Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 197 Pulang...


__ADS_3

Akhir pekan adalah waktunya beristirahat dari semua pekerjaan. Menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta, atau hanya sekedar menghabiskan waktu dengan bersantai di rumah. Itu semua tak berlaku untuk Dina dan Toni.


Mereka berdua membereskan barang-barang yang akan mereka bawa pulang. Tidak semua barang mereka bawa, karena tidak akan muat di mobil Toni.


"sayang ini barang-barang mau diapakan?" tanya Dina yang sudah memasukkan barang-barang yang sempat mereka beli ke dalam kardus-kardus besar.


"aku telepon Deni dulu, biar dia yang membantu kita" Toni mengambil ponselnya kemudian menelpon Deni.


"kamu yakin mau mengemudi sendiri sampai kota K?" tanya Dina


"kan berdua bersama kamu sayang?" Toni mencolek hidung Dina


"tapi kan aku tidak bisa mengemudikan mobil" Dina mendelik "lagipula ini perjalanan jauh... Kalau ada orang yang bisa menggantikan kalau kamu capek lebih aman"


"baiklah...aku telepon sopir kantor papa...barangkali ia bisa berangkat malam ini" Toni kemudian menelpon sopir kantor papanya yang biasa ia membantunya


Mereka berdua pun kembali membereskan sisa-sisa barang yang belum mereka masukkan ke dalam kardus. Tak berapa lama, ponsel Toni berbunyi. Toni menerima panggilan tersebut dan ternyata Deni yang menelponnya. Memberitahu jika dirinya sudah sampai di lobi apartemen.


Toni pun segera ke lobi menjemput Deni, karena tidak sembarang orang bisa keluar masuk apartemen tersebut. Hanya penghunilah yang memiliki akses lift untuk naik ke unit mereka masing-masing.


"siang Din...." sapa Deni saat sudah sampai unit apartemen Dina


"eh...Den...duduk dulu...maaf berantakan..." ucap Dina ramah


"iya...terima kasih Din..." Deni pun duduk di sofa ruang tamu Dina


Dina pun memberikan air mineral untuk Deni. Kemudian ia duduk di kursi kecil di seberang Deni. Toni pun duduk di sebelah Deni.

__ADS_1


"begini Den...aku bisa minta tolong, itu di dalam kardus ada barang-barang yang masih layak pakai, terserah mau kamu apakan, kamu buang, berikan ke orang lain atau pakai sendiri terserah" ucap Dina sambil menunjuk kardus yang ada di dekat pintu masuk


"memangnya apa isinya Din?"


"isinya perlatan masak, piring dan lain-lain, masih terhitung baru, aku jarang memakainya, terus seprai selimut juga ada"


"dan satu lagi ada kulkas mini kamu pakai saja..." Toni menimpali


"kalian kapan mau pindah?" tanya Deni


"rencana besok siang kami pulang, menunggu kabar sopir papa dulu, kalau bisa kami berangkat siang, kalay enggak pagi-pagi kami berangkat" ucap Toni


"baiklah...mungkin besok siang aku baru bisa ambil, aku ajak adikku untuk mengankutnya, tolong beritahu satpam di bawah agar aku bisa punya akses ke sini"


"kenapa nggak sekarang saja kamu bawa Den...?" tanya Toni


"tak ada yang membantuku mengangkut barang Ton..." ucap Deni


"masak seorang direktur jadi tukang angkut barang" Deni terkekeh


"itu di kantor jauh di kota J, di sini aku ya sama seperti kamu" ucap Toni kesal. Satu hal yang Deni suka, Toni tak pernah mau jika ia dianggap orang kaya, orang yang punya kedudukan, ia ingin dianggap seperti orang biasa. Lain halnya jika ia di kantor ia mau dipanggil bos, tuan atau pak oleh orang yang dekat dengannya tapi itupun jika berhubungan dengan pekerjaan.


"baiklah...kalau kamu memaksa" Deni terkekeh


Deni dan Toni mulai mengangkut satu per satu kardus ke bawah dan memasukkannya ke taksi Deni. Sebenarnya tidak terlalu banyak barang-barang Dina, namun berat karena sebagian besar berisi barang pecah belah.


Dina pun juga ikut mengangkut barang-barangnya, meskipun mendapat larangam dari Toni namun Dina tetap nekat, ia sudah terbiasa mengangkat beban berat sendirian.

__ADS_1


Setelah dirasa mobil Deni tak muat lagi, Toni pun menyuruh Deni untuk pulang terlebih dahulu dan nanti akan kembali lagi.


.


Keesokan harinya, sedaei pagi Toni dan Dina sudah bersiap untuk pulang. Mereka tinggal menunggu sopir papanya Toni datang. Sopir papanya Toni sudah datang dari semalam namun ia menginap di penginapan di dekat stasiun.


Dina merasa berat meninggalkan apartemen yang telah tiga bulan terakhir ia tempati. Banyak kenangan di sana, di saat ia sendirian, di saat bersama Toni ia sudah merasa nyaman namun mau bagaimana lagi ia harus menepati janjinya.


Tepat pukul sepuluh pagi, sopir yang mereka tunggu pun telah berada di lobi apartemen. Toni dan Dina turun ke bawah, sekalian ke kantor pengelola gedung untuk mengembalikan kunci apartemen.


Setelah semua selesai Toni dan Dina menghampiri sopir papanya, di sana juga ada Deni yang menunggu mereka. Sebenarnya ia ingin menawarkan diri menjadi sopir Toni namun karena adiknya sedang ujian ia mengurungkan niatnya itu.


"kamu di sini Den?" sapa Dina ramah


"iya....aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian berdua" ucap Deni mengulurkan tangannya


"kalau mau berterima kasih....kamu datang ke kota J...aku tunggu..." ucap Toni datar


"baiklah...tapi tunggu beberapa bulan lagi ya....setelah adikku lulus SMA, aku tidak mungkin meninggalkannya di sini sendirian" ucap Deni dengan nada sendu


"aku tunggu...dan pasti akan kutagih janjimu..." Toni menyambut ukuran tangan Deni kemudian memeluknya seraya menepuk punggung Deni.


Setelah berpamitan pada Deni mereka pun meninggalkan apartemen, dan perlahan meninggalkan kota S. Kota yang memberikan Dina pengalaman baru. Kota dimana cintanya dengan Toni diuji kembali.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2