
Dina pergi ke ruangannya, perasaannya campur aduk, antara marah dan bahagia. Ia masih marah pada Toni tentang peristiwa satu minggu yang lalu, namun ia juga bahagia, kini ia bisa berdekatan dengan Toni, ia tak perlu kawatir dengan para ulat bulu yang ingin menempel pada Toni.
Ia membuka pintu ruangannya. Dina bingung, di meja kerjanya terdapat sebuah buket bunga yang besarnya menutupi meja kerjanya. Dina berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambil kartu yang terselip di antara bunga-bunga itu.
Dina membukanya dan membacanya
Calon istriku yang paling kusayang
Aku minta maaf karena selalu membuatmu marah dan cemburu
Aku berjanji akan lebih tegas pada siapapun yang ingin mendekatiku
Senyum dong....jangan cemberut....
-LAW-
Senyum di bibir Dina pun terbit saat membaca kata-kata terkahir di kartu itu. Tiba-tiba dua tangan melingkar di perutnya, memelukny erat, Dina juga merasa ada dagu yang sedang menempel di bahunya.
"kamu menyukainya? Maafkan aku sayang...." ucap Toni lembut sambil menyembunyikan wajahnya di bahu Dina
Dina diam, ia tak menjawab, bagaimanapun sekarang masih jam kerja. Ia harus bersikap profesional. Ia tidak mau perusahaan kacau karena dirinya yang tidak profesional dalam bekerja.
"kenapa diam? Hemm?" Toni menyingkirkan ramnut Dina yang tergerai ke samping kemudian mencium tengkuk Dina. Dina meremang, tak bisa dipungkiri sentuhan Toni mampu membuatnya luluh. Namun demi gengsinya ia pun menetralkan dirinya.
Dina menyelipkan kembali kartu itu di antara bunga-bunga. Ia menepis tangan Toni, dan mengangkat buket itu dan meletakkannya di meja sudut ruangannya.
Semua itu tak lepas dari pandangan Toni, ia benar-benar merasa sedih Dina mengabaikannya. Dina pun mengambil buku agendanya, dan mengangkat berkas-berkas yang perlu diperiksa dan dipelajari oleh Toni.
"mari ke ruangan bos saja, saya akan membacakan jadwal Vanya yang mulai hari ini menjadi jadwal anda" ucap Dina formal
"tapi sayang...." Dina sudah lebih dulu keluar dari ruangannya, ia pun mengusap wajahnya kasar kemudian mengikuti Dina ke ruangannya.
"bos duduk dulu...." Dina berdiri di depan meja kerja Toni "saya akan menjelaskan beberapa hal pada anda" ucap Dina bersikap seprofesional mungkin.
"saya akan menjadi asisten anda, dan Rama menjadi sekretaris anda, saya akan membantu anda menangani klien dan beberapa urusan lainnya, sedangkan Rama ia akan bertugas membuat surat serta laporan-laporan" ucap Dina tegas
__ADS_1
Toni pun menopangkan kedua tangannya di dagunya, menatap Dina penuh damba. Melihat Dina dengan setelan kerja dan dengan lugas menyampaikan hal-hal penting yang harus ia kerjakan membuat ia semakin terpana, di matanya Dina terlihat seksi.
Dina membacakan semuanya tanpa kecuali, meski merasa sedikit gugup karena dari tadi ia diperhatikan oleh Toni namun ia tetap berusaha melakukan tugasnya sebaik mungkin.
"sudah semua?" tanya Toni masih dengan posisi yang sama
"sudah bos..." jawab Dina tegas "apa ada permintaan khusus?"
"ada....jangan panggil aku bos jika kita sedang berdua, telingaku sakit mendengarnya" ucap Toni dengan satu sudut bibir terangkat
"ada lagi?"
"ada...panggil sekretarisku sekarang..." ucap Toni
Dina pun keluar memanggil Rama yang sebelumnya mnejadi sekretaris Vanya. Dina kembali ke ruangan Toni bersama seorang pria berkulit putih bertubuh tinggi dengan kacamata tebal yang bertengger di hidungnya.
"ini Rama bos, sekretaris anda" ucap Dina memperkenalkan Rama
Toni menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya "aku ingin ruangan ini sedikit direnovasi" ucap Toni sambil menautkan kedua telunjuknya
"ruangaan ini sangat luas, aku ingin memiliki sebuah ruangan khusus tempat istirahat untukku semacam kamar pribadi begitu" ucap Toni dengan tatapan jahil
"maaf bos... Pak Yanuar tidak mengijinkan adanya perubahan pada ruangan ini, itu sudah pesan dari beliau beberapa waktu yang lalu" ucap Dina
Seketika Toni merasa lemas, keinginannya untuk bisa menghabiskan waktu bersama Dina pupus sudah. Ia sudah membayangkan akan sering bercinta di ruangan pribadinya itu. Bercinta di kantor pasti akan sangat menyenangkan pikirnya.
"kalau sudah tidak ada yang diperlukan lagi, saya akan keluar, siang ini saya ada pertemuan dengan PT Abadi Jaya" ucap Dina memberitahu jadwalnya
"kenapa kamu? Harusnya kan aku!" ucap Toni ketus
"karena dari awal saya yang menangani kerja sama dengan mereka, Bos pelajari dokumen-dokumen ini dulu nanti akan dibantu oleh Rama" ucap Dina sambil menyerahkan beberapa dokumen di hadapan Toni
"tapi sayang....!" Toni hendak protes
"maaf saya harus segera berangkat sekarang..." Dina mencoba untuk tidak tertawa melihat wajah Toni yang terlihat sangat kesal. Dina pun keluar dari ruangan Toni dan kembali ke ruangannya untuk mengambil barang-barang serta kunci mobilnya.
__ADS_1
"harusnya kamu pergi denganku!" ucap Toni dengan nada tak ingin dibantah
"maaf bos.....kita harus membagi tugas kita, karena dari awal mereka yang meminta aku untuk menangani kerja sama ini, kamu pelajari saja dulu dokumen serta proposal kerja sama yang aku tunjukkan tadi, sudah ya....aku hampir terlambat" ucap Dina buru-buru meninggalkan Toni. Ia ingin memberi pelajaran pada Toni agar tidak seenaknya saja mengatakan jika dirinya sengaja melupakan kekasihnya itu.
Toni hanya bisa mengusap wajahnya kasar, ia tak tahu lagi harus bagaimana meluluhkan hati Dina kembali jika Dina terus-terusan menghindari dirinya.
Dina bertemu dengan kliennya di Resto C, pertemuan itu hanya berlangsung selama satu jam. Dina masih punya waktu untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke kantornya.
Di saat seperti ini ia butuh temab bicara. Dina mengambil ponselnya dan menekan nomor Ani namun tak ada jawaban, ia kemudian menekan nomor Roy.
"halo Roy....kamu sedang sibuk?"
^^^📞"aku sedang bertemu dengan costumer ku di luar ada apa?" ^^^
"aku sedang butuh teman mengobrol"
^^^📞"nanti aku ke kantormu setelah bertemu dengan costumer"^^^
"jangan...jangan di kantor...aku sedang di luar baru selesai meeting dengan klien"
^^^📞"kamu dimana, nanti aku akan ke sana"^^^
"aku di Resto C"
^^^📞"baik...sepuluh menit lagi aku sampai" ^^^
Dina pun mematikan panggilannya "sepuluh menit? Memangnya dia dimana?" gumam Dina
Dina pun menunggu Roy sambil menikmati suasana resto yang terasa nyaman, dan di jam makan siang seperti itu, pengunjung dihibur oleh band yang membuat suasana semakin nyaman.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g