
Karena sudah terlalu lama mereka berada di air terjun itu, Toni memutuskan untuk mengajak Dina kembali ke atas. Seperti sewaktu mereka turun tadi, Toni menggandeng tangan Dina, ia menuntun Dina agar tidak terjatuh.
Sesampainya di atas, Toni membuka mobilnya dan memasukkan gitar di kursi belakang. Kemudian ia membukakan pintu agar Dina bisa naik. Toni menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah.
"sejak kapan kamu bisa mengendarai mobil?" tanya Dina menatap Toni
"sejak aku kelas dua SMP, tapi baru boleh bebas membawa mobil sekarang ini" Toni terkekeh
Mereka telah sampai di rumah Toni. Mbok Nah membukakan pintu garasi agar Toni bisa memasukkan mobilnya. Toni membukakan pintu untuk Dina kemudian ia membantu Dina turun dari mobilnya.
"sudah sore aku pulang ya Ton..." ucap Dina
"aku antar ya..." ucap Toni sambil mengunci pintu mobil.
"tidak usah aku bisa pulang sendiri..." jawab Dina dengan senyum tipisnya
"tapi Din...!"
"tidak Ton... Aku pulang sore seperti ini, kalau tahu aku diantar cowok pasti papaku akan marah besar" jawab Dina
"baiklah...." ucap Toni sedih sambil mengeluarkan motor Dina dari dalam garasi
"hati-hati di jalan...jangan ngebut..." pesan Toni
"iya....dahhh..." Dina melambaikan tangannya dan mulai melajukan motornya.
"mbok...tolong ambilkan kunci motorku!" teriak Toni. Mbok Nah setengah berlari membawa kunci motor Toni dan menyerahkannya.
"mau kemana lagi mas?"
"menyusul Dina..!" Toni melajukan motornya, mengikuti Dina dari belakang.
Ia ingin mengetahui dimana rumah Dina dan memastikan Dina sampai rumah dengan selamat. Ia mengikuti Dina agak jauh di belakang Dina. Ia takut Dina akan marah jika mengetahui dirinya mengikuti Dina pulang.
Lima belas menit perjalanan, Dina telah sampai di rumahnya. Toni merasa lega karena Dina sudah sampai rumahnya. Ia pun memutar balik motornya tak jauh dari rumah Dina.
Keesokan harinya, hari kemerdekaan Indonesia. Dina berangkat siang karena hanya ada upacara bendera di sekolahnya. Dina sampai di sekolah bertepatan dengan bel masuk. Ia langsung menuju ke lapangan bawah untuk upacara.
Toni sejak tadi sudah menunggunya dengan cemas, tidak biasanya Dina terlambat. Karena menunggu Dina tak kunjung tiba, ia memutuskan langsung ke lapangan upacara, tanpa mencari Toni terlebih dahulu, ia pikir nanti saja setelah pulang dari upacara dia mampir ke rumah Toni.
Toni terkejut karena Dina sudah berbaris di lapangan. Ia bergegas menghampiri Dina.
"jam berapa kamu datang?!" tanya Toni dengan nada sedikit tinggi
__ADS_1
"hah...?!" Dina kaget mendengar Toni bertanya dengan nada sedikit tinggi.
"baru saja!" jawab Dina ketus.
Toni melewati Dina dengan perasaan kesal. Ia kemudian berdiri di baris paling belakang.
Upacara bendera telah selesai, semua siswa membubarkan diri untuk pulang.
"jangan lupa...kelas kita nanti sore mengikuti upacara penurunan bendera di alun-alun kota!" teriak Roy
Dina bergegas meninggalkan lapangan upacara, ia merasa kesal tiba-tiba Toni berbicara ketus terhadapnya. Dina setengah berlari menaiki tangga. Toni yang melihat Dina buru-buru meninggalkan lapangan berlari mengejarnya.
Di tengah-tengah tangga Toni bisa mengejar Dina. Toni meraih tangan Dina.
"tunggu!" ucap Toni
Dina hanya menatap datar kepadaa Toni dan menepis tangan Toni. Kemudian ia berjalan menaiki tangga lagi.
Toni mengikuti Dina dari belakang. Setelah sampai di anak tangga terakhir Toni menarik tangan Dina dan membawanya ke sudut gedung sekolah yang sepi.
"Ton...lepaskan!" Dina berusaha melepaskan genggaman tangan Toni
Toni diam mengabaikan protes dari Dina. Dia tetap menarik Dina, kemudian ia mendorong Dina di sudut gedung sekolah. Toni mengukung Dina dengan tatapan emosi.
"kamu kenapa Ton?!"
"aku? Kamu yang kenapa?! Kenapa kamu menghindariku?!" ucap Toni dengan nada tinggi
"menghindar bagaimana? Kamu yang mulai duluan! Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba kamu berbicara membentakku!" Dina berteriak
"kamu tidak tahu aku menunggumu?! Aku mengkawatirkan kamu! Tapi kamu tiba-tiba sudah sampai di sekolah!" Toni berteriak
"maaf soal itu, aku datang waktu bel berbunyi, aku kira semua sudah berada di lapangan!"
"seharusnya kamu bisa mencariku dulu Din!" Toni emosi
"sudahlah Ton...kalau kamu masih emosi lebih baik kita tidak usah berbicara dulu!" Dina meninggalkan Toni dan berjalan dengan cepat ke parkiran motornya, yang Dina inginkan hanya segera pulang.
Toni emosi Dina meninggalkan dia sendiri dalam keadaan emosi. Ia memukul dinding yang ada di hadapannya sampai tangannya memerah. Kemudian ia berjalan pulang dengan raut wajah emosi.
Sesampainya di rumah Roy, Bian, Angga dan beberapa teman lainnya sudah menunggunya di teras rumahnya.
"dari mana saja kamu? aku kira sudah pulang ternyata belum, pasti pacaran dulu" ucap Bian
__ADS_1
Roy hanya diam, ia tahu raut wajah Toni. Toni sedang tidak baik-baik saja. "sudah-sudah kalian pulang dulu saja, nanti jam dua harus sudah berkumpul di alun-alun" Roy mengusir teman-temannya
Bian dan teman-teman pulang, tinggalah Roy yang berada di rumah Toni.
"ada apa? Aku tadi melihat Dina buru-buru meninggalkan lapangan" tanya Roy
"Dina marah!" jawab Toni singkat
"marah? Seorang Dina marah?!" Roy tidak percaya apa yang ia dengar. Ia sangat menegenal Dina, Dina tidak mungkin marah tanpa sebab. Apalagi mereka baru resmi berpacaran kemarin.
"nyatanya begitu!" jawab Toni ketus
"kalau Dina marah, berarti ada sesuatu yang benar-benar tidak ia sukai" ucap Roy membela Dina.
"aku tidak ingin ikut campur dengan masalah kalian, tapi Dina bukan tipe yang mudah marah, bicarakan baik-baik dengannya dia pasti akan memaafkanmu" ucap Roy bijak kemudian ia berjalan menuju motornya dan mengambil helmnya.
"aku membentaknya!" ucap Toni
Roy menghela nafasnya, meletakkan kembali helmnya, dan berjalan menghampiri Toni.
"kamu membentaknya?!" Roy menarik kerah baju Toni
"aku mengalah membiarkan Dina bersamamu hanya untuk kamu bentak?! Hah?!!" Roy emosi ia begitu menyayangi Dina
Toni diam ia juga bingung, kenapa dia bisa sangat marah hanya karena Dina terlambat datang.
"sekarang apa salah Dina?! Dia selingkuh?!" Roy masih belum melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Toni. Toni menggeleng ia takut dengan Roy, bertahun-tahun ia mengenal Roy baru kali ini Roy begitu marah.
"lantas apa salah Dina, Ton.... Hah?!!" Roy mengangkat tangannya yang mengepal hendak memukul Toni.
"kamu jangan jadi pengecut Ton...! Beraninya membentak cewek!" Roy melepaskan cengkraman tangannya
"segera minta maaf padanya! atau putuskan Dina! Aku tidak menyangka kamu itu seorang pengecut!" Roy kesal dan meninggalkan Toni dan menyalakan motornya kencang. Roy meninggalkan Toni yang masih termenung sendiri..
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ritualnya ya bestie
Terima kasih sekebon bestie..
__ADS_1