
Toni terbuai dengan sentuhan tangan Dina, ******* Dina membuat gejolaknya semakin membara. Ia pun melepaskan genggaman tangan Dina dan bersiap untuk memasukkan tongkat saktinya pada inti Dina.
Dina merasakan ada sesuatu yang hampir menerobos miliknya. Ia pun menggenggam tongkat sakti milik Toni "aku belum siap Ton..." ucap Dina lirih.
Toni menatap Dina "tapi ini sudah tanggung sayang...kamu lihat...ini milikmu..." Toni menunjukkan tongkat saktinya yang tegak berdiri dan siap menembus pertahanan Dina
"aku belum siap....Ton..."
"baiklah...tapi tolong tidurkan dia" ucap Toni dengan suara berat dengan tatapan penuh gairah
"tapi aku nggak tahu caranya..." ucap Dina lirih. Tanpa banyak bicara lagi Toni mulai menggesek-gesekkan miliknya di bibir inti milik Dina, semakin lama semakin cepat. Dina pun juga merasakan gejolak yang mulai tak tertahankan.
Toni menarik kedua paha Dina dan merapatkannya sehingga miliknya terhimpit di antara dua paha Dina. Toni terus menggerak-gerakkan pinggulnya ia mulai merasakan gelombang kenikmatan yang tak tertahankan , Dina pun juga merasakannya.
Gerakan mereka semakin liar, Toni meremas menciumi Dina dengan rakus sambil menggerakkan pinggulnya hingga keduanya "aaaahhhh.....sayang....aku keluar...." Toni berteriak menegang sambil meremas gunung kembar milik Dina. Bersamaan dengan itu Dina pun juga mengeratkan kedua pahanya "aaaakuu....juuggaa...." teriak Dina
Tubuh Toni ambruk di atas tubuh Dina. Sedangkan Dina terkulai lemas dan akhirnya tertidur. Toni berusaha menetralkan nafasnya, setelah merasa pulih ia pun sedikit mengangkat tubuhnya dan menatap Dina yang tertidur dengan wajah yang tampak kelelahan.
Toni membelai wajah Dina dan tersenyum "terima kasih sayang...kamu tidak seperti cewek-cewek yang kukenal" Toni mengecup dahi Dina perlahan ia bangkit dan menatap tubuh Dina yang penuh dengan tanda kepemilikan yang ia buat.
Toni memunguti semua pakaian mereka yang berserakan dan memasukkannya di keranjang dekat dapur. Toni berjalan mendekati Dina yang masih tertidur tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Ia mengangkat tubuh Dina dan membawanya ke kamarnya lalu membaringkannya pelan-pelan di atas tempat tidurnya. Hari sudah larut, Toni sudah terlalu lelah ia membaringkan tubuhnya di sebelah Dina, ia pun memejamkan matanya dengan memeluk Dina.
Cahaya matahari mulai menerobos masuk jendela kamar Toni. Dina menggeliat ia membuka matanya "kenapa aku di sini?" gumam Dina. Dina menoleh ke samping dan melihat Toni masih memejamkan matanya. Ia pun menarik selimutnya lagi dan menyembunyikan wajahnya di dada Toni.
"kenapa sayang?" ucap Toni dengam suara serak, namun matanya masih terpejam.
"kamu sudah bangun?" ucap Dina lirih
"sudah..." Toni mengeratkan pelukannya "kenapa hmm?"
"aku malu..." Dina makin menyembunyikan wajahnya
__ADS_1
"malu kenapa?"
"yang semalam" ucap Dina semakin lirih
"kenapa harus malu? Kita sama-sama sudah dewasa" Toni mengecup dahi Dina
"ini pertama kalinya aku melakukannya, awalnya aku merasa siap namun tiba-tiba aku merasa takut"
"iya...aku tahu..." Toni kembali mengecup Dina "maafkan aku karena semalam aku melampaui batasan kita, setiap aku tidur denganmu sekuat tenaga aku menahannya, namun entah kenapa semalam aku tak bisa menahannya lagi" Toni memeluk erat Dina
"jadi selama otak kamu mesum?" Dina bangun dari tidurnya dan menatap Toni, tak sadar ia masih belum berpakaian membuat dadanya terlihat menggoda.
Toni menatap Dina penuh hasrat, ia tak merasakan tongkat miliknya tegak berdiri lagi. "Sayang...." tatapan Toni mengarah ke dada Dina, Dina pun menatap ke arah pandangan Toni. "aku mau lagi...boleh ya..." Toni menyunggingkan senyumnya dan tiba-tiba langsung mencium leher Dina dan meremas gunung kembar miliknya
"ahhh...Tonii..." ******* keluar dari mulut Dina.
"ini semua milikku, jangan berikan pada orang lain" Toni menatap Dina sesaat kemudian kembali menciumi Dina dengan agresif.
"aahh...iiyyaa...ii...nii...mi...lik..mu.." Dina tak kuasa menahan gejolak rasa yang menerpanya
"aa...kuuu...mii...lliikk...mu...aahhhh...." Dina tak kuasa menahan desahannya ketika puncak gunung kembarnya dihisap dengan rakus oleh Toni dan tangannya pun tak tinggal diam, ia mulai meraba bagian inti Dina dan membelainya.
Toni menarik kedua kaki Dina kemudian ia menyembunyikan wajahnya tepat di depan inti Dina. Toni mulai menjilat inti Dina, lidahnya begitu lincah menari-nari di sana. Tangannya sambil memilin puncak gunung kembar milik Dina.
"aaahh....aahhh....ahhhh....saaayyaaanggg...aakkuu...nnggaakk kuuaat" teriak Dina. Toni menatap sebentar wajah Dina yang terlihat sayu terlihat memohon untuk dipuaskan. Toni melanjutkan menjilat, menghisap, lidahnya membuat Dina mabuk kepayang. Dan akhirnya Dina sampai pada puncaknya, Toni menghisap semua cairan yang keluar dari inti Dina. Ia merasa bangga ia bisa membuat Dina mencapai puncaknya.
Kemudian Toni duduk dan menarik Dina menghadap tongkat miliknya "sekarang...tolong hisap dia..." Toni menarik tangan Dina agar menggenggam milik Toni "kenapa sekarang menjadi besar begini, perasaan semalam tidak sebesar ini"
"iya...karena ia telah bertemu pemiliknya..." ucap Toni membantu Dina menggenggam miliknya lebih erat "ayo...aku sudah nggak tahan..."
Dina pun mulai menghisap milik Toni, sesekali menjilatinya dan mengurutnya.
Toni pun menarik rambut Dina kemudian memaju mundurkan kepala Dina "Iya...sayang...ayo...lebih...kuat lagi..." Toni memejamkan matanya menikmati permainan Dina. Toni hampir mencapai puncaknya ia melepas hisapan Dina kemudian menarik tubuh Dina agar telentang.
__ADS_1
Toni mengarahkan miliknya tepat di depan wajah Dina sedangkan wajahnya menghadap inti Dina. Ia pun mulai menjilati milik Dina dan memainkan bibir intinya. Dina pun tak tinggal diam ia juga menghisap menjilat milik Dina.
Dina merasakan gelombang kenikmatan itu datang menghampirinya bersmaan dengan Toni yang mencabut miliknya. Mereka berdua mencapi puncaknya bersamaan.
Mereka membaringkan tubuhnya, nafas mereka berdua terengah-engah seperti habis berlari puluhan kilometer.
"hari ini kamu masih libur kan? Ikut aku ke kantor ya..." ucap Toni berusaha menetralkan nafasnya
"kenapa aku harus ikut?"
"hari ini pekerjaanku lumayan banyak, tolong bantu aku"
"baiklah..."
"terima kasih sayang...ayo kita mandi..." Toni bangkit berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Dina
"mandi berdua?" tanya Dina menatap Toni
"iya..." Toni menggendong tubuh Dina, Dina meronta karena ia malu jika harus mandi berdua bersama Toni.
Di dalam kamar mandi, mereka mengulang lagi kegiatan berbagu keringat mereka. Dina kesal namun ia juga menikmatinya. Pengalaman pertama baginya yang membuat ia merasakan ketagihan.
Meski Toni menginginkan lebih dari sekedar saling menyentuh tapi ia masih menunggu saat yang tepat untuk menjadikan Dina miliknya seutuhnya. Ia akan menunggu seperti ia menunggu Dina membuka hati untuknya.
Tak ada penolakan dari Dina ketika ia menyentuh bagian intim miliknya membuatnya yakin kini Dina telah menyerahkan seluruh hatinya untuknya.
.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g