mendadak terpesona, Dina terlihat sangat anggun dan juga cantik. Mulut Toni menganga matanya tak berkedip, Dina sungguh cantik.
"bagaimana ada yang kurang?" tanya Vanya
"tidak kak...ini indah sekali... " ucap Dina dengan senyum mengembang
"sekarang ganti untuk gaun yang kedua"
Dina pun menurut, dengan dibantu oleh salah seorang pegawai Vanya Dina memakai gaun kedua. Kemudian ia keluar dan berdiri di hadapan Toni, Toni semakin terkesima, ia tak lagi bisa berkata-kata.
"bagaimana?" tanya Vanya
"indah kak...lantas untuk acara after party bagaimana kak?" tanya Dina
"ini sama seperti kemarin, kamu tinggal lepas pengaitnya" Vanya membuka kaitan rok yang menempel di pinggangnya dan kini menampilkan dress pendek sepaha dengan dada terbuka dengan rumbai-rumbai dari mutiara memberikan kesan seksi dan juga enerjik seperti kepribadian Dina.
"hemm...itu terlalu seksi sayang" protes Toni
Dina mengerucutkan bibirnya "menurutku malah kurang seksi"
"baiklah....nanti aku akan rubah desainnya sedikit, atau untuk after partynya kamu mau dibuat terpisah?"
"kalau ganti baju lagi, ribet kak...aku percaya sama kakak bisa membuat sesuai apa yang aku inginkan" Dina tersenyum
Vanya mulai mencorat-coret di kertas desain yang ingin ia buat untuk Dina. Bukan membuat baru lebih tepatnya merubah sedikit detail pada gaun tersebut.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1