Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 15 Pernyataan Toni


__ADS_3

Sepuluh menit Dina meletakkan kepalanya di meja, masih ditemani Rani. Toni dan juga Roy masih ada di kelas juga. Beberapa teman yang tadinya masih berada di dalam kelas sudah pulang.


Toni berpindah duduk di kursi depan Dina. Menatap Dina yang masih memejamkan matanya.


"sepertinya Dina perlu antibiotik" ucap Rani


"hah....memangnya kenapa?" tanya Toni menatap Rani dengan penuh tanda tanya


"biasanya aku kalau radang kambuh minum antibiotik" ucap Rani santai


"tidak perlu Ran...aku hanya butuh minum yang panas-panas" ucap Dina masih sambil memejamkan matanya.


"memangnya kamu dokter, main kasih obat saja..." Toni mencibir Rani


"ya...kebiasaan saja Ton..." Rani terkekeh


"kebiasaan jangan minum obat...kebiasaan rajin belajar itu yang baik" cibir Roy yang masih duduk di kursi seberang meja Dina.


Dina mengangkat kepalanya, menatap Toni, Roy dan Rani satu persatu.


"aku tidak apa-apa kenapa kalian tidak pulang?" tanya Dina dengan mata sayu nya


"aku mau menemani kamu Din..." ucap Toni sebelum yang lain menjawab


"aku sudah baik-baik saja..." ucap Dina memaksakan senyumnys


"serius sudah baik-baik saja?" tanya Toni perhatian


"iya Ton...serius" Dina terkekeh


Toni menengok ke arah Roy, menatap Rani dan kemudian menatap Dina. Ia seperti orang bingung.


"Din..."ucap Toni


"iya..."


"hmmm....kamu tahu lagu Sheila on 7 JAP?" tanya Toni dengan jantung berdebar-debar


"tahu....memangnya ada apa Ton...?" Dina seketika menegakkan badannya menatap Toni penuh tanda tanya.


"hmmm....kamu ada kasetnya?" tanya Toni dengan perasaan gugup yang luar biasa


"ada..." Dina mengerutkan dahinya


"kutunggu jawabanmu...." Toni akhirnya bisa mengungkapkan apa yang ia inginkan


"hmmm...nanti aku dengarkan dulu...dan akan kupikirkan" jawab Dina menahan rasa gugup yang sama. Baru pertama kalinya ada yang menyatakan kalau ada yang ingin menjadi pacarnya.


"ya sudah...aku pulang dulu..." tiba-tiba Toni beranjak dari duduknya dan berjalan keluar kelas. Dina menatap heran, kenapa tiba-tiba Toni pulang begitu saja.

__ADS_1


Roy pun juga berdiri dan menatap Rani yang juga menatap dirinya dengan penuh tanda tanya. Roy hanya mengedikkan bahunya dan berlalu keluar kelas menyusul Toni.


Toni berjalan cepat pulang ke rumah. Ia masih merasakan debaran jantungnya yang begitu kencang. Roy menyusulnya setengah berlari.


"Ton....cara apa itu?! Menyatakan perasaan kemudian lari!" Roy mencibir


"terus bagaimana Roy?" tanya Toni kesal


"yang lebih romantis, atau bagaimana begitu...malah disuruh mendengarkan lagu, memangnya kuis berpacu dalam melodi?" cibir Roy


"kamu tidak tahu rasanya Roy....! rasanya jantungku hampir lompat dari tempatnya!" Toni makin kesal


"ya...setidaknya mengungkapkan perasaan, itu di tempat sepi, hanya ada kamu dan dia, ini di kelas ada aku dan Rani pula...kamu tidak tahu Rani itu suka dengan kamu?!" terang Roy


"benarkah? Rani begitu?" tanya Toni sambil mengerutkan dahinya


"selama ini dia yang selalu curi-curi pandang kepadamu Ton...bukan Dina, Dina malah biasa saja" ucap Roy sambil mengeluarkan motornya dari garasi rumah Toni


"biarkan saja....aku tidak suka dengan cewek yang terlalu agresif, yang terlalu percaya diri dan sombong" ucap Toni


"ya sudah...aku pulang dulu....selamat menunggu sambil jantungan" Roy tergelak sambil melajukan motornya.


Toni masuk ke rumah dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Senang, lega, gugup, cemas bercampur menjadi satu. Ia tidak sabar menunggu jawaban dari Dina.


.


Di dalam kelas, Dina yang masih merasakan pusing di kepalanya meletakkan kembali kepalanya di meja. Rani masih duduk menemaninya.


"sudah Ran...ayo pulang..." ucap Dina lesu


"kamu yakin bisa bawa motor sendiri?" tanya Rani


"yakin Ran..." Dina terkekeh


Mereka berdua berpisah di tempat parkir motor. Tempat parkir motor masih belum terlalu sepi. Sebagian siswa kelas tiga masih ada yang di dalam kelas.


Dina berjalan ke arah motornya yang terparkir di paling ujung tempat parkir motor. Saat Dina hendak memakai helmnya ia melihat seseorang yang berjalnn ke arahnya. Ternyata motor cowok itu terparkir di sebelah motor Dina.


"kamu kelas satu ya....?" tanya cowok itu ramah


"iya kak..." jawab Dina dengan senyuman


"kenalkan aku Yudha..." cowok itu mengulurkan tangannya


"aku Dina kak..." Dina juga mengulurkan tangannya membalas jabat tangan Yudha


"kamu kelas satu apa?" tanya Yudha sambil memakai helmnya


"aku kelas satu B kak" jawab Dina dengam senyuman "kakak dulu pengurus OSIS ya...sepertinya aku tidak asing dengan wajah kakak"

__ADS_1


"iya...aku pengurus OSIS tapi jarang muncul, kemarin waktu masa pengenalan sekolah aku hanya datang sekali" jawab Yudha terkekeh


"iya...aku ingat kakak hanya datang waktu acara penutupan" ucap Dina dengam senyum mengembang


"besok daftar saja jadi pengurus OSIS" ucap Yudha sambil menyalakan motornya


"iya kak...aku juga ingin menjadi pengurus OSIS" ucap Dina tersenyum ramah


Mereka berdua melajukan motornya keluar dari tempat parkir motor. Mereka berpisah di gerbang sekolah. Dina melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit kemudian ia sudah sampai di rumah.


Sesampainya di rumah Dina membersihkan dirinya kemudian ia tidur karena merasa tidak enak badan. Dina tertidur lama bahkan sampai menjelang sore.


Sore harinya Dina sudah merasa lebih baik tapi wajahnya masih tampak pucat.


"kamu kenapa Din?" tanya mamanya Dina


"tenggorokanku sakit lagi ma, tadi juga sempat demam" jawab Dina sambil menuang air panas ke dalam gelas


"mau ke dokter?" tanya mamanya Dina


"tidak ma, minum air agak panas saja, sama minum obat demam" ucap Dina sambil menuangkan air dingin ke dalam gelasnya.


Dina membawa gelasnya ke meja makan, dan meminumnya perlahan. Kepalanya pusing lagi, Dina pun mengambil obat untuk meredakan sakit kepalanya.


"yakin kamu tidak apa-apa Din?" tanya mamanya Dina kawatir


"iya ma...Dina tidak apa-apa...mama tenang saja" Dina tersenyum


"cepat mandi....terus istirahat lagi" ucap mamanya Dina


Dina bergegas menghabiskan minumannya dan kemudian ia mandi. Setelah mandi ia masuk ke kamarnya. Membaca-baca buku pelajarannya.


Dina teringat percakapannya dengan Toni tadi siang waktu berada di kelas. Dan teringat tentang lagu dari grup band favoritnya. Dina mengabaikan sejenak pikirannya tentang Toni, ia fokus belajar.


Mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, dan mempelajari materi untuk besok pagi. Terdengar mamanya memanggilnya dari luar untuk makan. Dina keluar kamarnya untuk makan sebelum melanjutkan belajarnya.


.


.


B e r s a m b u n g


.


.


Yang belum pencet tombol favorit, pencet dulu ya bestie


Jangan lupa ritualnya, please like vote dan komennya ya...

__ADS_1


Ditunggu kiriman bunga dan kopinya ya bestie


Terima kasih sekebon bestie...


__ADS_2