
Dina dan Toni telah sampai di atas pelaminan, mereka berdiri dan berfoto memgabadikan momen itu. Kemudian satu per satu tamu undangan mulai naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada mereka.
Satu per satu penyanyi yang mengisi acara pun mulai melantunkan lagu-lagu yang menghibur semua tamu. Toni dan Dina tak henti-hentinya tersenyum, terlihat raut bahagia dari sepasang pengantin baru itu.
Dina mengedarkan pandangannya, ia mencari seseorang yang telah ia undang secara pribadi, namun tak menemukannya, ada rasa kecewa di hatinya, namun ia tutupi karena ia harus menyambut semua tamu yang memberikan ucapan selamat pada mereka berdua.
"selamat ya.....setelah sekian lama akhirnya kalian menikah juga..." ucap seseorang membuat Dina menoleh
"Byan..." ucap Dina terkejut "bagaimana bisa...?"
"aku yang mengundangnya sayang....jangan marah..." ucap Toni lembut
Byan terkekeh "Toni ternyata bisa selembut ini ya...."
"bisa aja kamu Yan..." Toni meninju lengan Byan
"sekali lagi selamat ya....ternyata usahaku dulu memisahkan kalian tak berhasil, kini kalian malah menikah" Byan terkekeh "maafkan aku ya Din..." ucap Byan tulus
Dina tersenyum "aku sudah melupakannya...."
"terima kasih...sekali lagi maafkan aku...dulu aku cemburu" Byan terkekeh, ia melirik Toni yang terlihat seperti bersiap untuk memukulnya "malam ini kamu cantik sekali....Toni beruntung mendapatkan dirimu" ucap Byan kemudian berlalu dari pasangan itu sebelum terjadi baku hantam. Byan tahu bagaimana Toni, dan ia pun akhirnya juga mengetahui jika Toni telah memanfaatkan adiknya hingga trauma.
Dina masih mencari-cari orang yang ia undang secara pribadi. Ia berharap bisa bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya. Setelah mengedarkan pandangan bebeberapa saat akhirnya Dina melihatnya.
Pov Dina
Aku mencari-cari keberadaan Dendy. Aku berharap ia akan datang ke acara resepsi, setelah tadi pagi ia tak datang di kapel. Aku mencarinya di antara lautan tamu, namun aku masih belum menemukannya.
Perhatianku sesekali teralihkan karena tamu-tamu yang datang mengucapkan selamat dan berfoto dengan kami. Namun sekilas aku melihat ia masuk ke dalam ruangan ketika aku berbicara dengan Byan.
Setelah Byan turun aku kembali mencarinya, dan aku melihatnya bersama dengan seorang perempuan yang aku tidak kenal. Ada rasa sedih di hatiku dan ternyata saat itu juga ia menatap ke arahku. Segera kutepis rasa itu, dan aku kembali tersenyum.
Aku yakin dia tak akan menghampiriku dan memberi ucapan selamat padaku. Aku tahu dari tatapan matanya ada kesedihan di sana. Kemudian aku hanya menggerakkan bibirku dan mengucapkan kata terima kasih padanya, aku mengucapkan itu bukan tanpa alasan.
Aku mengucapkan rasa terima kasih untuk semua yang pernah kami lalui bersama, dan inilah akhir cerita kami. Dan aku melihat ia menggerakkan bibirnya, aku mencoba membaca apa yang ia ucapkan ternyata ia mengatakan 'berbahagialah' dengan senyumannya namun ada sorot kesedihan di matanya.
Sekali lagi aku mengatakan terima kasih, dan setelah itu aku melihat perempuan yang tadi datang bersamanya menghampirinya. Setelah itu aku sudah tak tahu lagi keberadaannya, aku kembali disibukkan dengan tamu-tamu yang datang memberi ucapan selamat padaku.
POV Dina End
__ADS_1
"lagu ini kami persembahkan untuk sahabat kami yang sedang berbahagia hari ini" ucap seseorang dari arah panggung tempat para musisi dan penyanyi berada
Dina dan Toni pun menoleh, mereka berdua tersenyum melihat siapa yang berada di panggung itu. Dina melihat ada Byan, Roy dan beberapa teman SMA mereka sedang berada di sana.
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
Roy mulai menyanyikan lirik lagu sambil menatap Dina. Dina mengembangkan senyumnya, lama ia tak mendengar Roy bernyanyi.
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
Sifatmu nan s'lalu
Redakan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu
Saat kau di sisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
(Anugerah Terindah ~ SO7)
__ADS_1
Dina tahu betul kenapa Roy bernyanyi malam ini, ia juga merasa bersalah pada Roy yang selama ini selalu menjadi sahabat terbaiknya, sayangnya ia tak bisa membalas cinta Roy. Bagi Dina Roy terlalu baik dan lebih menyenangkan jika dianggap sebagai teman mengobrol ketimbanh pacar.
Sedangkan Byan, ia memetik gitar sambil sesekali mencuri-curi pandang pada Dina. Penampilan Dina malam ini membuat ia kembalinke masa lalu dimana ia tak mendapatkan respon dari Dina. Tapi kini ia telah merelakan semuanya, ia banyak belajar melihat orang yang ia sayangi bahagia membuatnya lebih bahagia.
Toni tersenyum, kemudian ia menggenggam erat tangan Dina, menunjukkan jika kini ialah pemilik hati, jiwa dan raga Dina seutuhnya. Ia tahu Roy setia memendam perasaannya pada Dina, Byan juga masih ada sedikit rasa suka pada Dina.
Dina dan Toni kembali disibukkan oleh tamu-tamu mereka. Meskipun sebagian besar mereka tak mengenalnya, namun mereka sangat berterima kasih atas doa dan ucapan orang-orang itu.
"bos...selamat ya..." Ridwan memeluk Toni
"akhirnya aku menyusulmu..." Toni terkekeh
"tapi kan sudah gol dulu bos" goda Ridwan
"iya sudah gol berulang kali....tapi nggak pernah bosan" Toni tergelak, jarang-jarang Toni tertawa lepas di depan orang banyak.
"selamat Nona....akhirnya...." Ridwan menyalami Dina
"terima kasih kakak....oh iya...kak Raya dimana?" Dina mencari keberadaan istri dari Ridwan
"si kecil rewel nona...mungkin di sini terlalu ramai...tadi diajak keluar sebentar..." jawab Ridwan sopan
"baiklah...terima kasih kak...sudah jauh-jauh ke sini" ucap Dina mengembangkan senyumnya
"tak apa Non....dulu juga Bos Toni banyak bantu saya waktu acara pernikahan saya dan Raya" ucap Ridwan sopan "saya permisi dulu mau cari anak dan istri saya" Ridwan pun turun dan berjalan meninggalkan pengantin itu.
"kamu lelah?" tanya Toni lembut
"kakiku pegal..." rengek Dina
Toni pun menuntun Dina untuk duduk dan meminta pihak WO untuk mengambilkan mereka minum. Ia melihat Dina yang terlihat lelah. Dengan telaten Toni membantu Dina untuk minum kemudian menyuapkan makanan untuk Dina.
Salahnya juga tadi sempat membuat Dina kelelahan sewaktu mandi, namun ia memang sudah tak bisa menahannya lagi karena ia meluapkan kebahagiaannya hari ini.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g