
Matahari perlahan turun, mendekati batas cakrawala. Dina menikmati pemandangan yang jarang sekali ia nikmati. Ia berterima kasih pada Toni karena sudah mengajaknya ke pantai untuk berlibur sejenak.
Toni juga terdiam, ia jyga menikmati liburan sejenak bersama Dina. Sesekali ia melirik Dina yang tampak larut dalam lamunannya memandangi matahari yang perlahan tenggelam.
"Ayo kita kembali ke kamar" ucap Toni lembut memecah keheningan di antara mereka
"sebentar lagi Ton....menunggu gelap" ucap Dina
"tapi kamu basah Din...nanti kamu sakit...ayo kita kembali ganti baju dulu setelah itu kita makan"
"baiklah...." Dina beranjak berdiri menepuk pelan celananya
Toni pun beranjak berdiri, ia melakukan hal yang sama seperti Dina. Mereka berjalan beriringan menuju ke kamar hotel yang mereka tempati.
"mandilah dulu....setelah itu baru aku mandi" ucap Toni sesampainya di kamar hotel
"tapi kamu juga basah Ton..."
"iya...ayo cepat keburu kamu sakit nanti"
Dina pun bergegas masuk ke kamar mandi, ia membersihkan dirinya dengan cepat, ia tak ingin Toni juga sakit karenanya. Sepuluh menit berlalu Dina telah selesai mandi, ia keluar memakai handuk kimono karena ia lupa membawa baju gantinya ke kamar mandi
"sekarang giliran kamu...." ucap Dina kemudian ia berjalan mengambil baju ganti di dalam tasnya. Setelah memastikan Toni masuk ke kamar mandi dan terdengar gemericik air, secepar kilat Dina memakai bajunya.
Lima belas menit berlalu, Toni keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek, rambutnya masih basah dan masih terlihat tetesan air mengalir di tubuhnya.
Dina terperanjat melihat Toni keluar tanpa mengenakan kaos. Namun Dina merasa terpesona, baru kali ini ia melihat tubuh Toni terlihat terawat meskipun tidak terlalu berotot namun terlihat kekar.
Dina memalingkan wajahnya dan menikmati pemandangan luar kamarnya, ia berpura-pura biasa saja.
"ayo kita makan...." ucap Toni yang sudah memakai kaos oblong
"ayo..." Dina bangkit berdiri mengikuti Toni yang berjalam terlebih dahulu
Mereka berdua berjalan melewati taman yang tadi siang Dina lihat dari jauh. Toni sengaja berjalan lebih lambat agar bisa mensejajari langkah Dina.
"kita sudah sampai" ucap Toni ketika memasuki area restoran yang terletak dekat taman dan menghadap langsung ke pantai.
Restoran outdoor yang dihiasi obor-obor dan lilin yang menambah kesan romantis. Toni mengajak Dina duduk di meja yang sudah ia pesan tadi siang.
Dina takjub melihat suasana yang begitu romantis menyatu dengan alam, ia pernah ke tempat serupa dengan Bimo sama romantisnya namun kesan alaminya kurang.
"ini untuk kamu...." Toni memberikan sebuket bunga mawar kuning untuk Dina
"acara apa ini Ton...." Dina tampak kebingungan harus bagaimana
__ADS_1
"hanya makan malam biasa Din...." Toni tersenyum
"bunga ini....?" Dina penuh tanda tanya
"anggap saja merayakan pertemuan kita kembali, enggak ada maksud apa-apa" Toni mengerti Dina pasti berpikiran yang tidak-tidak tentangnya
"terima kasih" Dina tersenyum dan menerima bunga yang diberikan oleh Toni
"duduklah...." Toni menarik kursi untuk Dina, kemudian ia duduk di hadapan Dina
Pelayan mengantarkan makanan untuk mereka, Dina makin bingung ia merasa belum memesan makananan namun makanan sudah diantar.
"jangan bingung, waktu kamu mandi tadi aku pesan makanannya agar kita bisa langsung makan" Toni terkekeh
"oh....kirain mereka ini tahu kita mau pesan apa" Dina terkekeh
"makanlah....jangan bosan ya....dua hari ini kita makan seafood terus" Toni tersenyum
"ah...enggak apa-apa....aku suka semua makanan Ton" ucap Dina tersenyum ke arah Toni
Mereka berdua makan sambil mengobrol, bercanda, bertukar cerita. Seolah-olah tak pernah ada masalah di antara mereka.
"Din...."
"ya...."
"apa?" Dina menatap Toni
"kamu beneran....enggak punya pacar?"
Dina terkekeh "kalau aku punya pacar mana mungkin sekarang aku berlibur dengan kamu"
"ya....mungkin aja....pacar kamu di luar kota...." ucap Toni sambil meneguk minumannya
"enggak Ton....aku enggak punya pacar....kalau yang deket sama aku banyak namun enggak ada yang jadi pacarku"
"boleh nggak aku deketin kamu lagi" ucapan Toni mendadak serius
"maksud kamu?" Dina mengerutkan dahinya
"maksudku mendekati kamu, berusaha merebut hati kamu...." jawab Toni dengan dada yang berdebar-debar
Dina menghela nafasnya "bukankah beberapa hari terakhir kita sudaj dekat, mau dekat seperti apalagi?" Dina tahu arah pembicaraan Toni, namun ia berusaha untuk tenang dan tidak terbawa emosinya.
"ya...dekat....lebih dekat dari sekedar teman...."
__ADS_1
"aku tak pernah melarang siapapun untuk mendekati aku, namun masalah hati enggak bisa dipaksakan, biarlah waktu yang akan menjawabnya" ucap Dina
"jadi....aku masih punya kesempatan untuk dekat dengan kamu? Ya...syukur-syukur kamu mau membuka hatimu untukku"
"aku tidak bisa berjanji hatiku akan terbuka untukmu, semua biarlah waktu yang menentukan Ton" meski Dina sudah melupakan semuanya namun rasa takut itu masih tetap ada
"terima kasih sudah mengijinkan aku untuk tetap dekat dengan kamu" Toni tersenyum. Sebenarnya ia ingin mengutarakan perasaannya malam ini, namun melihat ekspresi Dina sewaktu ia memberikan bunga terlihat terkejut dan cenderung tidak suka Toni menundanya.
"hari ini kamu senang?" tanya Toni mengalihkan pembicaraan
"senang....senang sekali....sudah lama sekali aku enggak main air di pantai, menikmati sunset...basah-basahan" Dina kembali ceria
"syukurlah kalau kamu senang, tidak sia-sia jauh-jauh datang kemari" Toni mengembamgkan senyumnya "besok kamu mau kemana, mau main air lagi atau pergi kemana?"
"main air ajalah...pagi-pagi....siangnya kita pulang....senin aku harus masuk kerja lagi....eh....magang bukan kerja" Dina tergelak "kamu balik ke kota K kapan?"
"mungkin selasa siang, rabu aku harus bimbingan dosen" jawab Toni
"oh....aku kira besok langsung pulang"
"enggak Din....senin aku ada janji dengan klien"
"oh....semangat....moga skripsi dan pekerjaan kamu lancar...." senyum Dina mengembang
"terima kasih....eh....kamu enggak apa-apa kan aku lama enggak ke kota J, aku mau menyelesaikan skripsiku, agar bulan depan bisa sidang"
"memangnya kenapa? Skripsimu lebih penting daripada aku Ton...."
"takutnya kamu merindukan aku" Toni terkekeh
"enggak lucu....mana sempat aku mikirin cowok, lagi pula mulau minggu depan aku juga bagi waktu mengurus persiapan acara di kampus"
"oh...jaga kesehatan....jangan terlalu capek...."
"iya....iya....kamu itu udah seperti mamaku saja..."
Mereka berdua tertawa bersama, melupakan situasi canggung yang baru saja terjadi. Malam semakin larut mereka berdua memutuskan untuk kembali ke kamar mereka.
Sesuai kesepakatan tadi siang, Dina tidur di dalam kamar sedang Toni tidur di sofa sambil menonton acara televisi.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g