
Satu minggu berlalu, Dina menghabiskan waktu hanya dengan di rumah saja. Ia sengaja menikmati hari-harinya sebelum kembali bekerja dan kali ini dia pasti akan lebih sibuk dari sebelumnya. Menjadi asisten CEO harus siap jika sewaktu-waktu bosnya memerlukan dirinya.
Posisi yang tak pernah ia sangka, karena posisi itu begitu tinggi dan juga butuh pengalaman yang tak sedikit. Setidaknya ia harus sudah terbiasa dengan administrasi dan juga menghadapi klien. Sedangkan Dina merasa belum pantas jika dirinya menempati posisi tersebut.
Beberapa kali ia mencoba untuk berbicara dengan Vanya agar posisinya dirubah sebagai staf biasa namun berujung dengan penolakan dari Vanya. Dan yang terakhir, dirinya harus berbicara sendiri dengan pemilik Wijaya Group yang sekaligus calon mertuanya, namun usahanya sia-sia, calon mertuanya tetap menolak mengabulkan permintaannya.
Pria yang bernama Yanuar Wijaya itu hanya mengatakan "aku butuh orang yang bisa aku percaya, dan lagi setelah kalian menikah kamu harus bersiap menduduki jabatan penting"
Dina tidak bisa berkata-kata lagi, entah itu sebuah ancaman atau memang yang sebenarnya dipersiapkan oleh calon mertuanya itu Dina tidak tahu. Dina tak berharap itu semua, ia hanya ingin meniti karir dari nol. Ia tidak ingin tiba-tiba berada di atas seperti sekarang.
Dina masih merasa ia belum mampu memikul tanggung jawab segitu besar. Ia hanya lulusan kemarin sore, meskipun ia pernah menjadi sekretaris selama beberapa bulan, namun itupun dirinya hanya menggantikan sementara, membantu Toni yang kala itu membutuhkan bantuannya.
Dan disinilah dirinya berada sekarang. Di depan sebuah gedung bertingkat sepuluh lantai, kantor pusat Wijaya Group. Tempat Dina akan bekerja mulai hari ini.
Dina menghembuskan nafasnya sesaat, kemudian mulai melangkahkan kakinya memasuki lobi perusahaan. Kantor masih sepi, belum semua karyawan datang. Dina duduk di sofa menunggu Vanya datang sambil memperhatikan sekelilingnya.
Ia masih tidak menyangka, dulu papa Toni hanya pengusaha biasa, meskipun termasuk pengusaha ternama di kota itu. Namun kini perusahaan itu telah berkembang pesat bahkan bisnisnya pun berbagai macam.
Dina menunggu, sekitar lima belas menit akhirnya Vanya datang. "Ayo Din...ikut aku" Dina langsung berdiri dan mengikuti langkah Vanya yang terlihat sangat cepat.
Yang ia ingat dari Vanya dulu, perempuan yang tidak terlalu peduli dengan perusahaan, bahkan ia lebih suka hidup bebas, namun kini Vanya terlihat begitu tegas dan tidak banyak bicara.
Mereka naik ke lantai delapan, tempat dimana hanya ruangan CEO dan beberapa menager. Dina mengikuti Vanya yang berjalan cepat menuju ruangannya.
"hufftt...." Vanya meenghempaskan tubuhnya duduk di kursi kebesarannya "pura-pura jadi orang lain itu melelahkan ya..." keluh Vanya
__ADS_1
Dina berdiri di dengan meja Vanya, dengan alis bertaut, tidak mengerti apa maksud ucapan Vanya. "duduklah dulu..." ucap Vanya, Dina pun kemudian duduk, ia masih terdiam, ia canggung, ia tak begitu dekat dengan Vanya.
"syukurlah akhirnya kamu di sini membantuku..." ucap Vanya dengan nada sedikit lega
"maksudnya kak...eh bu..." ucap Dina
"haish...jangan panggil aku bu...aku belum tua..." ucap Vanya kesal
"ini di kantor kakak bosku, nggak enak kalau panggil kakak" ucap Dina
"kalau kita cuma berdua jangan panggil aku bu..." ucap Vanya masih dengan nada kesal
"baiklah...kakak kenapa pagi-pagi sudah marah-marah?"
"harusnya yang di sini itu Toni tunangan kamu itu...tapi dia lebih memilih mengejar kamu daripada di sini, akhirnya aku yang ketiban sial" gerutu Vanya
"kenapa minta maaf? Aku nggak marah Din...aku hanya lelah saja...aku harus berpura-pura jadi bos yang dingin, dan serba cepat karena sekretarisku tak bisa diandalkan"
Dina menatap Vanya, memang sedari tadi terlihat seperti orang lain, padahal seingat Dina Vanya itu ramah dan pandai bergaul, namun kali ini ia melihat Vanya menjadi sosok yang berbeda.
"makanya aku meminta papa mencarikan aku asisten agar bisa membantu aku, dan dia bilang kamu bisa diandalkan akupun menyetujuinya, yah...kalau kamu di sini nanti dengan sendirinya Toni mau menggantikan posisi aku" Vanya terkekeh
"terus apa tugasku kak? Aku sama sekali tidak punya pengalaman sebagai asisten" ucap Dina dengan wajah serius
"tugasmu mudah, kamu membantu aku menyelesaikan pekerjaanku" Vanya tergelak "jangan terlalu serius Din....kamu sudah kenal aku kan"
__ADS_1
"ini di kantor kak..." protes Dina
"baiklah...baiklah...intinya semua hal untukku harus melewati kamu dulu, jadi kamu minta semua jadwal dan pekerjaan yang harus aku kerjakan kepada sekretarisku" ucap Vanya
"baik kak...ada lagi?" tanya Dina
"ah...iya...kamu juga harus bisa menyetir ya...kamu akan mendapat fasilitas mobil dari perusahaan, lebih tepatnya dari calon mertuamu" Vanya terkekeh
Dina hanya bisa menghela nafas, sungguh tidak menyangka jika tugasnya lebih berat daripada di perusahaannya terdahulu. Dan lagi ia harus belajar mengemudikan mobil.
"baiklah kak...aku keluar dulu..." ucap Dina
"tanya pada sekretarisku ruangan untukmu dimana" Dina mengangguk kemudian ia keluar meninggalkan ruangan Vanya.
Hari pertama ia lalui dengan lancar tanpa suatu kendala apapun. Vanya pun juga senang, ia kini punya teman untuk tempat berkeluh kesah. Sebelumnya orang-orang yang mendekati Vanya hanya karena ada maunya saja, Vanya tidak suka itu.
Maka dari itu saat papanya mengutarakan maksud memberikan Dina pekeerjaan, ia langsung meminta Dina menjadi asistennya. Karena hanya Dina dari sekian banyak orang yang menolak diberi posisi asisten seorang CEO.
Hari-hari Dina tak begitu berat, ia masih bisa pulang sesuai jam kerjanya. Ia bisa memilik waktu untuk belajar menyetir mobil. Sungguh hal yang sebenarnya Dina malas lakukan, tapi karena itu keharusan mau tidak mau ia pun mengikuti kursus menyetir mobil.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g