Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 70 Prestasi


__ADS_3

"tapi di sana ada pacarnya, Roy...." ucap Toni


"memangnya kenapa?" Roy mengerutkan dahinya


"tadi aku saja diusir" jawab Toni lirih


Roy tergelak "seorang Toni diusir cewek? Baru kali ini aku dengar" tawa Roy semakin kencang "ayo...kalau pergi denganku pasti tak akan diusir" Roy berdiri kemudian masuk ke kamarnya.


Tak lama Roy keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi. Toni pun mengikuti Roy berjalan keluar rumah "satu hal yang perlu kamu ingat, jangan membuat keributan, jangan terlalu banyak bicara, bicara seperlunya saja"


"itu bukan cuma satu" gerutu Toni


"kamu mengerti kan maksudku?"


"iya....iya.....bawel...udah kaya mamaku saja kamu ini" gerutu Toni


Mereka berdua pergi ke rumah sakit, pikiran Toni terus teringat pada Dina tadi pagi. Ia tak menyangka, Dina bisa memaafkan pacarnya yang jelas-jelas telah membuatnya sakit dan harus dirawat di rumah sakit.


Mereka berdua berjalan menuju ke ruang perawatan Dina, Roy mengetuk pelan kemudian ia masuk ke dalam tampak Dina yang sedang tidur membelakangi pintu.


"mau apa kalian ke sini?" tanya Dendy datar


"aku ingin menjenguk Dina, tapi sepertinya Dina sedang tidur" ucap Roy menatap Dina


Dina membalik badannya "eh...kamu Roy...dari mana...kamu tahu....?" ucapan Dina terhenti ketika melihat siapa yang berada di belakang Roy.


"kamu sakit apa?" Roy berjalan mendekati Dina mengabaikan keberadaan Dendy yang dari tadi berdiri mematung menatap dirinya dan Toni


"kamu sudah tahu aku sakit apa bukan?" Dina terkekeh


"kenapa bisa sampai seperti ini? Selama aku mengenalmu paling kamu mengeluh sakit tapi enggak perlu sampai nginep di rumah sakit" Roy melirik Dendy


Dendy menatap Roy dengan tatapan tidak suka. Ia cemburu, marah, tapu ia tak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"dia begini karena berantem Roy" Toni berjalan angkuh mendekati Roy melewati Dendy


"Toni...! Bukankah aku sudah menyuruhmu pulang?!" Dina sedikit marah


"jangan marah, aku yang memintanya mengantarku, lagipula sebaiknya kamu jangan marah-marah nanti sakitmu makin parah" Roy terkekeh


"kamu itu sahabatku atau sahabatnya dia sih?! Lebih membela dia daripada aku?" Dina mengerucutkan bibirnya


"kalian berdua sahabatku...." ucap Roy tersenyum lembut pada Dina


"selalu saja" Dina mengerucutkan bibirnya. Roy tergelak, ia paling tahu bagaimana membuat Dina tak lagi protes.


Mungkin Dina sudah tak lagi memendam rasa pada Roy, tapi Roy masih tetap menyayanginya. Sikap Roy yang tenang dan tak mudah terpengaruh akan semua yang ia dengar membuat Dina selalu percaya dan nyaman bercerita padanya.


"kapan kamu boleh pulang?" tanya Toni menyela pembicaraan Roy dan Dina


"Ton..." Roy menatap Toni sambil menggelengkan kepalanya


"mungkin besok boleh pulang..." jawab Dina tanpa ekspresi


"terima kasih Roy...jangan lupakan temanmu yang selalu bikin masalah ini ya..." Dina terkekeh


"pasti....teman yang selalu menyusahkan aku" Roy tergelak


Roy mengajak Toni untuk pulang, ia tahu Toni masih tidak terima melihat Dina hanya berdua dengan Dendy. Ia tak percaya Dendy bisa menjaganya dengan baik.


"kenapa kamu meninggalkan Dina berdua dengan anak itu?!" ucap Toni ketus


"sudahlah...kalau kamu masih mudah tersulut emosimu, Dina tak akan mau bertemu denganmu lagi" jawab Roy datar


Roy melihat jika Toni masih belum bisa mengendalikan emosinya. Ia tak mungkin berlama-lama menjenguk Dina bersama Toni karena hanya akan membuat Dina marah padanya apalagi ada pacar Dina di sana.


Roy bisa melihat, ada rasa tidak nyaman pada tatapan Dina. Ia tak ingin memperburuk keadaan. Ia tak tahu bagaimana cara membuat Toni bisa bersikap lebih dewasa dan tak mudah emosi lagi.

__ADS_1


Ia kasihan pada Dina dan juga Toni, mereka berdua korban dari keegoisan Bian yang kini sudah tak ada di kota ini tapi akibat yang ditimbulkan oleh keegoisannya tetap mempengaruhi Dina dan Toni.


Hari-hari berlalu, Dina sudah diperbolehkan pulang. Beberapa kali Toni ke rumah Dina, tapi dari kejauhan ia melihat pacar Dina ada di rumah Dina. Ia pun menurungkan niatnya untuk menemui Dina.


Bahkan saat penguman hasil tes masuk perguruan tinggi negeri ia sangat ingin ke rumah Dina, ia ingin tahu Dina lolos apa tidak. Tapi lagi-lagi ia melihat pacar Dina berada di rumahnya.


Dari Roy, Toni mengetahaui jika Dina tidak diterima di jurusan yang sangat ia impikan. Tapi Roy tidak menceritakan rencana Dina selanjutnya bagaimana.


Toni pun hanya memilih mendaftar di kampus swasta di kotanya, sebagai bentuk protes pada mamanya yang terlalu suka mengatur-atur kehidupan anak-anaknya.


Toni juga mulai belajar mengelola bisnis papanya. Ia memilih belajar mengelola bisnis papanya di kota J karena masih relatif kecil dan menurutnya cocok untuk tempatnya belajar.


Sebelum perkuliahan dimulai ia memilih tinggal beberapa waktu di kota J. Di sana ia menjadi pegawai magang dan belajar dari orang kepercayaan papanya. Toni serius ingin belajar mengelola perusahaan papanya, agar ia terbebas dari mamanya yang selalu mengatur dan menginginkan anak-anaknya untuk mengikuti jejaknya menjadi politikus.


Di kota J Toni berkenalan dengan dengan seorang cewek bernama Andini. Andini adalah anak dari salah satu karyawan yang bekerja di kantor papanya.


Andini cewek yang cantik, bahkan lebih cantik dari Dina. Ia pemalu dan tak pandai bergaul. Toni menganggap Andini teman baiknya karena sering membantunya dan Toni mengenal baik papanya.


Meskipun sering berdekatan dengan Andini, hati Toni masih tertutup, ia masih belum bisa membuka hatinya untuk orang lain. Selama satu bulan penuh ia berada di kota J banyak hal yang ia dapatkan.


Toni termasuk anak yang cerdas, dia dengan cepat belajar. Dalam satu bulan ia mampu meningkatkan keuntungan kantor cabang lumayan banyak.


Papanya sangat bangga dengan pencapaian Toni. Bahkan papanya berjanji jika selama enam bulan berturut-turut ia mampu membantu meningkatkan keuntungan secara signifikan, paapanya akan memberinya bonus. Papanya berjanji akan membelikan rumah untuknya di kota J.


Meski begitu papanya juga tak ingin Toni mengabaikan kuliahnya. Ia harus tetap kuliah seperti teman-teman seusianya. Bagi papanya Toni pendidikan tetap nomor satu.


Selama satu bulan itu, Toni juga bisa mengalihkan pikirannya. Ia mulai bisa menerima kenyataan jika Dina sudah ada yang memiliki. Ia juga banyak belajar untuk bisa mengendalikan emosinya.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2