Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 20 Cincin


__ADS_3

Setelah memastikan Dina turun dari mobil, ia kemudian membuka pintu belakang dan mengambil sesuatu dari sana. Dina tidak bisa melihatnya dengan jelas karena terhalang badan mobil.


Setelah Toni mengunci pintu mobil, ia menghampiri Dina. Tangan kanannya menggandeng Dina dan tangan kirinya memegang sebuah gitar. Toni menuntun Dina untuk turun ke sebuah jalan setapak.


"tempat apa ini Ton?" tanya Dina


"tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran" jawab Toni dengan senyum mengembang


"masih jauh?" tanya Dina waktu menuruni jalan setapak


"kamu dengar sesuatu?" tanya Toni lembut


"iya aku mendengar seperti suara air terjun" jawab Dina


"berarti sudah dekat" jawab Toni sambil menuntun Dina turun ke bawah


Mereka telah sampai di sebuah air terjun kecil yang dikelilingi batu-batuan sungai yang cukup besar. Air yang masih jernih membuat mata Dina berbinar.


"jadi ingin mandi di sungai" gumam Dina yang masih di dengar oleh Toni


"kalau mau mandi...mandi saja Din..." Toni terkekeh


"ah...tidak...nanti kamu yang senang melihat aku mandi" Dina mencebik


"duduk di sana ya..." Toni menunjuk sebuah batu besar yang letaknya agak jauh dari air terjun


"tahu dari mana tempat ini Ton?" tanya Dina sambil berhati-hati duduk di atas batu


"sejak SMP, saat itu aku sedang bosan di rumah aku bersepeda tidak tahu arah, malah menemukan air terjun ini"


"di sini setiap pagi kadang ada yang mandi di sini lho..." ucap Toni dengan nada menggoda


Toni duduk di sebuah batu yang berada di hadapan Dina. Toni mulai memetik gitarnya. Kini perasaannya lebih tenang, tidak seperti tadi pagi. Ia ingin mengulang momen indahnya bersama Dina.


Dina mendengarkan alunan petikan gitar yang dimainkan Toni. Dina tersenyum, memang benar yang diucapkan Rani, Toni adalah paket komplit seoarang cowok.


Toni mulai menyanyikan lagu J.A.P lagu yang ia minta Dina mendengarkannya. Dengan penuh perasaan Toni menyanyikan ulang lagu itu. Ia ingin menciptakan moment yang tak bisa dilupakan oleh Dina.


Dina mendengarkan nyanyian Toni dengan binar mata bahagia. Ditemani suara air terjun dan kicau burung di sekitar mereka. Tiba-tiba Toni meletakkan gitarnya dan meraih kedua tangan Dina.


"Princess Jocelyn Andina Prasetya sayang... melalui lagu yang aku nyanyikan tadi, aku ingin bertanya lagi, maukah kamu jadi kekasihku?" tanya Toni sambil menggengam erat tangan Dina.

__ADS_1


Dina tersenyum, sungguh romantis sekali Toni. Ia tak mampu lagi berkata-kata hanya anggukan kepala dan senyuman yang mengembang dari bibirnya sebagai jawaban atas pertanyaan Toni.


Dina tidak pernah membayangkan akan diperlakukan oleh Toni begitu spesial.


"terima kasih..." ucap Toni dengan senyum mengembang


Toni mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kemudian ia mengulurkannya kepada Dina.


"aku tahu, kamu baru saja berulang tahun, ini kado untukmu" Toni menyerahkan kotak kecil berwarna merah marun kepada Dina.


"ini apa Ton? Kenapa harus repot-repot memberi kado" Dina tak henti-hentinya tersenyum


"bukalah...atau aku yang membukakan?" tanya Toni lembut


Dina membuka kotak itu dan betapa terkejutnya, kotak itu berisi sebuah cincin berwarna putih bentuknya sederhana tapi begitu indah di mata Dina.


"sini aku pakaikan...." Toni mengambil cincin yang ada di kotak itu dan memakaikannya di jari manis Dina "ternyata pas..." Toni tersenyum puas.


"sebenarnya, aku ingin mengutarakan perasaanku waktu kamu berulang tahun tempo hari, tapi kamu sepertinya menghindariku, jadi aku mengurungkan niatku"


"lantas kenapa kamu malah menyatakan perasaanmu waktu aku sakit?" tanya Dina dengan tatapan penuh tanda tanya


"semua karena Roy..." ucap Toni berpindah duduknya di sebelah Dina


"dia bilang kalau aku tidak cepat-cepat mengutarakan perasaanku, dia akan merebutmu dariku" ucap Toni menerawang jauh


"ada-ada saja kalian ini..." Dina terkekeh


"aku tahu cerita tentang kalian Din....dan itu membuat aku takut" ucap Toni


Dina menyandarkan kepalanya di bahu Toni "itu cerita lama Ton...ternyata saat aku siap untuk berpacaran aku bertemu dengan kamu" ucap Dina menatap ke arah air terjun


"jadi benar...kamu pernah menyukai Roy?" tanya Toni menahan rasa cemburunya


"iya.. Itu sudah lama, dulu aku cuma berpikir jika aku putus dengannya aku akan kehilangan teman, maka aku dan dia sepakat untuk berteman baik" jawab Dina jujur


"lantas denganku Din...?" tanya Toni menatap Dina yang menyandarkan kepalanya di bahu Toni


"memangnya kenapa?" Dina menegakkan badannya dan menatap Toni


"tidak apa-apa, aku tidak mau berandai-andai kita putus saat kita belum genap sehari berpacaran" Toni terkekeh

__ADS_1


"waktu kamu sakit tempo hari saja aku dicibir Roy" ucap Toni dengan nada kesal


"memangnya ada apa?" Dina menatap Toni heran


"aku dibilang tidak ada romantis-romantisnya..." ucap Toni dengan nada kesal


Dina tergelak, ia tahu Roy seperti apa, memang pantas Toni disebut tidak romantis. Roy tipe yang tidak ingin ada orang yang tahu jika ia mengutarakan perasaannya.


"kenapa malah tertawa..?." Toni semakin kesal karena Dina tertawa mendengar ucapannya


"jadi...kamu membawaku kesini karena kesal dengan ucapan Roy?" Dina makin tergelak


Toni hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jika dipikir-pikir benar juha ucapan Dina. Tapi ia juga sebenarnya ingin membuat sebuah kenangan indah yang tak terlupakan dengan Dina.


"Toni...aku menyukaimu apa adanya, bukan ada apanya tidak perlu mendengarkan orang lain" ucap Dina masih dengan tertawa.


"dan yang kamu lakukan baru saja itu luar biasa bagiku, sedikitpun tidak pernah terbayangkan olehku akan mendapat kejutan seperti tadi" ucap Dina dengan tatapan serius


"dan satu lagi...kamu tidak perlu menunjukkan kamu anak siapa, dan orang tua kamu punya apa saja kepadaku, cukup jadi diri kamu sendiri"


"kamu tidak perlu membawa mobil hanya untuk membuat aku senang, bersamamu sudah membuat aku bahagia" lanjut Dina dengan senyum mengembang.


Toni merenungkan ucapaan Dina baik-baik. Benar yang dikatakan Dina, tidak perlu menunjukkan dirinya siapa hanya untuk menyenangkan Dina.


Dina sungguh cewek yang berbeda. Berbeda dengan mantannya yang terdahulu. Yang selalu ingin dimanjakan dan diberi barang-barang yang mahal.


Di matanya Dina cewek yang mandiri, berkali-kali ia menawarkan untuk mengantar Dina tapi ditolak. Padahal siapa saja tidak akan menolak jika Toni menawarkan mengantarnya.


Dina cewek yang sederhana, cerdas dan tidak membeda-bedakan teman. Toni tahu, jika Dina waktu SMP dijauhi teman-temannya demi berteman dengan Puri.


Toni sudah jatuh dalam pesona Dina begitu juga sebaliknya. Dina yang mendambakan seorang pacar yang romantis dan lembut semua yang diinginkan Dina ada di dalam diri Toni.


.


.


B e r s a m b u n g


.


jangan lupa ritualnya ya bestie

__ADS_1


Please like, komen dan votenya ya bestie


Terima kasih sekebon


__ADS_2