Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 66 Senyum


__ADS_3

Melihat Toni yang begitu telaten menjaga Dina, merasa bersyukur Dina memiliki teman yang begitu baik dan sopan. Apalagi ia sudah mengenal orang tua Toni, meskipun sudah puluhan tahun mereka tidak bertemu.


Beberapa teman Dina yang ia anggap anak yang sopan dan tentunya sudah mengetahui latar belakang keluarganya, Roy dan Widi termasuk salah dua di antaranya.


Mamanya Dina mengenal mamanya Roy karena mereka dulu pernah satu sekolah sewaktu masih SD kebetulan rumah nenek Roy tak jauh dari rumah nenek Dina dulu.


Sedangkan Widi, papanya salah satu rekanan kantor papanya Dina. Otang tua Dina hanya akan merasa lebih tenang ketika Dina dekat dengan teman-teman yang mereka sudah tahu latar belakang keluarga mereka.


Terkesan egois dan kaku memang, tapi itu semua mereka lakukan demi anak perempuan merek satu-satunya. Mereka tak ingin Dina terjerumus dalam pergaulan yang tidak benar.


Setelah memastikan Dina sudah mau makan, dan kondisinya sudah mulai membaik. Mamanya memutuskan untuk pulang mengingat mamanya tadi meninggalkan adik-adik Dina waktu tidur siang.


"Din, mama pulang dulu, kasihan adik-adikmu di rumah sendirian" ucap mama Vera


"iya ma" ucap Dina


"maaf tante merepotkan kamu ya.. Ton, kalau mau pulang, Dina tidak apa-apa ditinggal" ucap mama Vera dengan senyum ramahnya


"tidak apa-apa tante, saya akan menjaga Dina sampai Om Joni datang" ucap Toni


"ya sudah tante pulang dulu, salam untuk mama papa ya" ucap mama Vera kemudian meninggalkan ruang rawat Dina


Sepeninggal mamanya, Dina hanya diam pandangannya tertuju layar televisi. Tapi Dina tidak fokus terhadap apa yang ia tonton. Ia masih enggan untuk berbicara dengan Toni.


Dina ingin ke toilet lagi, ia berusaha bangun dari tempat tidurnya. Toni yang melihat Dina berusaha untuk turun dari tempat tidurnya dengan sigap membantunya. Dina diam tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Toni sadar Dina masih tidak nyaman dengan kehadirannya, tapi ia sudah berjanji kepada mamanya Dina untuk menjaga Dina sampai papanya datang. Dina diam tak menolak apa yang Toni lakukan untuknya saja Toni sudah sangat berterima kasih.


Dengan sabar Toni menunggu Dina di depan toilet. Memapah Dina kembali ke brankar nya. Toni memperlakukan Dina seolah-olah Dina pasti akan jatuh jika ia tidak memegangnya.


Tak terasa sudah sore hari, menghabiskan waktu dengan orang yang disayangi sungguh membuat waktu terasa berputar begitu cepat. Sudah jamnya Dina mandi sore, tapi Dina enggan ke kamar mandi karena ia malu ada Toni di situ. Menunggu papa atau mamanya datang pasti juga lama.


"kamu mau mandi Din? Ini sudah sore, atau mau aku panggilkan perawat?" tanya Toni lembut


"ambilkan tasku saja Ton" ucap Dina datar


Toni mengambilkan tas yang dimaksud Dina. Dina membukanya dan mengeluarkan bajunya. Kemudian ia beranjak dari brankar dan mengambil kantong infusnya.

__ADS_1


"kamu kalau butuh bantuan bilang Din, jangan seperti ini kamu masih lemah" ucap Toni kawatir


"aku mau mandi" ucap Dina datar


Toni membantu Dina berjalan ke kamar mandi, kemudian ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Kemudian ia duduk kembali di kursinya menunggu Dina selesai mandi.


Terdengar suara pintu terbuka, terlihat papanya Dina sudah datang. Toni berdiri menyambut papanya Dina dan menyalaminya.


"sore om" ucap Toni


"Dina di mana?" tanya papanya Dina


"sedang mandi om" jawab Toni


"ck...ya sudah kamu pulang saja" ucap papanya Dina dengan aura yang membuat orang bisa lari terbirit-birit


"baik om...sore..." Toni tidak membantah, karena ia tahu papanya Dina orang yang tidak suka dibantah.


Toni 'pun pulang, setelah seharian menemani Dina. Ia merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Dina meskipun berada di rumah sakit. Dengan hati berbunga-bunga ia keluar dari rumah sakit dan menuju ke tempat parkir motor.


Dendy 'pun juga menatap Toni dengan kilatan amarah. Ada rasa cemburu dan marah di hatinya. Toni buru-buru meninggalkan rumah sakit. Melihat pacarnya Dina membuat ia naik darah.


.


.


Keesokan harinya Toni datang lagi ke rumah sakit tempat Dina dirawat. Pagi-pagi ia sudah berada di ruang rawat Dina. Ia datang membawa majalah remaja kesukaan Dina. Ia berharap semoga dengan majalah itu Dina tidak terlalu bosan.


"bagaimana kabarmu? Sudah lebih baik?" tanya Toni lembut


"lumayan" ucap Dina sedikit tersenyum. Wajahnya tak lagi pucat seperti kemarin


"aku bawakan majalah untukmu, obat buat mengusir rasa bosan" Toni terkekeh


"terima kasih" ucap Dina dengan raut wajah sedikit ceria


Dina menerima majalah tersebut dan mulai membacanya. Ia membolak-balik majalah dan kadang tersenyum entah apa yang membuatnya tersenyum. Tapi Toni bahagia, melihat Dina hari ini sedikit ceria daripada kemarin.

__ADS_1


"aku kemarin bertemu pacarmu di depan, apa dia dari sini?" tanya Toni hati-hati


"tidak" wajah Dina terlihat murung, Toni menjadi kawatir takut kalau Dina stres lagi


Toni mencoba untuk menghibur Dina dengan bercerita yang lucu-lucu. Dina hanya sedikit tersenyum mendengar candaan Toni. Belum pernah Dina melihat Toni melucu seperti itu.


Melihat Dina tersenyum karena candaannya hati Toni berbunga-bunga. Sudah lama ia tak melihat senyum Dina. Setiap mereka bertemu, hanya wajah datar yang Toni terima.


Jam makan siang pun tiba, makanan Dina sudah diantar. Toni mengambil meja makan pasien kemudian mendorongnya mendekat ke brankar Dina.


"Biarkan aku makan sendiri Ton..." ucap Dina menatap Toni dengan tatapan tak sedatar kemarin.


"biar aku menyuapi kamu, kamu masih sakit..." jawab Toni lembut


"aku masih bisa makan sendiri Ton..." Dina mulai mendebat Toni


"Din.....kamu masih belum sembuh benar, biarkan aku yang menyuapimu, oke?" ucap Toni lembut


"mentang-mentang mama yang menyuruhmu" Dina mencebik


"kalau kamu tidak sakit aku tidak punya kesempatan untuk menyuapi kamu" Toni membuka tutup makanan Dina


"iya...iya..." ucap Dina kesal


Toni mulai menyuapkan makanan ke mulut Dina. Sesekali Toni melontarkan candaan-candaan untuk Dina. Dina sekuat tenaga menahan senyumnya karena terlihat lucu ketika Toni bercanda, bukan candaannya yang lucu. Toni melihat sekilas Dina tersenyum, ia pun menyunggingkan bibirnya.


Sesuap-demi sesuap makanan itu masuk ke mulut Dina hingga tinggal setengahnya. Bertepatan pintu diketuk dan tiba-tiba dibuka dengan kasar.


Toni menatap kesal ke arah pintu "apa tidak tahu ini rumah sakit?" gumam Toni yang hanya didengar oleh Dina. Sedangkan Dina hanya menatap datar pada orang yang datang.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2