Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 166 Camping


__ADS_3

Selama perjalanan ke pantai Dina tertidur, hampir dua jam lamanya akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju. Toni memarkirkan mobilnya, kemudian ia membangunkan Dina.


"hemm...kita sudah sampai?" Dina menggeliat, membuka matanya melihat ke sekeliling


"iya sayang..." ucap Toni lembut


"tapi...ini seperti di hutan, katanya mau ke pantai" Dina melihat sekelilingnya


"bukan hutan...pantainya ada di balik bukit ini, besok pagi kita bisa melihat matahari terbit dari atas sana" Toni menunjuk ke arah atas


Toni melepaskan sabuk pengamannya kemudian membuka pintu mobil. Dina mengikuti Toni turun, dan berjalan menghampiri Toni yang tampak mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobilnya.


"malam ini kita berkemah di sini"


"hah...memangnya boleh?" Dina memperhatikan sekitar


"boleh...tempat ini memang biasanya dipakai untuk camping...di hari libur banyak yang camping di tempat ini" Toni menurunkan barang-barangnya


"aku sengaja membelokkan arah kita ke sini, sudah lama aku ingin camping bersma kamu kamu....ayo bantu aku mendirikan tenda"


Dina membantu Toni mendirikan tenda. Ini kali pertama ia camping di alam terbuka. Sudah sejak lama ia ingin sekali naik gunung namun ia takut.


Saat mereka sibuk mendirikan tenda, ada juga beberapa orang yang datang mereka mendirikan tenda agak jauh dari tempat Dina dan Toni.


Toni benar-benar telah mempersiapkan semua kebutuhan untuk camping. "Apa tidak sebaiknya kita hampiri mereka Ton?" Dina menunjuk ke arah dua pasang cewek cowok yang tadi datang setelah mereka.


"iya nanti saja....sebaiknya kita cari kayu bakar dulu setelah itu mandi barulah kita ke sana" ucap Toni


Dina mengikuti Toni mencari kayu bakar untuk api unggun mereka nanti malam. Setelah mengumpulkan cukup banyak kayu bakar. Toni mengantar Dina ke sungai dan menemani Dina mandi.


Malam harinya, mereka menghampiri pasangan tadi. Mereka berkenalan dan mulai mengobrol hingga tak terasa malam telah larut. Mereka berempat adalah mahasiswa kampus B yang juga sedang melepas penat mereka.


Dina dan Toni memutuskan untuk kembali ke tenda mereka. Toni menyalakan api unggun agar mereka tak kedinginan.


"kenapa kamu nggak bilang kalau mau camping...aku kan bisa membawa baju hangat" Dina mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"sebenarnya aku nggak berencana ke sini, tadi waktu kamu di rumah tiba-tiba kepikiran camping di sini" Toni memeluk Dina yang terlihat mulai kedinginan.


"aku mau tidur ngantuk...." Dina masuk ke dalam tenda


Toni menyusul Dina masuk ke dalam tenda. Ia tahu Dina kesal padanya karena merubah tujuan mereka tanpa memberi tahu dirinya.


"anggap saja ini sudah seperti naik gunung...aku ingin sekali mengajakmu naik gunung tapi aku takut kamu kenapa-kenapa" Toni menutup tenda mereka


"iya...iya..." Dina merebahkan tubuhnya di atas sleeping bag "kenapa tiba-tiba sepi?"


"mungkin mereka sudah tidur" ucap Toni santai


Kemudian tak lama sayup-sayup terdengar suara rintihan dan teriakan, Dina tak jadi memejamkan matanya "kamu dengar suara tadi nggak?" ucap Dina menoleh ke samping


"suara?" Toni mencoba menajamkan pendengarannya, namun ia tak mendengarnya "aku nggak dengar"


"sstt....itu...itu..." Dina mendengarnya lagi


"coba aku periksa, kamu tunggu di sini" ucap Toni mengambil senter


"aku ikut...aku takut sendirian..." rengek Dina


"sepertinya dari tenda seberang" ucap Dina berbisik


Toni berjalan perlahan, mematikan senternya Dina mengekori Toni ia takut karena begitu gelap, api unggun yang tadi menyala di tenda seberang mereka telah padam.


Toni berjalan mengendap-endap, semakin lama suara itu semakin terdengar jelas. Toni mencari ke arah belakang tenda teman baru mereka.


"aahh...sial..!" gerutu Toni sedangkan Dina membelalakkan matanya.


"gila mereka ini.." bisik Dina yang benar-benar terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"ayo kita kembali ke tenda, aku kira terjadi sesuatu dengan mereka, ternyata mereka sedang asyik bermain kuda-kudaan di sana" gerutu Toni berjalan cepat menuju tenda mereka berdua


"mereka itu nggak punya malu, bisa-bisanya begituan di luar tenda" Dina merutuki dirinya yang melihat adegan dewasa yang juga sering mereka berdua lakukan.

__ADS_1


Toni menarik tangan Dina agar segera masuk ke dalam tenda. Setelah mereka sudah di dalam tenda, Toni yang sudah dari tadi menahan hasratnya akhirnya mulai melancarkan aksinya.


Ia mulai mencium Dina, menyentuh, meraba bagian-bagian favoritnya. Dina pun terbuai dengan setiap sentuhan yang Toni berikan. Dina pun membalas setiap sentuhan yang diberikan Toni.


Entah siapa yang memulai kini mereka berdua sama-sama polos. Udara dingin serta suara-suara alam membuat mereka semakin terbawa suasana. Mereka berdua bergelut saling menyentuh satu sama lain.


Toni sudah tak sabar ia pun akhirnya menerobos masuk bagian yang menjadi favoritnya selama ini dengan sekali hentakan. Dina pun menjerit merasakan sesuatu yang memabukkan memasuki dirinya.


Kali ini Dina tak tinggal diam, ia pun membalik posisi mereka, Toni tersenyum puas bisa membuat Dina mengeluarkan sisi liarnya. Hanya suara-suara merdu yang menandakan mereka sangat menikmati percintaan itu yang keluar dari mulut mereka berdua.


"kamu cantik sekali sayang...ayo...terus menarilah di atasku..." Toni sambil meremas dua benda kenyal favoritnya.


Dina tak menghiraukan ucapan Toni, ia terus menari meliuk-liukkan tubuhnya semakin lama semakin tak beraturan, menjemput gelombang dahsyat yang kini akan menghampirinya "aaahhh....aku sampai sayang...." teriak Dina kemudian ambruk di dada Toni


Toni tersenyum puas melihat Dina yang terlihat begitu menikmati puncak kenikmatan. "Tak salah aku mengajakmu ke sini...aku bisa meihat sisi liar yang tak pernah kamu lakukan selama ini" ucap Toni membelai kepala Dina


"heemm...." ucap Dina berusaha mentralkan nafasnya


"sekarang giliranku" Toni membalik posisi mereka, sekarang Toni yang memimpin permainan


Dina hanya bisa merintih, mende.sah menikmati hujaman demi hujaman dari Toni. "rasanya sudah lama sekali aku tidak membawamu terbang ke awan sayang..." ucap Toni sambil menghentakkan senjatanya.


"aah....kamu hebat sayang..." racau Dina. Toni terus menggempur Dina, ia benar-benar melampiaskan semua rasa yang ia tahan beberapa hari terakhir.


Entah berapa kali Dina mencapi puncaknya, Toni seakan tidak pernah puas. Bahkan Toni sudah mendapatkan puncaknya, dan memberi waktu Dina sebentar kemudian ia melanjutkan lagi memanjakan senjatanya.


Berada di alam terbuka dan mungkin didengar oleh teman baru mereka, memberikan sensai tersendiri bagi mereka berdua. Mereka berdua begitu menikmatinya entah berapa banyak gaya yang mereka lalukan di tenda yang sempit itu.


Mereka berdua terus mendaki puncak kenikmatan berdua, hingga terdengar ayam mulai berkokok. Toni menyudahinya karena melihat Dina yang terlihat begitu lelah.


Toni merapikan kembali pakaian Dina dan menyelimutinya "kamu memang yang terbaik sayang, aku tak akan melepaskanmu lagi" Toni mengecup dahi Dina begitu dalam "tidurlah..." Toni merebahkan dirinya kemudian ia memeluk Dina yang telah tertidur sejak tadi.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2