
Sejak acara perusahaan Toni hubungan Dina dan Toni semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Kini setiap akhir pekan Toni bisa mengantar Dina pulang ke kota K.
Toni benar-benar membuktikan semua ucapannya. Perlahan Dina mulai melupakan nama Dendy, dan menggantinya dengan Toni.
Toni juga memberi Dina kebebasan untuk melakukan apa yang ia sukai. Dina masih tetap bisa pergi bersama teman-temannya selama ia bisa menjaga diri dan hatinya.
Toni memberinya kepercayaan penuh pada Dina, meski begitu terkadang Toni menyuruh Ridwan untuk mengawasinya dari jauh hanya untuk memastikan Dina baik-baik saja.
Perusahaan Toni pun semakin berkembang, sekarang nama Toni cukup dikenal dikalangan pebisnis di kota J. Toni juga merencanakan membuka restoran seperti candaannya bersama Dina beberapa waktu lalu, namun Dina belum mengetahuinya.
Toni masih mengumpulkan modal dan juga mencari konsep untuk usaha barunya itu. Toni tak ingin melibatkan perusahaan papanya dalam rencananya itu. Ia ingin usaha barunya itu murni dari jerih payahnya sendiri.
Tak ada hubungan yang benar-benar lancar tak ada masalah apapun. Karena kedewasaan mereka berdua mereka mampu melalui masalah-masalah yang terjadi dalam hubungan mereka.
Ujian akhir semester telah dekat, Dina fokus pada ujiannya begitu juga dengan Toni. Mereka berdua sepakat untuk fokus pada ujian masing-masing dan sementara waktu tak bertemu.
Namun bukan Toni namanya jika ia tak bisa mencari celah agar bisa bertemu dengan Dina. Banyak alasan yang ia buat agar bisa menemui Dina. Dina pun mengalah, ia pun membatalkan perjanjian mereka.
"Toni...aku ada praktikum, dan juga laporan yang harus aku kerjakan, tolonglah..." Dina kesal karena Toni tertidur di kosnya
"kalau mau berangkat...berangkat saja, aku mau tidur dulu, aku capek" jawab Toni kembali memejamkan matanya
"mana bisa begitu...ini kos cewek Ton...bukan kos cowok...lagipula rumahmu cuma di seberang jalan kan..." Dina semakin kesal
"baiklah...aku pulang" ucap Toni beranjak dari tempat tidur "ini kunci rumahku, aku mau kembali ke kantor, saat aku pulang nanti aku ingin makan masakan kamu" Toni memberikan kunci cadangan rumahnya untuk Dina
"kamu dengar tidak, aku ada laporan praktikum yang harus aku kerjakan" Dina kesal, Toni semakin manja padanya.
"iya aku dengar...tolonglah...please...ya...ya..." ucap Toni memohon "dua hari lagi aku harus keluar kota, papa meminta bantuanku bertemu kliennya aku ingin malam ini kamu tidur di rumahku karena aku belum tahu sampai kapan aku di luar kota aku pasti akan sangat merindukanmu "
Dina semakin kesal permintaan Toni tidak masuk akal menurutnya "baiklah...antar aku ke kampus, jemput aku sepulang dari kantor, aku mau mengerjakan laporanku di kampus, malam ini aku menginap di rumahmu" ucap Dina datar
"baik...terima kasih sayang...." Toni mengecup pipi Dina
Toni mengantar Dinq ke kampus, di kampusnya tak banyak yang tahu siapa pacar Dina, hanya teman-teman dekatnya yang mengetahui cerita tentang Dina.
Toni menurunkan Dina di lobi fakultasnya "jangan dekat-dekat sama cowok lain" ucap Toni santai
__ADS_1
"ya ampun.....kamu tahu sendiri temanku banyak cowoknya daripada cewek, dan teman sekelompokku juga cowok semua" Dina kesal
Toni tergelak "iya...iya sayang...selama kamu bisa menjaga hatimu aku percaya padamu"
Dina turun dari mobil Toni kemudian ia berjalan ke arah laboratorium. Sejak ia berpacaraj dengan Toni langkah kakinya terasa lebih ringan, ia lebih sering tersenyum pada siapa saja.
"Din...." sapa seseoramg dari arah belakang. Dina mengenali suara itu dan ia tak menghiraukannya ia terus berjalan ke arah laboratorium. Namun orang yang memanggil namanya mengikutinya.
Dina berhenti dan membalik tubuhnya "kenapa mas mengikutiku?" tanya Dina datar
"aku ingin bicara denganmu... Tolong ini yang terakhir kalinya..." ucap Bimo
"baiklah...di sana saja...sebentar lagi aku masuk kuliah" ucap Dina menunjuk ke arah kursi-kursi yang terletak di depan laboratorium
"jangan di kampus...." ucap Bimo
"lantas di mana? hari ini banyak yang harus aku kerjakan mas..." Dina menghela nafasnya
"di resto M sebelah kampus dua bagaimana?" ucap Bimo
"baiklah...tapi aku enggak bisa lama-lama" jawab Dina kemudian meninggalkan Bimo sendiri
"sudah selesai?"
"sudah...mas menungguku?"
"iya...aku sengaja menunggumu...ayo..." Bimo mengulurkan tangannya ingin menggandeng Dina namun tak dihiraukan
Mereka berdua berjalan beriringan ke arah parkiran motor. Bimo membonceng Dina ke resto dekat dengan kampus mereka.
Bimo memilih duduk di sudut restoran itu, ia sengaja memilih duduk di sana karena menginginkan tempat yang lebih sepi untuk mereka bicara.
"sekarang mas mau bicara apa?" tanya Dina
"sebentar, aku pesan makanan dulu, aku belum makan dari pagi" ucap Bimo sambil membolak-balik buku menu
Dina hanya bisa diam, ia melihat Bimo sekarang terlihat kurus, dan terlihat kusut. Bimo memesan makanan kesukaan Dina. Dina hanya bisa menatap datar pada apa yang dilakukan Bimo
__ADS_1
Mereka berdua makan dalam diam, sesekali Bimo memperhatikan Dina yang terlihat semakin cantik dan semakin modis.
"sekarang mas mau bicara apa? Aku masih banyak tugas yang harus aku selesaikan" ucap Dina meletakkan gelas yang baru saja ia minum
Bimo meletakkan sendok dan garpunya kemudian ia meneguk minumannya.
"bulan depan aku wisuda..." ucap Bimo
"selamat atas kelulusanmu mas..." ucap Dina mengulurkan tangannya, Bimo menatapnya nanar, bukan itu yang ia harapkan. Bimo pun mengulurkan tangannya "terima kasih"
"jadi hanya ini yang ingin mas bicarakan padaku?"
"begitu bencinya kah dirimu padaku Din...?" Bimo terlihat frustasi
"aku tidak membencimu mas..."
"lantas...kenapa kamu melarangku mendekatimu, dan juga kamu menghindariku?" tanya Bimo mengiba
"mas...hubungan kita sudah berakhir..." ucap Dina sedikit meninggi
"tidak adakah kesempatan lagi untukku?" Bimo mengiba "aku mendapat beasiswa di luar negeri, aku hanya ingin memastikan apakah aku masih punya kesempatan jika aku pulang dua tahun lagi?"
Dina menatap Bimo "selamat atas keberhasilanmu mas..." Dina tersenyum "raihlah cita-citamu, semoga semua yang kamu inginkan bisa terwujud"
"apakah artinya, aku masih memiliki kesempatan untuk bersamamu Din?" Bimo terlihat begitu berharap
"aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, untuk saat ini...hatiku sudah ada yang memiliki" Dina tersenyum
"siapa Din?!" Bimo panik
"ooo...jadi kamu selingkuh di belakang Toni...kasihan sekali Toni...." tiba-tiba suara seorang cewek mendekati mereka.
Dina terkejut, namun ia berusaha setenang mungkin. Bukan karena ia tertangkap basah berselingkuh, namun karena ia berusaha untuk menahan kesal dan emosinya.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g