
Perlahan Dina mulai memaafkan Dendy, ia tahu Dendy tak benar-benar ingin menyakitinya. Dan Dina juga menyadari, Dendy memiliki rasa cemburu yang begitu besar.
Meski tak selalu menunjukkan di depannya jika cemburu, tapi Dina menyadari semua itu. Ia berpikir mungkin kecemburuan Dendy, karena ia juga kawatir akan kelanjutan hubungan mereka kelak.
Dina akan berkuliah di luar kota, dan hubungan jarak jauh belum tentu berhasil. Dina pun juga takut hal itu, ingin rasanya ia memutuskan Dendy sekarang sebelum perasaannya terlalu dalam.
Tapi ia bimbang apakah itu keputusan yang tepat baginya. Dina takut ia akan goyah ketika bertemu orang-orang baru di kampus barunya kelak. Dan ia juga takut Dendy akan mencari pelarian lagi jika mereka berjauhan.
Tapi Dina juga tak bisa memungkiri, ini kali pertama ia disambut hangat dalam sebuah keluarga. Kebersamaan dalam keluarga Dendy membuatnya iri. Mereka begitu terbuka satu sama lain, tidak seperti di keluarganya yang terlalu kaku.
Sebenarnya, sekarang adalah saat yang tepat jika ia ingin putus dari Dendy dengan semua masalah yang terjadi di antara mereka. Tapi Dina berpikir lagi, dan mencoba mengikuti kata hatinya.
Ia akan mencoba untuk menjalani apa yang telah mereka mulai. Ia mencoba untuk menjalani hubungan jarak jauh sampai mereka atau mungkin salah satu dari mereka merasakan kejenuhan.
"aku ingin menghirup udara segar..." Dina mendorong tiang infus berjalan ke arah pintu belakang ruang rawatnya, di sana ada semacam teras kecil. Dendy membantunya berjalan dan mendorong tiang infusnya kemudian memastikan duduk dengan nyaman.
.
"Argh....sial....aku bangun kesiangan!" ucap Toni kesal ketika ia bangun tidur jam di kamarnya menunjukkan pukul tujuh lebih lima puluh menit
Toni bergegas membersihkan dirinya, kemudian mengambil jaket serta kunci mobilnya dan turun ke bawah.
"kamu mau kemana buru-buru?" tanya papanya yang sedang duduk di ruang keluarga
"mau ke rumah sakit pa..." ucap Toni berjalan sambil berlalu
"siapa yang sakit Ton...?!" mamanya Toni muncul dari ruang makan
"teman ma....sudah aku sudah terlalu siang!" Toni berlari ke garasi
"siapa yang sakit mbok? Toni sampai buru-buru" tanya papanya Toni
"itu Den...non Dina...sudah beberapa hari ini mas Toni menemani non Dina di rumah sakit" ucap mbok Nah sambil meletakkan secangkir kopi di meja
"Dina siapa?" tanya mamanya Toni melihat ke arah papanya Toni lalu ke mbok Nah meminta jawaban
"temannya Toni ma...." jawab papanya Toni santai
__ADS_1
"teman? Kalau cuma teman buat apa dia repot-repot menemani di rumah sakit" seperti biasa mamanya Toni tidak suka dengan tingkah laku anak-anaknya yang tidak sesuai keinginannya
"pacar Toni..." jawab papanya Toni santai
"pacar? Toni sudah punya pacar? Anak siapa? Orang tuanya kerja dimana? Pengusahan atau pejabat?"
"sudahlah ma...biarkan anak-anak menentukan pilihannya sendiri, mereka sudah besar sudah bisa memilih yang terbaik untuk mereka" papanya Toni melipat koran yang ia baca
kemudian meminum kopi dan pergi ke ruang kerjanya.
Toni berlari dari tempat parkir, ia takut Dina sedang sendirian di ruang rawatnya. Ia kawatir Dina akan jatuh atau kambuh tapi tak ada yang menemaninya
Toni berlari menuju ruang rawat Dina, Toni membuka pintu dan tak menemukan Dina. Kamar dalam keadaan kosong, ia melihat pintu ke arah teras belakang terbuka.
Dina..." Toni memanggil Dina karena sekilas ia melihat rambut Dina berada di teras belakang Dina hanya menoleh ke belakang melihat siapa yang datang. Toni berjalan mendekat dengan senyuman yang terkembang
"maaf Din...aku terlambat" Toni sampai di ambang pintu belakang ruang rawat Dina. Ketika Toni sudah berada di dekat Dina, betapa terkejutnya dia, melihat Dina sedang berdua dengan Dendy. Toni menatap tak suka pada Dendy
"Dina, kenapa dia ada di sini bukannya ia yang membuatmu sakit?" tanya Toni menahan rasa sakit , marah dan cemburu yang berkecamuk di dadanya
"iya tapi kan...." ucapan Toni seakan melayang di udara melihat Dina membelai tangan Dendy yang sedang memegang pundaknya
"baiklah...aku pulang saja...syukur kamu sudah lebi baik, kalau ada apa-apa kamu kabari aku" ucap Toni membalikkan badan dan berjalan keluar ruang rawat Dina
Setelah kepergian Toni, Dina menarik tangannya kembali. Dia melakukan itu bukan karena sudah melupakan kesalahan Dendy tapi hanya karena ia tak ingin ada keributan di antara Dendy dan Toni. Bagaimanapun juga Dendy masih menjadi pacarnya.
Dina bangkit berdiri dan meraih tiang infusnya dan mendorongnya pelan
"kamu mau apa Din?" tanya Dendy meraih bahu Dina serta membantu mendorong tiang infusnya
"aku capek, aku mau tiduran" ucap Dina
Dina merebahkan tubuhnya di atas brankar, kemudian ia memejamkan matanya "maafkan aku Ton...tapi aku harus memilih salah satu dari kalian...kamu tak akan pernah kulupa, kamu pacarku yang pertama tapi kamu juga yang pertama menorehkan luka di hatiku" batin Dina.
Toni berjalan dengan langkah gontai, ia tak menyangka pengorbanannya beberapa hari ini tak membuat Dina memberikannya kesempatan kedua.
Toni melajukan mobilnya ke rumah Roy, karena hanya Roy yang bisa mengerti apa yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
"tumben pagi-pagi kamu ke sini?" cibir Roy sambil membukakan pintu pagar rumahnya
"aku dari rumah sakit" ucap Toni lesu tatapannya terlihat kosong
"kamu sakit?" tanya Roy mengikuti Toni
Toni duduk di teras rumah Roy "Dina yang sakit Roy..."
"sakit?" Roy terkejut tatapannya penuh rasa kawatir
"sudah beberapa hari dia dirawat di rumah sakit, dan aku yang menemaninya" tatapan Toni menerawang jauh
"sakit apa Ton? Lantas kalau dia di rumah sakit buat apa kamu ada di sini?!" Roy tak bisa menahan emosinya
"kamu pasti sudah tahu, Dina punya sakit lambung kan?"
Roy hanya mengangguk, ia memang tahu Dina punya sakit itu sudah sejak lama, tapi tak pernah Dina mengeluh sampai ia harus terbaring di rumah sakit.
Toni menghela nafasnya, menceritakan semua yang ia lihat tempo hari, dan apa yang ia lakukan selama Dina di rumah sakit. Roy terlihat geram, tak pernah Dina selemah itu.
"ayo kita ke rumah sakit...aku ingin melihat Dina..." ucap Roy datar
Ia kawatir dengan Dina, biar bagaimanapun juga, Dina adalah cinta pertamanya.
Meski mereka sudah memutuskan untuk bersahabat tapi Roy tak bisa menghilangkan rasa itu dari hatinya. Kini ia menyadari kenapa Dina memilih menjadikannya teman dekat.
Ia melihat hubungan Dina dan pacar-pacarnya terlihat begitu rumit bahkan berujung tak saling sapa. Roy beruntung dirinya tak mengalami hal yang sama dengan Toni.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Jangan lupa ya...like, komen dan votenya ya...terima kasih sekebon bestie
__ADS_1