Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 177 Permainan tanya


__ADS_3

Toni merasa sudah tak ada daya lagi untuk menjawab pertanyaan papa Dina. Ia sudah pasrah jika memang usahanya harus terhenti sampai di sini.


Dina pun juga ikut cemas, ia bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba berubah. Padahal tadi sebelum kedatangan keluarga Toni, papanya biasa saja bahkan sempat bercanda dengan adik-adiknya tak ada raut wajah tidak suka.


"bagaimana?" papanya Dina masih menunggu jawaban dari Toni.


Toni bingung harus menjawab apa, tak terpikirkan olehnya jika lamarannya ditolak oleh papanya Dina.


"kalau memang om tidak menerima lamaran saya, saya bisa apa" jawab Toni lesu sambil menatap Dina yang tertunduk "tapi jika Dina ingin saya memperjuangkan agar om merestui kami berdua saya akan berusaha" lanjutnya.


Kata-kata Toni yang baru saja diucapkan membuat Dina mengangkat wajahnya menatap Toni. Dina tak tahu harus berkata apa, ia benar-benar dibuat bingung dengan keadaan ini.


"bagaimana caranya?" lagi-lagi papanya Dina memberikan pertanyaan. Toni merasa jika semakin ia menjawab maka akan ada pertanyaan lagi untuknya.


Toni bingung harus menjawab apalagi, ia memutar otaknya agar jawabannya kali ini tidak akan memunculkan pertanyaan baru lagi.


"apa yang om minta jika saya sanggup akan saya lakukan, namun jika saya tidak sanggup saya akan menyerah" kata-kata itu terucap begitu saja dari mulut Toni ia tak tahu lagi harus bagaimana membuat papanya Dina berhenti bertanya.


"meskipun..." ucapan papa Dina terhenti


"sudah pa....papa tidak lihat Toni sudah pucat pasi begitu?" ucap mama Dina lembut. Mamanya Dina tidak tega melihat Toni yang terpojok wajahnya terlihat pucat pasi dan keringat sudah membasahi dahi dan wajahnya.


Terdengar helaan nafas dari papanya Dina, ia masih belum puas menguji calon menantunya itu, tapi apa yang dikatakan istrinya itu benar, ia juga merasa kasihan melihat Toni yang sudah lesu itu.


"baiklah....karena mamanya Dina yang meminta saya untuk menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya masih banyak dan ingin jawaban dari Toni saya akan berhenti bertanya"


"jadi bagaimana Jon...?" tanya papanya Toni yang ikut merasa cemas menunggu jawaban dari papanya Dina.


"Dina apa kamu menerima lamaran Toni?" papanya Dina beralih menatap Dina. Dina hanya mengangguk dan tersenyum pada papanya itu.

__ADS_1


"apa kamu yakin akan menikah dengannya?" tanya papanya Dina kembali


"iya pa...Dina yakin..." jawab Dina malu-malu


"karena Dina sudah yakin...." papa Dina menjeda ucapannya "baiklah saya terima..." jawab papanya Dina disambut dengan senyuman dari papanya Toni


"a..aa..paa...om?" Toni membulatkan matanya merasa tidak percaya apa yang ia dengar


"ckkk....ya sudah aku batalkan saja...." papanya Dina tampak kesal


"ah...iya..om...terima kasih..." wajah Toni berseri-seri ia kemudian meraih tangan papanya Dina dan menciumnya


"sudah...sudah...jangan berlebihan...." papanya Dina tersenyum tipis


"aahhh....akhirnya....adikku yang nakal ini akan menikah juga mendahului aku...." celetuk Vanya


"ck...anak..." ucapan Vanya terhenti ketika mendapat tatapan tajan dari papanya


"kalian ini bisa tidak akur sebentar, ini di rumah calon mertua Toni" papanya Toni menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian terdengar gelak tawa dari semua yang hadir di sana melihat kakak beradik yang sudah terbilang dewasa namun masih saja tak akur.


"ya sudah...sekarang saatnya kalian bertukar cincin" ucap Vanya sedikit kesal sambil berdiri membawa sebuah kotak beludru berwarna merah.


Toni dan Dina pun berhadapan kemudian dengan senyum yang dari tadi menghiasi wajah mereka berdua.


"ini pakaikan di jari manis Dina" Vanya menyerahkan sebuah cincin berlian mata satu namun sedikit lebih besar dari cincin blue saphir yang dulu Toni pakai untuk melamar Dina.


Toni mengambilnya dari tangan Vanya, kemudian meraih telapak tangan kiri Dina. "sayang simpan cincin ini, dan pakailah cincin pertunangan ini sebagai tanda aku telah mengikatmu untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi" ucap Toni sambil melepas cincin blue saphir yang selalu dipakai oleh Dina yang diberikan oleh Toni sewaktu Toni melamarnya di depan teman-temannya dan memakaikan cincin yang baru.


"cantik..." ucap Toni kemudian ia mencium telapak tangan Dina

__ADS_1


"sudah...jangan lama-lama" vanya sedikit kesal karena Toni memamerkan keromantisan mereka "sekarang giliran kamu Dina" ucap Vanya lembut menyerahkan cincin yang akan Dina pakaikan di jari manis Toni.


Dina pun meraih tangan kiri Toni dan langsung memakaikan pada jari manis Toni. Dina tersenyum menatap Toni, akhirnya ia akan menikah dengan orang yang pernah melukai hatinya namun mencintainya setulus hati.


"dan ini juga hadiah dari papa...." papanya Toni berdiri kemudian sambil memegang kotak beludru warna biru yang terlihat lebih besar dari yang Vanya pegang. Kemudian ia menyerahkan pada mama Vera


"bukalah Din..." ucap papanya Toni. Mama Vera menyerahkan kotal itu kepada Dina kemudian ia membukanya, mata Dina tampak terkejut menatap satu set perhiasan desain sederhana namun terlihat begitu cantik.


"tolong Ver...pakaikan pada Dina..." ucap papanya Toni


"seharusnya mamanya Toni yang melakukannya, bukan aku Yan" mamanya Dina terkekeh "kalau begitu ayo Vanya bantu tante memakaikannya" mamanya Dina menoleh ke arah Vanya


Mama Vera dan juga Vanya memakaikan perhiasan yang tadi diberikan oleh papanya Toni. "kamu cantik Din....nggak salah adikku yang bandel itu memilih kamu" ucap Vanya sedangkan Dina hanya tersipu mendengar ucapan calon kakak iparnya.


"ckk...kakak...!" Toni menatap kakaknya kesal


"sudah...sudah....jangan berdebat....kalian ini seperti anjing dan kucing saja...." papanya Toni benar-benar malu karena tingkah laku kedua anaknya itu.


Papanya Dina menyunggingkan senyumnya melihat keluarga calon besannya itu "kalian ini seperti Alan dan Nino saja yang setiap hari selalu saja ribut" kemudian diiringi gelak tawa dari semua yang hadir di sana.


Suasana yang tadi begitu menengangkan akhirnya berakhir dengan gelak tawa dari semua yang hadir di sana. Bahkan mbok Nah terharu dengan apa yang ia lihat. Akhirnya setelah penantian lama, anak yang diasuhnya bisa mendapatkan restu dari orang tua Dina.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2