
Dina benar-benar tertidur, bahkan goncangan-gocangan di jalan tak membuatnya terbangun. Toni meminggirkan mobilnya, ia kemudian menarik tuas kursi agar Dina bisa tidur lebih nyaman.
Toni mengecup dahi Dina, kemudian membelai perut rata Dina "segeralah tumbuh di rahim mommymu...." tatapan Toni terlihat teduh dan penuh harap. Entah kenapa Toni begitu menginginkan Dina cepat hamil. Padahal usia mereka masih muda dan masih punya banyak waktu untuk memiliki anak.
Setelah memastikan Dina tidur dengan nyaman, Toni melanjutkan perjalanan mereka kembali. Sesekali Toni melihat ke arah Dina, memastikan Dina nyaman dengan posisi tidurnya.
.
Beberapa hari berlalu, Toni dan Dina benar-benar sibuk mengurus perusahaan dan juga mengurus persiapan pernikahan mereka berdua. Sebagian undangan telah disebar, khusus untuk teman-teman terdekat Dina akan mengantarkannya sendiri.
Sepulang kerja Dina mendatangi rumah Roy. Dina selalu mendapat sambutan hangat dari keluarga Roy, mereka pernah berharap jika Dina dan Roy berpacaran.
"tumben ke sini sendiri Din..." ucap Roy duduk diteras di sebelah Dina "apa Toni nggak akan cemburu?"
"cemburu? Biarkan saja, aku sudah lelah jika harus menghadapi kecemburuannya" Dina terkekeh
"tapi kamu dan dia baik-baik saja kan?" Roy menatap Dina dengan tatapan yang sulit diartikan
"baik...Roy...." Dina tampak bahagia "aku ke sini juga ingin memberikan ini" Dina mengambil sebuah amplop dari tasnya dan memberikannya pada Roy.
Roy pun menerimanya, ada rasa yang sulit digambarkan di hati Roy saat menerima amplop itu. Di depan saja sudah tertera nama mereka berdua, pastilah itu undangan pernikahan.
"aku sebenarnya masih ingin melajang Roy, tapi papa Yanuar mendesak kami untuk mempercepat pernikahan kami, ya...apa boleh buat" ucap Dina tak ada raut sedih sedikitpun
"selamat ya Din...." lidah Toni mendadak kelu, tenggorkannya kering ia sebenarnya berharap Dina batal menikah dengan Toni, namun melihat Dina tampak bahagia Roy pun memaksakan senyumannya.
"terima kasih Roy....kamu memang sahabat terbaikku....kelak jika kita punya anak aku ingin menjodohkan anak-anak kita" Dina mengembangkan senyumannya
"pacar aja aku belum punya sudah memikirkan punya anak" Roy mencebik
"aku doakan kamu cepat menyusul...sudah dulu ya...aku mau ke tempat Ani" ucap Dina berpamitan.
"aku pasti datang Din..." ucap Roy memaksakan senyumnya "ngomong-ngomong sekejam itukah Toni? Sampai-sampai kamu harus memakai motormu waktu sekolah dulu?" ejek Roy
Dina tergelak "aku dikasih mobil Roy....tapi hari ini aku ingin bernostalgia menaiki motor kesayanganku, sudah dulu ya....daaa..." Dina pun meninggalkan rumah Roy.
Dina pergi ke rumah Ani yang tak jauh dari rumah Roy. Dina memarkirkan motornya di depan warung ibunya Ani. Belum juga turun Dina sudah di sambut oleh ibunya Ani.
"Dina....sudah lama sekali kamu tidak ke sini" ucap ibunya Ani
__ADS_1
"iya tante maaf....Dina sibuk kerja...."
"iya tante mengerti, bekerja di perusahaan besar pasti menyita banyak waktumu" ucap ibunya Ani membukakan pintu pagar untuk Dina.
"Ani dimana tante?"
"biasa main sama keponakan-keponakannya di belakang" jawab ibunya Ani kemudian masuk ke dalam. Tak lama Ani pun keluar "masih ingat aku rupanya" Ani mengerucutkan bibirnya
"ya ampun....marah ternyata" Dina tergelak
"ada apa ke sini? Biasanya kalau butuy sesuatu baru ke sini" ejek Ani
"iya...aku memang butuh bantuanmu"
"sudah kuduga" ucap Ani pura-pura kesal
"aku minta bantuanmu untuk datang ke pernikahanku...." Dina menyodorkan undangan kepada Ani "dan juga ini baju khusus untukmu, aku ingin kamu menjadi pendampingku An...." Dina menyerahkan paperbag pada Ani
"kali ini kenapa tugasku berat sekali...hiks...hiks...hiks..." Ani pura-pura menangis
Dina terkekeh "kamu itu nggak pantes menangis" ejek Dina
"iya An...aku tidak menyangka jika apda akhirnya aku kembali padanya" Dina dan Ani sama-sama tergelak. Mereka mengingat saat-saat Dina harus bersembunyi, menghindar dari Toni. Bahkan selalu lari ketika Toni terlihat berjalan mendekat.
"ada satu hal lagi An...."
"apa itu?"
"temani aku ke rumah Dendy"
"apa aku nggak salah dengar? Ani terlihat tidak suka
"bagaimanapun juga, dia orang yang pernah mengisi hatiku An, aku harus tetap mengundangnya, dalam hati kecilku masih ada dia, namun aku sadar jodohku bukanlah dirinya"
"baiklah....aku ambil helm dulu" Ani masuk ke dalam rumahnya tak lama ia pun keluar sudah memakai helm dan juga jaket. Ani pun membonceng Dina, meski ia tak suka jika Dina bertemu dengan Dendy namun ia ingin menemani Dina.
Sepuluh menit kemudian mereka berdua telah sampai di depan rumah Dendy. Tiba-tiba ingatan Dina seperti ditarik ke masa lalu, rumah penuh kenangan, di rumah itu pula ia merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Lamunannya buyar ketika Dendy membukakan pintu pagar untuknya.
__ADS_1
"masuk Din..." ucap Dendy dengaj binar di matanya
"aku nggak lama Den..." ucap Dina masih berdiri di depan pintu
"setidaknya duduklah dulu" ucap Dendy terlihat sangat bahagia
"kedatanganku kemari ingin memberikan ini" Dina menyodorkan undangan yang ia bawa tadi "aku harap kamu bisa hadir" ucap Dina lirih
"kamu mau menikah?" tanya Dendy ada guratan kesedihan di wajahnya. Dina hanya mengangguk "dengan siapa?"
"dengan Toni Den"
Tiba-tiba mamanya Dendy datang dan menyapa Dina dan memeluknya, terlihat dari matanya jika ia senang Dina datang ke rumahnya. Merekapun mengobrol, dan mamanya Dendy terlihat antusias.
"saya ke sini mengantarkan undangan pernikahan sayaa tante" ucap Dina tak enak hati karena telah membuat mamanya Dendy terlihat kecewa
"kamu sudah lama mengenal calon suamimu ini?" tanya mamanya Dendy dengan nada tidak suka
"sudah...jauh sebelum saya mengenal Dendy tante" jawab Dina "saya harap tante dan om bisa hadir juga, ajak Rio sekalian tante" ucap Dina tersenyum canggung
Dina pun berpamitan pada mamanya Dendy, dari sorot matanya mamanya Dendy terlihat tidak suka, namun Dina tak bisa berbuat apa-apa karena Dendy yang lebih dulu memutuskan hubungan mereka.
Dina pun berpamitan pada Dendy, tatapan Dendy terlihat kosong, wajahnya terlihat seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Bahkan Dendy tak membalas lambaian tangan Dina.
Dina sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima segala perlakuan dari keluarga mantannya, karena semua bukan salahnya. Ia hanya ingin melanjutkan hidup meraih kebahagiaannya.
Sepanjang perjalanan Dina hanya diam, ia masih memikirkan perkataan mamanya Dendy, dari setiap ucapannya tersirat tuduhan padanya. Mamanya Dendy menganggap ia cewek matre. Namun tak semua orang tahu bagaimana perjalanan cintanya.
Dina mengantarkan Ani pulang. "Ingat jangan terlambat, terus bapak sama ibu jangan lupa diajak" pesan Dina sebelum meninggalkan rumah Ani.
Ani mengangguk dan menatap pada Dina yang perlahan menjauh dari rumahnya. Ia tahu saat ini Dina sakit hati pada mamanya Dendy, ia yang hanya menjadi pendengar setia saja merasa ingin sekali memaki mamanya Dendy, namun ia tahan karena masih memiliki rasa sopan santun.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
Jaangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya bestie...