Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 243 Sarapan yang kesorean


__ADS_3

Pagi harinya, semua berkumpul di restoran hotel untuk sarapan. Semua tamu undangan yang menginap pun juga berada di sana. Meski terlihat lelah, namun semua merasa senang dengan jamuan dari keluarga Wijaya.


Papa, mama serta adik-adik Dina berada satu meja dengan tuan Yanuar. Mereka terlibat obrolan ringan di pagi hari. Tuan Yanuar sendiri tidak menyangka jika kini ia bisa berdekatam dengan orang yang pernah ia cintai dulu meski dengan status besan.


"Ma...kak Dina mana? Kenapa nggak ikut sarapan sama kita?" tanya Alan


"mungkin kakak kamu masih tidur sayang" ucap mamanya Dina lembut


"tumben jam segini kakak masih tidur, biasanya bangunnya selalu pagi" ucap Nino


"semalam acara kakakmu sampai malam sayang, kalian sudah tidur kakak kalian masih menemani tamu-tamunya" ucap mamanya Dina memberi penjelasan. Tidak mungkin mereka akan memberitahu apa yang orang dewasa lakukan.


"baiklah...aku mau ambil es krim kalau begitu" ucap Alan kemudian berjalan meninggalkan meja makan dan disusul oleh Nino.


"mereka itu, padahal ini sudah jam delapan lebih kenapa tidak turun dulu" gerutu papanya Dina


"biarkan saja, maklum mereka pengantin baru, seperti tidak pernah muda saja" papanya Toni terkekeh ia tahu betul sifat anaknya itu, karena Toni memang mewarisi sifatnya, dan semua pun ikut tergelak menanggapi ucapan tuan Yanuar.


"Wan...semalam sampai jam berapa?" tanya tuan Yanuar ketika melihat Ridwan berjalan menghampiri mereka


"jam dua tuan, saya terpaksa meminta WO untuk menyudahi acara karena para tamu sudah mulai meninggalkan acara" ucap Ridwan sopan


"kenapa kamu?" Tuan Yanuar mengerutkan dahinya


"kak Vanya yang meminta saya mengurusi pesta itu tuan" ucap Ridwan kemudian ia menunduk sopan dan berjalan ke arah meja dimana istri dan anaknya duduk.


"baiklah....sepertinya kita para orang tua pulang duluan saja...kalau kita menunggu mereka entah jam berapa kita pulang" ucap papanya Toni dan mendapat persetujuan papa dan mama Dina.


.


Di sebuah kamar, Roy mulai membuka matanya, ia merasakan kepalanya pusing. Ia ingat semalam terlalu banyak minum. Ia merasa aneh, karena ia sudah berada di dalam kamarnya. Kemudian ia menoleh, ia pun terkejut, ia tidur bersama seorang wanita.


Ia memperhatikan siapa yang tidur bersamanya, dan matanya membulat ia melihat Ani yang tidur tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, kemudian ia melihat ke arah dirinya, ia pun juga sama polosnya.

__ADS_1


Ani pun juga terbangun, ia melihat ke arah Roy yang menatapnya bingung. "kamu sudah bangun?" ucap Ani dengan suara seraknya.


"ada apa dengan kita semalam?" tanya Roy


"hemm...kamu tidak mengingatnya?" ucap Ani malu-malu. Roy pun mencoba mengingat-ingat namun ingatan itu samar-samar.


"jangan katakan kalau kita..." Roy bingung, dan dijawab anggukan oleh Ani


"****...! kenapa bisa begini?" umpat Roy kemudian ia bangun


Ani menatap nanar yang beranjak dari tempat tidur "kamu tenanglah, aku tidak akan meminta pertanggungan jawabmu, meskipun kamu telah mengambil apa yang aku miliki" Ani menguatkan hatinya, ia memang sudah bertekad akan mengejar Roy, ia akan melakukan apapun agar Roy jatuh cinta padanya.


Roy meliriknya sekilas, ia berpikir kenapa ia bisa seceroboh itu. Ia tidak membenci Ani namun seluruh hati dan pikirannya sudah dimiliki Dina, ia sudah berjanji pada dirinya tak akan membuka hatinya untuk siapapun.


.


Di dalam kamar pengantin, sepasang pengantin baru itu masih bergelung dalam selimut. Mereka saling memeluk tanpa melepaskan penyatuan mereka.


Dina menggeliat, ia mengeratkan pelukannya pada Toni dan itu membuat Toni membuka matanya. Ia merasakan pergerakan Dina yang membuat apa yang masih berada di dalam milik Dina semakin tegak berdiri.


Masih dengan posisi salinh berpelukan, ia pun mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. "ouhh...****...!" erang Toni


Dina merasa terusik, ia merasakan pergerakan di bawah sana, membuat mendesah "ah...sstt...." Dina mulai membuka matanya dan melihat Toni yang menatapnya berkabut gairah


"apa yang kau...sstt...aahhhhh...." Dina menerima kenikmatan yang diberikan oleh Toni


"kenapa milikmu semakin sempit sayang...." racau Toni semakin mempercepat gerakannya membuat tubuh Dina tiba-tiba mengejang dan menjerit nikmat


Mendengar jeritan Dina, Toni semakin bersemangat, ia pun membalik tubuh Dina dan memacunya dari belakang. Pagi menjelang siang itu mereka mengulangi pergulatan panas mereka kembali. Mereka benar-benar dimabuk cinta tak kenal waktu melakukannya.


Hingga hampir dua jam lamanya, Toni menyudahi ronde kedua pagi ini. Ia begitu puas setelah empat hari tak bisa bertemu Dina, dan apalagi kini Dina telah resmi menjadi istrinya, rasanya sungguh berbeda, mereka tak perlu lagi mencari alasan jika ingin melakukannya.


"ini jam berapa?" tanya Dina karena merasa kamarnya masih gelap. Tirai yang menutup jendela benar-benar tertutup rapat hingga mereka tak tahu jika kini hampir tengah hari

__ADS_1


"entahlah..." ucap Toni berbaring di samping Dina


"sayang aku lapar...tapi aku lelah..." ucap Dina lirih


"baiklah..."


Toni mengangkat gagang telepon di nakas sebelah tempat tidurnya. "antarkan makanan ke kamarku, letakkan di meja luar" ucap Toni kemudian meletakkan gagang telepon.


"sudah sayang..." ucap Toni lembut


Dina mendudukkan badannya, kemudian ia menapakkan kakinya di lantai. "Kamu mau kemana?" tanya Toni beranjak dari tidurnya


"aku mau mandi badanku rasanya lengket semua" Dina mulai berdiri namun ia terduduk lagi "kenapa rasanya seperti baru pertama kali" gerutu Dina


Toni yang melihatnya pun gemas, kemudian ia menggendong Dina masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkannya di atas closet. Toni menyiapkan air hangat di dalam bath up untuk mereka berdua berendam.


Toni ingin meregangkan otot-ototnya dan juga agar Dina lebih rileks. Setelah airnya pas, Toni membantu Dina masuk ke dalam bath up. Toni mulai memberikan pijatan pada tubuh Dina. Pijatan yang mulainya lembut berubah menjadi remasan. Dan mereka pun mengulangi penyatuan mereka di dalam kamar mandi itu hingga dua ronde.


"kenapa kamu menghajarku habis-habisan" gerutu Dina dalam gendongan Toni.


Toni mendudukkan Dina di kursi makan yang berada di luar kamar mereka. "bukankah semalam kamu yang menantangku" ucap Toni santai sambil membuka tudung yang menutupi piring-piring.


"tapi nggak segitunya kan..." Dina mengerucutkan bibirnya


"sayang...aku sudah bilang kan, akan menghukummu karena kamu didandani oleh wanita jadi-jadian, kedua karena semalam kamu sungguh seksi, aku tidak bisa mengendalikan diriku jika melihatmu seperti itu" Toni menyuapkan makanan pada mulut Dina.


Perdebatan mereka pun akhirnya berhenti sejenak. Mereka sarapan lebih tepatnya makan siang yang sudah terlewat jamnya karena sudah pukul dua siang.


Makanan yang diantar oleh pelayan habis tak bersisa padahal begity banyak macamnya. Mereka berdua benar-benar kelaparan, mereka ingin mengembalikan tenaga mereka yang telah terkuras habis oleh percintaan mereka.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2