Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 141 Olahraga Pagi


__ADS_3

Tidur bersama dengan orang yang dicintai membuat perasaan begitu tenang dan damai. Toni dan Dina begitu lelap tidurnya, tak menyadari jika pagi telah datang.


Udara pagi di pegunungan begitu dingin. Dina merasa terusik dengan rasaa dingin yang menerpa kulitnya. Ia merapatkan badannya pada Toni yang masih tertidur. Dina menyembunyikan wajahnua pada dada Toni, mencari kehangatan di pelukan Toni.


Toni merasa terusik, sesuatu yang masih berada di dalam milik Dina mulai bangkit karena gerakan Dina. Toni membuka matanya, menatap Dina yang masih terlelap.


Toni sekuat tenaga menahan hasratnya agar tak mengganggu tidur Dina. "aku tidak pernah membayangkan akan memilikimu seutuhnya secepat ini, aku selalu berpikir, memilikimu butuh waktu yang lebih lama lagi, terima kasih sayang, tak akan aku sia-siakan kamu lagi" batin Toni sambil membelai wajah Dina.


Dina semakin mengeratkan pelukannya pada Toni, ia masih belum menyadari jika hari mulai siang, padahal sinar matahari mulai menembus kaca jendela kamar mereka.


Toni memeluk Dina, sekuat tenaga ia menahan hasratnya yang mulai kembali bangkit. Namun pertahanannya akhirnya runtuh juga. Ia tak kuasa menahannya lagi.


Ia menindih Dina kemudian memajumundurkan pinggulnya pelan sambil mencium bibir Dina dengan lembut. Dina mulai terusik, ia pun mulai membuka matanya perlahan dan menatap Toni yang berada di atasnya.


"kamu ngapain?" Dina dengan suara seraknya


"kamu yang membuatnya bangkit lagi sayang, kamu harus bertangnggung jawab" Toni tersenyum miring


"hah..." Dina membuka matanya lebar-lebar "awhh....sstt...." desis Dina yang masih merasakan ngilu di bagian intinya.


"sssaa...yaa...ngg...pelan...aahhh....ssttt..." Dina pun mulai merasakan gairahnya bangkit dan mulai menikmati setiap sentuhan dan gerakan Toni.


"kenapa kamu begitu cantik Din....hemmm..." Toni mengerang


Toni semakin mempercepat gerakannya, hanya ******* dan erangan yang terdengar di kamar itu. Dina merasakan puncak kenikmatan mulai mendatanginya. Ia pun meremas bahu Toni "aahh....ssaa...yaa...ngggg..."


Toni tak menghentikan gerakannya, ia tahu Dina mulai terbiasa.


Hasratnya tak terbendung lagi, ia pun membalik tubuh Dina sehingga ia berada di atas punggung Dina. Ia memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat, Dina mendapatkan puncaknya kembali.


Berulang kali Dina dibuat tak berdaya karena kenikmatan yang diberikan oleh Toni, entah berarapa kali Dina mencapai puncaknya. Hanya ******* dan jeritan Dina yang bisa menggambarkan bagaimana kehebatan Toni memberikan kenikmatan padanya.


Toni memiringkan tubuh Dina yang sudah tak berdaya, dan kembali memompa bagian inti Dina dan akhirnya puncak kenikmatan itu pun datang menghampiri Toni. Toni mendorong-dorong tongkatnya agar masuk lebih dalam lagi menikmati sisa-sisa pelepasan dan tubuhnya pun terkulai lemas di atas tubuh Dina.


"kamu hebat sayang...." ucap Toni sambil mencium lembut bibir Dina


"benar kata kak Raya....kamu pasti kuat dan tahan lama" Dina terkekeh namun lirih

__ADS_1


"hah...?" Toni mencabut miliknya dari inti Dina pelan-pelan


"awh....sstt...kenapa ditarik...sakitt... " rintih Dina


"kalau nggak aku cabut dia akan tegak kembali..." ucap Toni sambil menatap tongkat saktinya yang mulai mengecil, ia melihat ada bekas darah di batang tongkatnya dan juga di seprei.


"aku lelah, aku mau tidur lagi..."


"tidurlah sayang..." Toni menarik selimut dan menutupi badan mereka berdua yang masih polos tanpa sehelai benang pun


Mereka berdua kembali terlelap karena terlalu lelah setelah olah raga pagi mereka. Mereka tak tahu waktu, yang mereka inginkan hanyalah kembali tidur.


.


Matahari sudah melewati atas kepala mereka, tandanya sudah lebih dari jam dua belas siang. Tak ada yang mengganggu mereka, mereka tidur di vila yang jauh dari pemukiman. Hanya kicau burung dan suara-suara binatang yang menemani mereka.


Dina mulai mengerjapkan matanya, ia melihat ke arah sampingnya Toni tampak bahagia dalam tidurnya. Ia pun menggeser tubuhnya mendekat pada Toni.


"jangan menggodaku..." ucap Toni dengan mata terpejam


"kamu sudah bangun?" tanya Dina menatap wajah Dina


"kenapa dia bangun lagi?" Dina tampak frustasi "milikku sakit sekali kamu benar-benar menghajarku semalaman dan pagi ini" Dina mengerucutkan bibirnya


"maaf...habisnya aku ketagihan...milikmu begitu nikmat" Toni memeluk Dina


"nikmat mana sama punya mantan-mantanmu?" Dina mengerucutkan bibirnya


"kamu lah...lagi pula...aku selalu pakai...." Toni mulai teringat semalam dan pagi ini ia tidak memakai pengaman saat bersama Dina


"sayang....maaf....aku tidak pakai pengaman" ucap Toni dengan wajah penyesalan


"memangnya kamu selalu pakai itu?" Dina sedikit kesal. Toni mengangguk ia takut Dina akan marah besar padanya


"jika tiba-tiba kamu hamil, kita segera menikah saja ya..." ucap Toni dengan senyum mengembang


Dina tergelak, Toni kebingungan "kenapa kamu malah tertawa? Aku benar-benar minta maaf sayang....habisnya punyamu begitu menggoda dan aku nggak tahan, aku sampai lupa diri"

__ADS_1


"aku nggak akan hamil" Dina terkekeh


"kamu nggak mau hamil anakku?" ucap Toni lirih


"bukan begitu, aku belum siap jika hamil sementara aku masih kuliah, jadi aku minum pencegah kehamilan" ucap Dina santai sambil memainkan dada Toni


"sejak kapan?" tanya Toni lembut, ia juga belum siap jika Dina hamil


"sejak pertama kali kamu menyentuhku, aku takut aku tak bisa menahannya"


"jadi kamu sudah menginginkannya sejak dulu? Hemm?" Toni tersenyum miring kemudian ia memainkan gunung kembar milik Dina


"aahh...sayang..." Dina menepis tangan Toni "habis enak, aku jadi ingin lebih" Dina kegelian karena Toni mulai meraba bagian sensitifnya


"kenapa kamu nggak minta ke aku? Hemm?" Toni masih menggoda Dina


"kamu yang habis itu sibuk, terus marah-marah nggak jelas..." Dina sekuat tenaga menahan desahannya


"berarti sekarang boleh dong aku minta lagi..." Toni mulai mengukung tubuh Dina


"Toni...!!" Dina mendorong tubuh Toni "setidaknya kita makan atau mandi dulu" ucap Dina kesal


"berarti setelah boleh lagi ya..." Toni tersenyum miring


"aku barus sadar, semalam kita bercinta di bawah bintang ya...seperti di tengah hutan" Dina menatap sekelilingnya, atap kamar yang ia tempati bagian atas terbuat dari kaca kemudian dinding sekelilingnya sebagian besar juga dari kaca yang tertutup tirai tipis


"romantis kan...aku tahu kamu suka dengan alam, jadi aku ingin pengalaman pertamamu juga berada di alam" ucap Toni lembut


"kamu memang yang terbaik, terima kasih sayang" Dina mulai bangun dari tidurnya namun rasanya begitu sakit.


Ia pun terduduk di pinggir tempat tidur. Toni bangun dari tidurnya kemudian berjalan santai tanpa satu helai benang pun keluaar dari kamarnya. Lima menit kemudian ia kembali membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan juga sepiring sandwich.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2