
Sejak kabar yang mengejutkan itu, Toni sering menyendiri, ia merenungi apa yang telah ia perbuat pada Fara. Ada perasaan bersalah dalam hatinya, ia ingin sekali meminta maaf.
Tak ada yang tahu perasaannya, ia memendam semuanya sendiri. Ia tak ingin semua orang menuduhnya sebagai orang yang kejam. Ia melakukan itu ada alasannya. Toni hanya ingin membuat Fara dan Bian jera dan tak akan menyakiti siapapun.
Nyatanya setelah peristiwa itu, Fara bukannya sadar ia malah semakin menjadi. Fara malah mengikuti gaya hidup kakaknya yang tak puas hanya dengan satu cowok.
"kamu melamun" ucap Roy masuk ke dalam kamar Toni
"tidak..." kilah Toni
"Bian sudah pulang dari rumah sakit" ucap Roy duduk di kursi di dekat jendela kamar Toni.
"lantas....?" Toni menatap datar Roy
"jika kamu ingin menyampaikan dukacita, minggu depan Bian akan pulang ke kota ini mengurus penjualan motor dan mobilnya" ucap Roy
Toni tak menanggapi ucapan Roy, ia masih memikirkan apakah ia harus mendatangi rumah Bian atau tidak. Ia tak ingin menjadi sasaran amukan Bian, tapi dalam hati kecilnya ia ingin mengucapkan dukacitanya.
.
Seminggu berlalu, Toni mendatangi rumah Bian. Rumah yang dulu terlihat megah kini tampak suram. Benar apa yang papanya katakan, papanya Bian mengalami masalah keuangan bahkan bisa dibilang hampir bangkrut.
Biasa banyak pekerja yang ada di rumah itu, kini hanya ada satu orang tukang kebun merangkap penjaga rumah dan satu orang pembantu rumah tangga.
Dengan perasaan campur aduk, Toni masuk ke dalam rumah Bian. Dari pintu masuk ia bisa melihat foto keluarga Bian. Ia menatap sejenak foto itu, dan kemudian masuk ke dalam ruang keluarga.
"eh...kamu Ton.. Untuk apa kamu ke sini?" ucap Bian datar
"aku turut berduka atas kepergian Fara, dan sekaligus aku meminta maaf pada kalian, karena telah mengecewakan kalian" ucap Toni
"Fara sudah tiada, untuk apa kamu meminta maaf? " ucap Bian sinis
__ADS_1
"apa salahnya jika aku meminta maaf? Makam Fara jauh jadi lebih baik aku menyampaikannya padamu" ucap Toni mencoba menutupi rasa bersalahnya
"aku juga meminta maaf padamu dan Dina, karena telah menghancurkan hubungan kalian" ucap Bian dengan tatapan penuh penyesalan.
Toni menghela nafasnya "minta maaflah pada Dina sendiri, aku tak mungkin menemui dirinya" ucap Toni kemudian pergi meninggalkan rumah Bian.
Andaikan Bian tak menyinggung soal Dina, ia tak akan pergi begitu saja dari rumah Bian. Ia tak suka Bian menyebut nama Dina di hadapannya. Bian telah begitu kejam menghancurkan hubungan mereka berdua tak pantas menyebut nama Dina di hadapannya.
.
Sejak Yuni memusuhi Dina, sekarang Dina semakin akrab dengan Putra. Sebenarnya mereka berdua sudah dekat tapi kini mereka lebih dekat lagi.
Putra adalah pendengar setia segala gerutuan Dina. Tak ada yang tahu, Dina bisa sedikit nyaman di kelas karena Putra. Putra selalu bisa membuat Dina tertawa dengan cerita-cerita lucunya.
"Toni bagaimana Din?" tanya Putra hati-hati
"kenapa menanyakan Toni padaku?" Dina kesal
Dina menghela nafasnya "aku sudah punya pacar dan itu bukan Toni, Put...Toni hanya bagian dari masa laluku" ucap Dina datar
"tapi yang aku lihat kamu masih mencintainya" Putra ingin sekali mengetahui cerita tentang Dina dan Toni, selama ini dirinya hanya mendengar dari cerita-cerita orang.
"dia yang pertama bagiku, tak mungkin aku melupakannya, tak mungkin aku membencinya Put..." ucap Dina santai
"tapi sepertinya dia tak ingin melepasmu begitu saja"
Dina menatap penuh tanda tanya pada Putra, ia tak mengerti kenapa Putra bisa berkata demikian.
"aku sering melihat Toni mengawasimu dari jauh, menatapmu, mencuri-curi pandang ketika jam olah raga" ucap Putra sambil menatap lurus ke depan
Dina kembali menatap lurus papan tulis, ia tak pernah menyadari semua yang dikatakan oleh Putra. "Aku tidak bisa melarang orang untuk menyukai aku Put..."
__ADS_1
Biasanya Putra adalah teman bercandanya, tapi kali ini pembicaraan mereka cenderung serius. Topik pembicaraan yang sebenarnya Dina hindari.
Membicarakan Toni membuat Dina seolah-olah membuka luka lama dan juga kenangan manisnya bersama Toni di satu waktu yang sama. Dina masih menyayangi Toni.
Ia berharap berpacaran dengan Dendy mengalihkan perhatian dan perasaannya dari Toni. Ia ingin membuang jauh-jauh ingatan dan perasaannya pada Toni.
"aku tahu kamu masih sangat menyayanginya, jangan mencari pelarian ketika hatimu masih dimiliki orang lain, semua itu hanya akan membuat hubunganmu yang baru selalu dibayang-bayangi masa lalu"
"jangan lawan perasaanmu karena semakin kamu lawan, kamu semakin tak bisa melupakannya, karena semakin kamu berusaha melupakannya, kamu akan semakin mengingatnya"
Putra menatap Dina yang hanya diam saja, tak memberikan tanggapan atas apa yang ia ucapkan. Putra menyukai Dina tapi ia memilih menjadi penghibur bagi Dina, yang selalu membuat Dina tertawa dengan cerita-cerita konyolnya.
"maafkan aku Din....kalau nasehat konyolku ini membuat kamu tidak nyaman" ucap Putra dengan nada penyesalan
Dina menoleh ke arah Putra dan tersenyum "terima kasih Put...berkat kamu aku tidak merasa kesepian di kelas ini"
"itu gunanya teman kan?" Putra menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"iya...teman yang selalu menghiburku dengan cerita-cerita baru setiap hari" Dina terkekeh
"kalau memang kamu merasa masih mencintai Toni, jangan lanjutkan hubunganmu yang sekarang, kasihan dia yang jadi tempat pelarianmu, dan juga dirimu yang harus memaksakan hatimu untuk terbuka menerima kehadiran orang lain" Putra menarik kedua sudut bibirnya ek atas
"iya Put...aku masih mencoba untuk menjalani semua ini, aku ingin segera lulus, agar aku tak harus bertemu Toni lagi"
Meski sulit, Dina mencoba untuk mencintai Dendy. Dendy sosok yang telah mampu membuat Dina menerima kehadiran orang baru dalam hatinya.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g