Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 164 Demi....


__ADS_3

Terdengar suara pintu diketuk, kemudian pintu itu terbuka. Muncullah orang yang telah membuat Dina marah dan sakit hati. Dina berusaha setenang mungkin, ia duduk dengan santai memperhatikan apa yang akan Toni lakukan.


"duduk" ucap Toni dingin


Bagas duduk di seberang Toni dengan wajah terlihat tenang. Sedangkan Dina sekuat tenaga berusaha untuk tenang dan tak terganggu dengan keberadaan Bagas.


"kamu tahu kenapa aku panggil ke sini?" tanya Toni dingin


"tidak pak" jawab Bagas santai


"sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"


"sekitar lima bulan pak"


"kamu sudah tahu kan siapa yang duduk di sofa itu?" Toni menoleh ke arah Dina


Bagas menoleh ke arah Dina "i..iya..sudah pak..." Bagas sedikit gugup


"mulai hari ini saya turunkan posisi kamu menjadi office boy" ucap Toni tegas dengan wajah penuh amarah


"tapi salah saya apa pak?" protes Bagas


"kamu masih berani bertanya?! Lihat baik-baik siapa wanita itu? Apa yang sudah kamu perbuat?!" Toni membentak Bagas


Bagas menoleh menatap Dina dengan tatapan tidak suka. Dina beranjak dari duduknya "kamu ini kenapa? Kenapa tiba-tiba menurunkan posisi karyawanmu tanpa alasan?"


"itu karena kamu Din!" Toni kesal


"memangnya aku kenapa?" Dina menghampiri meja Toni


"aku sudah memberi kamu kesempatan untuk menceritakan apa yang telah terjadi selama kamu di sini tapi kamu hanya diam"


"memangny apa yang sudah terjadi?"


"kamu dianggap wanita gampangan oleh dia kan?!" Toni menunjuk Bagas


"dari mana kamu tahu?" Dina kebingungan, inilah yang ia takutkan, Toni akan bereaksi berlebihan ketika tahu yang sebenarnya.


"di kantor ini banyak mata yang mengawasi kamu! Banyak telinga yang bisa mendengar semua ucapanmu! Kenapa kamu harus menyembunyikan kejadian itu Din?!" Toni tampak marah


Bagas bingung, melihat Toni dan Dina yang tampak berdebat di depannya.

__ADS_1


"aku hanya nggak mau kamu marah besar Ton..."


"tapi kamu sudah dihina, dilecehkan Din...aku nggak terima itu, apalagi yang telah melakukannya adalah karyawanku"


"sudahlah sayang....itu sudah lama..." ucap Dina "jangan kamu hukum Bagas karena masalah pribadi"


"kenapa kamu membelanya? Jika sekarang dia tidak aku hukum akan ada orang lain yang dia lecehkan!"


Dina berbalik menatap Bagas "meskipun aku marah, aku benci tapi aku sudah memaafkan kamu, jangan kamu pikir semua wanita itu mudah dibeli dengan uang!"


"i...i..ya...Din..." ucap Bagas gugup


"kamu beruntung aku hanya menurunkan posisi kamu! Jika aku mendengar kamu mengulanginya lagi, maka jangan pernah menyesal atas apa yang akan terjadi pada kamu!" ucap Toni dingin, sorot matanya penuh amarah seolah ingin membunuh orang yang ada di hadapannya


"i..i..ya...pak...saya minta maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi" Bagas tertunduk, ia marah juga sekaligus takut.


"sudahlah...Ton...Bagas sudah meminta maaf, kembalikan posisinya kembali" ucap Dina


"dia saja tidak mengakui perbuatannya dan meminta maaf padamu, biarkan saja ia menyadari kesalahannya" nada bicara Toni mulai turun


"tapi kasihan dia Ton..."


"waktu dia menggodamu dan merendahkan kamu dia tidak memikirkan akibatnya kenapa aku harus berbaik hati padanya"


"Dina...cukup....! kamu kenal aku kan...? ini hukuman yang sangat ringan untuknya!"


Dina kembali duduk di sofa, ia sebenarnya lega, bisa membalas sakit hatinya tanpa perlu bersusah payah, tapi ia juga tidak tega Toni menurunkan posisi Bagas di kantornya.


Protes pun percuma, ia tahu sifat Toni yang tak menerima penghinaan apalagi kekasihnya dihina oleh karyawannya sendiri. Dina hanya bisa diam memperhatikan Bagas yang mencoba menjelaskan meskipun sudah terlambat.


Bagas keluar dari ruangan Toni dengan perasaan marah. Ia melihat Mega yang sedang bekerja di mejanya. Bagas menghampiri Mega dan berdiri di depan meja kerjanya.


"pasti kamu yang menceritakan pada si bos" ucap Bagas penuh amarah


Mega mendongak menatap Bagas "apa untungnya aku menceritakan pada bos?"


"di kantor ini hanya kamu yang tahu tentang aku dan Dina"


Mega terkekeh "hati-hati dengan si bos, ia punya banyak mata dan telinga, jangan sampai bos marah besar bisa fatal akibatnya"


"jangan berkelit, pasti kamu sumbernya..."

__ADS_1


"bukan aku Gas...nggak ada untungnya aku melapor pada bos" Mega melanjutkan pekerjaannya.


Mereka berdua sama-sama tidak tahu siapa yang melapor pada Toni. Toni punya cara tersendiri untuk melindungi Dina. Toni lebih kawatir Dina berada di kantornya daripada di kampus.


Di kantornya Toni kerap melihat karyawannya yang menatap Dina dengan tatapan memuja, dan sesekali terlihat akan menggoda Dina, karena Dina memang menarik dan selalu baik dan ramah kepada siapa saja.


Setelah peristiwa yang baru saja terjadi, sikap Dina tampak berubah, ia menjadi pendiam karena menahan kesal pada Toni.


"sayang...ayo pulang..." ucap Toni lembut. Tanpa sepatah katapun Dina bangkit derdiri kemudian ia berjalan keluar dari ruangan Toni. Toni pun mengikuti Dina, ia bingung dengan perubahan sikap Dina.


"sayang...kenapa kamu diam saja?" Toni meraih tangan Dina dan menggandengnya.


"kamu itu keterlaluan...!" Dina mengerucutkan bibirnya


Toni menyadari Dina marah, ia mempercepat langkahnya menggandeng Dina masuk ke dalam mobilnya.


Toni membawa Dina pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Toni menarik Dina masuk ke dalam rumahnya.


"sayang....aku lakukan semuanya itu demi kamu... Hatiku sakit Din...mendengar kamu diremehkan, dilecehkan seperti itu..." Toni frustasi


"tapi tindakan kamu itu berlebihan ..!"


"itu jauh lebih baik daripada aku menghajarnya habis-habisan"


"tapi aku baik-baik saja Ton..."


"kamu nggak tahu rasanya, kekasihmu, calon istrimu dilecehkan seperti itu rasanya harga diriku diinjak-injak Din...! Mau ditaruh dimana wajahku jika aku tidak bisa melindungi dan membela kamu?!" Toni sudah kehabisan kata-kata bagaimana agar Dina tidak mengungkit-ungkit masalah ini lagi.


"hatiku sakit Din...kamu ngerti nggak sih?!" Toni menarik rambutnya ia tak mungkin meluapkan amarahnya pada Dina


Dina terduduk, memikirkan semua ucapan Toni. Sebagai lelaki pasti memiliki harga diri yang tak boleh diinjak-injak oleh siapapun. Menghina orang yang ia sayangi sama halnya menginjak-injak harga dirinya.


Dina menyadari ia terlalu meremehkan masalah ini. Ia pikir dengan ia menyimpan semua untuk dirinya sendiri masalah akan selesai, nyatanya tanpa ia sadari justru itu menimbulkan rasa sakit bagi Toni.


Padahal di balik itu semua Dina hanya tak ingin dianggap sebagai pengadu, ia tak ingin menimbulkan masalah yang lebih besar karena ia tahu bagaimana Toni menyikapi setiap masalah yang menyangkut dirinya.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


Jangan lupa like, vote dan komennya ya bestie...


__ADS_2