
Mereka semua tampak menikmati pesta ala anak muda tersebut. Seorang pembawa acara meminta Toni dan Dina naik ke atas panggung kecil yang terletak di sebelah DJ berada. Panggung yang dihias sederhana dengan hiasan bunga segar berbentuk hati dan juga lampu-lampu kecil yang membuat terlihat sangat romantis.
"silakan Mr and Mrs Toni Wijaya mengucapkan apa yang ingin diucapkan malam ini" ucap pembawa acara
Toni mengambil alih mic yang dipegang oleh pembawa acara kemudian ia mulai berbicara mengucapkan terima kasih pada semua tamu dan juga semua pihak yang membantunya mengadakan pesta ini.
Dina pun juga turut bicara, ia juga berterima kasih pada sahabat-sahabat serta teman dekat mereka untuk semua doa dan kehadiran mereka semua.
Para pelayan mulai membawa nampan berisi gelas-gelas anggur merah maupun putih dan juga minuman lain bagi yang tidak meminum alkohol. Satu per satu tamu mengambil gelas itu dan memegangnya masih menatap pasangan terromantis tahun ini.
"mari kita bersulang untuk Mr and Mrs Toni Wijaya" pembawa acara mengangkat gelasnya tinggi-tinggi diikuti oleh semua tamu.
Toni dan Dina pun juga mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi kemudian membelitkan tangan keduanya kemudian meminumnya. Semua pun ikut bersulang dan meminum minuman yang berada di tangan mereka.
Toni menangkap sesuatu yang membuatnya tidak suka, Dina pun mengikuti arah tatapan Toni. Ia pun mengerti kenapa Toni tidak suka.
"mas Bimo itu orang baik sayang....hanya saja dia itu terlalu posesif jangan kawatir" ucap Dina menatap Bimo yang masih duduk di meja bartender bersama Vanya tampak akrab
"kamu membelanya?"
"bukan begitu, kak Vanya pasti sudah tahu berbagai macam karakter cowok kamu nggak perlu kawatir"
"sekarang saatnya pengantin kita berdansa" ucap pembawa acara itu. Kemudian DJ memutar musik dengan alunan pelan, mengiringi Toni dan Dina berdansa di atas panggung.
Para tamu pun juga mengikuti mereka, berdansa dengan teman atau pacar, bahkan mungki orang yang baru mereka kenal. Sesekali Toni melirik ke arah Vanya, kini matanya semakin membulat melihat Vanya berdansa dengan Bimo.
Suara alunan musik lembut masih mengalun, kemudian kembang api mulai menghiasi angkas. Semua mata memandang ke arah langit yang tiba-tiba menjadi terang karena kembang api yang betaburan di langit.
Musik yang lembut pun berubah menjadi musik yang hingar bingar, dentuman suara bass menggema membuat semua bersorak dan menggoyangkan badan mereka.
Dina menarik Toni turun dari panggung, mereka kini berada tepat ditengah-tengah taman itu, semua lampu sorot menyorot ke arah mereka.
__ADS_1
Dina mulai meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti dentuman musik yang diputar oleh DJ. Dina sengaja menari berpegangan pada tubuh Toni. Ia menari dengan gerakan yang terlihat seksi di mata Toni.
"kamu sungguh nakal...." Toni pun mengikuti gerakan Dina. Mereka berdua larut dalam hingar bingar musik yang diputar oleh DJ. Di sebelah mereka tak kalah Bimo dan Vanya tampak menikmati tarian mereka.
"jangan pedulikan mereka, kamu cukup lihat ke arahku" ucap Dina yang tahu Toni sesekali melirik kakaknya itu.
Dina benar-benar menggila, ia meluapkan kegembiraannya hari ini. Beberapa kali ia meminta minuman pada pelayan. Toni tak mempermasalahkannya, toh ini malam mereka.
Dina dan Toni tak sengaja melihat ke arah meja bartender, Roy dan ani tampak minum berdua, terlihat di mata mereka, Roy dan Ani sedikit mabuk.
"lihatlah mereka" Dina menunjuk ke arah Roy dan Ani "aku yakin malam ini pasti mereka akan menghabiskan malam berdua"
"baguslah....jadi Roy bisa melupakanmu" ucap Toni kemudian mencium bibir Dina dengan sedikit *******.
.
Roy dan Ani tampak mabuk, namun Roy yang lebih parah. Baru kali ini ia semabuk ini, ia benar-benar meluapkan kesedihannya. Sedangkan Ani hanya sedikit pusing ia tak separah Roy.
Roy menatap Ani, "aku akan membawamu ke kamar" Ani menarik tangan Roy kemudian memapahnya, meskipun ia juga pusing dan tak bisa berjalan dengan benar, namun ia masih sanggup memapah Toni sampai kamarnya.
Sesampainya di kamar Roy, Ani memapahnya masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Roy menatap Ani "Dina kenapa kamu berada di sini?" racau Roy
"aku Ani Roy..." ucap Ani
"Dina...." Roy langsung menyambar bibir Ani yang ia kira Dina dan menciumnya. Ani terkejut, meski ia sudah setengah mabuk namun ia masih memiliki kesadarannya.
Ciuman lembut Roy, semakin lama semakin dalam dan menuntut, bahkan tangan Roy sudah bergerak kemana-mana. Roy pun sudah menelusupkan tangannya ke dalam dress mini Ani.
Ani merasakan sentuhan yang baru pertama kali ia rasakan. Tubuhnya meremang, ia tahu Roy mengira dirinya adalah Dina.
'baiklah Roy, mungkin dengan cara ini aku bisa mendapatkan cintamu' batin Ani kemudian ia membalas ciuman Roy. Dan mereka pun memulai malam panas yang akan memulai hubungan rumit mereka setelah ini.
__ADS_1
Di acara pesta, Dina masih asyik meliuk-liukkan tubuhnya di depan Toni. Toni berkali-kali mengumpat karena gerakan Dina semakin lama semakin membuatnyaa tak bisa menahan gairahnya lebih lama lagi.
Pakaian yang Dina pakai semakin mendukung. Membuat Dina terlihat seksi dan semakin dewasa. Tak akan ada satupun pria tang tak akan tergoda dengan penampilannya malam ini.
"aku sudah tak lagi bisa menahannya sayang" Toni menyambar tubuh Dina kemudian menggendongnya ala bridal style
"kalian mau kemana?" teriak Vanya yang merasa Toni melewatinya dengan terburu-buru
"malam pertama" jawab Toni asal
"acara kalian belum selesai!"
"kamu ambil alih acaranya, aku sudah lelah" ucap Toni berlalu meninggalkan Vanya yang masih bersama Bimo
"dasar bocah tengil" umpat Vanya, kemudian ia kembali fokus menari bersama Bimo
"sepertinya adikmu itu begitu mencintai Dina" ucap Bimo memegangi pinggang Vanya
"tentu saja...ia tak akan bisa hidup tanpa istrinya itu" ucap Vanya sambil mengggerakkan tubuhnya membuat Bimo tergoda dengan Vanya "tak perlu bahas mereka lagi, mari kita nikmati malam ini" Vanya mengalungkan tangannya pada Bimo. Kemudian Vanya menarik Bimo pergi meninggalkan pesta dan masuk ke dalam kamarnya.
Saat akan meninggalkan pesta ia bertemu Ridwan "Wan, kamu urus pesta ini, jangan ganggu aku ataupun Toni" ucap Vanya berlalu meninggalkan taman itu.
Suara dentuman musik semakin menggema, Ridwan yang rencananya hanya akan duduk dan menikmati pesta itu, kini ia menjaadi sibuk karena harus mengurus pesta itu. Tamu masih banyak yang berada di sana, menikmati pesta itu. Makanan dan minuman terus mengalir memanjakan semua tamu.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1