Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 143 Karena Cemburu


__ADS_3

Toni tiba di kos Dina dengan perasaan tak menentu, dari kejauhan ia melihat Dina sedang berada di teras bersama seseorang. Toni turun dari mobil dan menghampiri Dina. Ia kesal mendengar ucapan Dendy tadi, kini rasa kesal itu berubah menjadi marah melihat Dina sedang bersama dengan cowok lain.


Dina masih belum menyadari kehadiran Toni. Ia masih asyik bercanda dengan cowok itu. Toni mnegepalkan tangannya, ia merasa diabaikan oleh Dina.


"Din..." suara Toni terdengar begitu dingin, sorot matanya tajam. Dina menoleh mendengar suara Toni, senyumnya mengembang menyambut kedatangan Toni.


"sudah pulang kuliah?"


"sudah..." jawab Toni singkat


"kamu masih ingat kan....Widi?" Dina menydari Toni marah namun ia berusaha untuk tetap tenang


"ingat...mau apa dia di sini?" ucap Toni dengan sorot mata tajam


"aku hanya mengunjungi sahabatku..." Widi tersenyum sinis


"oh....." ucap Toni dengan nada meremehkan "Dina calon istriku"


"aku tahu..." ucap Widi datar dengan sorot mata terlihat kesal


"kalau tahu kenapa masih di sini?"


"Ton....!" Dina kesal "dia sahabatku, kenapa kamu begitu?"


Toni semakin kesal, Dina membentaknya karena Widi "dia yang membuat kita dulu berpisah Din..."


"tidak perlu bahas masa lalu" ucap Dina dingin


Widi terkekeh melihat pertengkaran antara Toni dan Dina "tidak perlu bertengkar, aku memang sudah mau pulang" Widi beranjak berdiri "jangan kecewakan Dina lagi" Widi menepuk bahu Toni kemudian meninggalkan Toni dan Dina


Toni marah, marah karena ia begitu cemburu dengan cowok-cowok yang ada di sekitar Dina. Dina meninggalkan Toni di teras kosnya, ia juga kesal, Toni masih saja marah jika ia bertemu dengan cowok lain.


Toni menyusul Dina ke kamarnya, namun pintunya tertutup dan terkunci dari dalam. Toni berusaha mengetuk pintu Dina berkali-kali namun diabaikan oleh Dina.


"sayang...buka pintunya, atau aku dobrak..." Toni mengetuk pintu kamar Dina dengan kencang, teman satu kos Dina hanya bis geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Toni


Sepuluh menit menunggu, Dina tak kunjung membukakan pintu untuk Toni. Toni mulai kehilangan kesabarannya, ia pun mulai menggedor-gedor pintu kamar Dina dengan kencang.


Terdengar anak kunci diputar, dan pintu terbuka, Dina terlihat sangat kesal "berisik! Kamu mengganggu anak kos lainnya"


"kamu yang membuatku melakukannya Din..." Toni sangat kesal


Dina menutup pintu kamarnya dan menguncinya "kalau mau ribut jangan di sini!" Dina menuruni tangga kosnya. Toni menyusul Dina kemudian menarik tangannya dan membawanya ke mobilnya.

__ADS_1


Toni membawa Dina ke rumahnya, ia masih terbakar amarah. Toni meninggalkan Dina di ruang tamunya dan berjalan menaiki tangga. Dina hanya bisa menghela nafas, ia pun duduk di sofa ruang keluarga.


Ia menghibur dirinya dengan menonton acara tv. Ia malas jika harus merayu Toni, karena bukan dirinya yang salah. Dina mendiamkan Toni, membuat Toni semakin kesal.


"kenapa kamu diam saja?!" Toni menghampiri Dina yang asyik menonton tv


"memangnya kenapa?" ucap Dina santai


Toni duduk di samping Dina kemudian mengambil remot tv kemudian mematikan tv.


"Din....!"


"apa?!"


"jelaskan! Mau apa Widi ada di kosmu?!" Toni sedikit membentak Dina. Dina hanya diam, ia marah, merasa Toni tak menghargai dirinya. Lagi-lagi Toni membentaknya, dan melupakan janjinya.


"kenapa kamu diam?!"


"jika kamu masih membentakku, aku akan pergi" Dina beranjak dari duduknya


"kamu mengancamku?!"


"perbaiki dulu sikapmu, baru temui aku..." Dina berjalan meninggalkan Toni di ruang keluarga. Toni berlari menyusul Dina, dengan sekali gerakan Toni berhasil menggendong tubuh Dina.


Toni membawa Dina ke kamarnya di lantai 2 "kamu itu milikku Din.....jangan membuat aku marah" Toni menurunkan tubuh Dina di atas tempat tidurnya.


"aku keterlaluan?! Kamu yang keterlaluan Din...!" Toni berdiri di hadapan Dina


"kamu marah-marah tanpa sebab, membentakku, itu bukan keterlaluan?!"


"kamu yang keterlaluan, kamu calon istriku tapi masih bertemu dengan cowok lain!"


"cemburumu itu keterlaluan Ton...kalau kamu masih emosi lebih baik aku pulang" Dina beranjak dari duduknya


"iya...aku cemburu...iya aku marah...itu karena kamu Din...! Karena kamu bertemu dengan cowok lain di belakangku! Kamu itu milikku Din" Toni tampak frustasi


Dina tergelak "aku memang milikmu, tapi jika kamu tidak bisa mengontrol emosi dan rasa cemburumu aku akan pergi"


"kamu mencintaiku atau tidak Din?!" Toni marah, frustasi, cemburu bercampur menjadi satu


"kamu masih meragukanku, setelah aku menyerahkan diriku padamu? Dengan apa lagi harus aku buktikan Ton?!" Dina berteriak


Toni maju mengikis jarak dari Dina, ia kemudian mencium Dina dengan kasar. Ia tak kuasa membendung rasa cemburunya. Ia mulai meraba tubuh Dina dan melepas baju Dina dengan paksa.

__ADS_1


Dina tidak terima ia mendorong tubuh Toni "kamu ini kenapa? Hah?!"


"aku mau bukti jika kamu memang milikku!"


Dina menampar Toni dengan kencang "harus dengan apa lagi Ton? aku sudah memberikan milikku yang paling berharga untukmu, tapi kamu masih tidak percaya, apa lagi yang kamu inginkan?!" Dina mulai histeris


Toni terduduk di atas tempat tidurnya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya "aku nggak suka kamu bersama cowok lain Din...!"


"kalau kamu tidak percaya padaku, kenapa kamu masih mempertahankan aku?!" Dina berurai air mata


"aku mencintaimu Din...aku nggak mau kehilangan kamu lagi" Toni berdiri menggapai tubuh Dina


"berulang kali aku bilang, perbaiki sikapmu, jangan membentak aku lagi, percaya padaku, tapi kamu selalu seperti ini, aku harus bagaimana Ton?"


"maaf....maaf....maaf..." Toni memeluk tubuh Dina "aku cemburu...aku tidak bisa mengontrol emosiku...maaf" Toni terisak


"aku sudah menyerahkan semuanya padamu, aku milikmu tak mungkin aku lupa itu" Dina terisak


"iya...iya...aku takut di hatimu ada cowok lain selain aku..." Toni mnegeratkan pelukannya


Dina menyadari jika di dalam hati kecilnya ia masih menyimpan rasa untuk Dendy, namun hanya dirinya yang tahu tak seorangpun menegetahuinya, kenapa Toni bisa mengetahuinya.


Dina tahu ia juga salah, ia masih menyimpan rasa itu, namun ia berusaha untuk menebus rasa bersalahnya dengan menyerahkan dirinya seutuhnya pada Toni dengan harapan hubungannya bersama Toni akan lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


"cukup percaya aku Ton...dan jangan membentakku, sakit Ton...." tangis Dina pecah


"iya...maafkan aku....aku tidak bisa melihatmu bersama cowok-cowok dari masa lalumu"


Dina mengurai pelukannya "Widi itu sahabatku, sama seperti Roy, dengan Roy kamu tidak marah tapi kenapa dengan Widi kamu seprti ini?"


"Widi pernah berusaha memisahkan kita Din, aku tidak bisa menerimanya" Toni kembali memeluk Dina


"Widi tahu kamu telah melamarku, jangan cemburu padanya, dia hanya ingin menjagaku"


"aku yang akan menjagamu...bukan dia" Toni mengeratkan pelukannya.


Terkadang Dina terlihat bodoh, ia kembali memaafkan Toni yang telah membentaknya berkali-kali. Dina sendiri merasa bersalah karena ia telah menghianati Toni dengan masih menyimpan rasa untuk orang lain.


Dina merasa itu pantas ia dapatkan, meskipun itu tidak benar. Dina mengenal Toni, Toni cowok pencemburu sekaligus penyayang. Itulah kekurangan Toni yang ia harus ia terima.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2