Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 161 Cemas


__ADS_3

Lama resepsionis itu membaca daftar karyawan berulang kali namun ia tak menemukan nama yang disebut oleh Bagas.


"jangan-jangan Dina yang kamu maksud tunangan si bos?" resepsionis itu menatap Bagas


"bukan...tunangan bos aku sudah pernah bertemu"


Resepsionis itu mengerutkan keningnya "benarkah?"


"iya, orangnya cantik, modis, tapi galak" Bagas terkekeh


Resepsionis itu semakin bingung, tunangan Toni yang ia tahu, ramah kepada semua orang, tidak mungkin galak seperti yang dimaksud Bagas.


'kamu sudah sembuh?" suara seseorang menghentikan perdebatan antara Bagas dan resepsionis itu. Orang itu berdiri di depan mereka dengan menggandeng orang yang sedang mereka bicarakan.


"pa...pagi bos...pagi nona...." resepsionis itu bangkit dari duduknya "saya sudah sembuh"


"kak Mega sakit apa? Kok sudah lama nggak kelihatan?" ucap Dina tersenyum ramah


"itu non...saya habis kecelakaan" jawab Mega memaksakan senyumnya. Sedangkan Bagas masih menatap Dina dengan tatapan yang tak Dina suka


"aku ke atas dulu..." ucap Toni kemudian menggandeng Dina berlalu dari hadapan mereka.


"katanya nggak kenal dengan sekretaris bos yang baru? buktinya dia tahu nama kamu" cibir Bagas


"kamu itu bodoh atau bagaimana? Itu tunangan bos, ya pasti dia tahu namaku" Mega terkekeh


"tunangan? Bukan itu tunangan si bos Mega..." Bagas masih tidak terima


"terserah mau percaya atau tidak, tunangan bos ya cuma itu..." Mega kesal


"bukannya dia sekretaris bos yang baru?" Bagas masih tak percaya


"Non Dina itu hanya membantu bos, kalau Raya nggak ada"


"tapi dia juga menggoda Ridwan"


"sudah...sudah...kamu itu anak baru di sini jangan macam-macam dengan Non Dina...atau kamu tanggung resikonya" Mega kesal kemudian ia melanjutkan pekerjaannya lagi.


Sedangkan Bagas masih tidak percaya dan menganggap Dina itu cewek murahan yang rela melakukan apa saja demi mewujudkan keinginannya.


Toni duduk di meja kerjanya, ia memeriksa dokumen-dokumen yang telah menumpuk di mejanya. Toni larut dalam kesibukannya hingga tak menghiraukan keberadaan Dina.

__ADS_1


"sayang...." Dina duduk di depan Toni


"hemm..." Toni tak menatap Dina


"kenapa bukan kak Mega saja yang menggantikan kak Raya...?"


"dia itu nggak sepintar Raya..." jawab Toni sambil membaca


lembaran-lembaran kertas di hadapannya


"daripada kamu cari lagi malah nggak dapet-dapet, lebih baik orang yang sudah kamu kenal lama dan sudah tahu kemampuannya"


Toni menatap Dina "kamu saja ya sayang..." ucap Toni menarik satu sudut bibirnya ke atas


"nggak mau....!" ucap Dina ketus


Toni tergelak "baiklah nanti aku bicara dengan Ridwan, sekarang tolong bantu aku menyelesaikan semua ini, jam 2 aku harus bertemu klien"


Dina pun mengambil berapa lembar dokumen dan membantu memeriksanya. Dua jam berlalu mereka telah menyelesaikan setumpuk dokumen yang tadi berada di meja kerjanya.


Toni pun keluar mengantar Dina pulang ke kosnya sedangkan dirinya menemui klien yang sudah membuat janji dengannya.


Bagas masih saja berkeinginang mendapatkan Dina, ia masih beranggapan Dina itu cewek murahan


.


Dina mendapat jadwal di jam kedua. Perasaannya campur aduk, semalaman ia tak bisa tidur. Ia cemas, takut jika nantinya ia tak akan lulus. Ia tak ingin mengulang tugas akhirnya dari nol lagi.


pukul delapan pagi Toni menjemput Dina di kosnya. Toni memegang tangan Dina yang terasa dingin seperti es.


"kamu kenapa sayang?" Toni *******-***** tangan Dina


"aku takut Ton..." ucap Dina lirih


"takut apa?"


"takut aku gagal ujian nanti, takut nggak lulus" ucap Dina gugup


"Dina yang aku kenal itu pintar, nggak mungkin nggak lulus" Toni berusaha menenangkan Diba


"tapi aku itu orangnya nggak percaya diri kalau harus presentasi di depan orang" Dina mendelik

__ADS_1


Toni terkekeh "kamu ini...kamu berani menghadapi orang-orang yang mengganggumu, kenapa presentasi kamu takut, kamu itu aneh"


"Toni...!" Dina kesal


"iya...iya..." Toni tergelak


"nggak lucu..."


"sayang....selama kamu mengerjakan semua sendiri, dan kamu menguasai apa yang kamu tulis, nggak ada yang perlu kamu takuti" Toni tersenyum teduh "dosenmu nggak ada apa-apanya jika dibanding ketika kamu bertemu klien, besok ketika kamu jadi istriku kamu akan mengalaminya juga"


"kalau begitu aku nggak mau jadi istrimu" Dina mengerucutkan bibirnya


"lhoh...kok begitu?"Toni terkejut


"kalau jadi istrimu aku disuruh bertemu klien mending aku mundur sejak sekarang" Dina mengerucutkan bibirnya


"iya...iya...kamu tenang saja" Toni menarik Dina ke dalam dekapannya dan membelai lembut rambut Dina.


Papanya Toni, sejak lama memaksa Toni mengambil alih perusahan induk yang saat ini masih ia kelola. Tapi Toni selalu menolak, alasannya ia masih belum mampu, Toni berjanji akan menggantikan papanya nanti setelah ia menikah dengan Dina.


Papanya menyetujui permintaan Toni dengan syarat, Toni harus segera menikah dan setelah menikah Dina juga harus mau membantunya mengurus perusahaan.


Bukan tanpa alasan papanya Toni memberikan syarat itu. Selama ini Toni selalu menjadikan Dina alasan untuk menghindar dari semua kewajibannya. Dan papanya Toni melihat Dina mampu menjadi tangan kanan sekaligus rekan kerja yang bisa diandalkan oleh Toni.


Syarat yang berat bagi Toni, tapi tak ada pilihan lain. Ia tak ingin berjauhan dengan Dina. Terakhir kali ia menggantikan sementara posisi papanya, hubungan mereka berdua menjadi renggang.


Toni tak ingin hal itu terjadi lagi. Toni ingin menunggu Dina lulus, dan menepati janjinya memberikan Dina kesempatan menikmati masa mudanya.


"kita berangkat sekarang?" tanya Toni lembut


"iya..." Dina mengambil tas serta semua bahan presentasinya nanti


Toni mengantar Dina ke kampus, ia pun merasakan hal yang sama. Toni pun juga kawatir Dina tak lulus. Jika Dina tidak bisa lulus secepatnya, maka ia juga belum bisa melamar Dina secara resmi kepada kedua orang tuanya.


Toni mengikuti Dina berjalan ke ruang sidang yang berada di lantai dua kampusnya. Mereka berdua duduk di kursi depan ruang sidang itu menunggu giliran.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2