Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 127 Lompat pagar


__ADS_3

Toni semakin kesal karena merasa dipermainkan oleh Dina. Namun Dina terlihat biasa saja tak merasa bersalah sedikitpun.


"kalau aku memang niat selingkuh, buat apa aku bilang ke kamu" Dina terkekeh


"aku tanya sekali lagi, cowok tadi itu siapa?" Toni berusaha menahan emosinya sekuat tenaga


"sudah kubilang dosenku, masih nggak percaya, kamu tanya saja tata usaha" Dina kesal


"dosen? Mana ada dosen umurnya masih muda begitu, paling dia di atas kita setahun dua tahun"


Dina tergelak "kamu cemburu? Karena ada yang lebih tampan dari kamu? Takut tersaingi?" goda Dina


"Dina...!" Toni sedikit membentak


"dia itu dosenku, umurnya kira-kira di atas kita 5 atau 6 tahun, memang dia awet muda, yang enggak tahu memang dia itu dikira mahasiswa, sudah puas?" Dina akhirnya mengalah ia melihat Toni yang benar-benar terlihat sedih marah kesal bercampur menjadi satu.


"kalau itu dosenmu kenapa kamu bisa akrab dengan dia? aku curiga kamu ada sesuatu dengannya" Toni masih belum puas dengan jawaban Dina.


Dina menghela nafasnya, Toni jika sudah cemburu memang susah untuk ditaklukkan "dengar baik-baik, aku tidak akan mengulang lagi penjelasanku, setelah ini kamu mau percaya atau tidak terserah"


"dia dosen baru di jurusanku, dia pacar kakak sepupuku, dia calon dosen pembimbing skripsiku, aku tadi konsultasi untuk skripsiku semester depan" ucap Dina datar "aku sudah menjelaskan semua, terserah kamu percaya atau tidak, aku mau pulang" Dina beranjak dari duduknya


Toni masih terbakar api cemburu, selain itu gengsinya juga sedikit tinggi, terkadang ia sulit menerima kalau dirinya salah.


"kamu pikir kamu bisa pulang begitu saja, pagar aku kunci" ucap Toni menarik satu sudut bibirnya ke atas.


"aku bisa lompat pagar" jawab Dina santai ia pun berjalan keluar rumah Toni. Pagar rumah Toni tidak tinggi, sangat mudah bagi Dina untuk melompat namun itu hanyalah gertakannya saja. Ia ingin melihat apakah Toni telah menyadari kesalahaannya, atau tetap bersikukuh dengan pikirannya sendiri.


Dina sudah mendekati pagar, tinggal dua langkah lagi, namun tiba-tiba Toni mengejarnya. "kamu tidak takut jatuh?" ucap Toni


"takut? tidak...dari kecil sudah biasa manjat pohon, kalau cuma pagar segini tidak sulit" Dina acuh, ia mulai memegang pagar rumah Toni


"tapi kalau kamu jatuh di sini, aku yang disalahkan orang-orang" Toni menarik tangan Dina


"kenapa? Aku nggak akan jatuh, kamu tenang saja" Dina masih menegerjai Toni


"tapi aku tidak mau kamu sakit Dina...!" Toni kesal akhirnya ia menggendong Dina membawanya masuk ke dalam rumah. Dina tersenyum dalam hatinya, satu hal yang baru ia tahu, Toni posesif namun tidak seperti Bimo.

__ADS_1


"memangnya kenapa? Kalau aku sakit, aku sendiri yang rugi" ucap Dina ketus


"aku juga rugi Din....kalau dilihat Pak RT nanti aku dituduh macam-macam, rusak nama baikku" Toni menurunkan Dina di sofa ruang keluarga


"oh....jadi gara-gara nama baik..." Dina tersenyum mengejek


"memangnya apa lagi?!"


"aku kira karena kamu sayang aku" cibir Dina


Toni diam, ia memilih duduk dan menyalakan tv. Ia mendiamkan Dina, ia masih kesal dengan Dina.


"masih ada yang perlu dibicarakan lagi?"


"tidak" jawab Toni singkat


"terus buat apa aku di sini, buang-buang waktu saja" Dina kesal


"malam ini dan malam-malam seminggu ke depan kamu harus tidur di sini" ucap Toni tersenyum miring


"kenapa? Bukannya kamu berpikir aku menduakanmu, buat apa aku di sini?" Dina semakin kesal


"Toni....!" Dina memukuli tubuh Toni. Dikurung di rumah Toni, dan seminggu ke depan ia harus menemani Toni.


"memangnya kamu saja yang bisa membuat orang kesal" Toni terkekeh


"kamu itu....!" Dina memukuli dada Toni


"aduh...aduh...kamu mau aku sakit?" Toni menarik Dina dalam dekapannya


"kamu itu kalau cemburu sering kelewat batas, dan emosimu yang selalu kamu dahulukan bukannya kamu tanya baik-baik ke aku" Dina kesal


"iya...iya....maaf...memangnya kamu nggak pernah cemburu?" Toni membelai Dina


"cemburu? Sama siapa? Kamu tiap hari selalu bersama Ridwan masak iya aku cemburu" Dina mengerucutkan bibirnya


"padahal kemarin Ridwan cerita kalau aku bersama cewek cantik, kamu nggak cemburu?"

__ADS_1


"cemburu? Buat apa aku cemburu, kan cuma cerita aku tidak melihat sendiri" Dina menyembunyikan wajahnya di dada bidang Toni. Setelah berbulan-bulan ia tidak mencium aroma parfum Toni akhirnya ia bisa kembali memeluknya.


"kamu percaya sepenuhnya kepadaku?" tanya Toni membelai Dina


"bukankah dasar sebuah hubungan adalah kepercayaan?"


"cewek pintar...." Toni mengecup puncak kepala Dina


"tapi kamu yang nggak percaya aku" Dina mengerucutkan bibirnya


"siapa bilang?"


"itu tadi apa? Gara-gara melihat aku ngobrol dengan dosenku kamu marah-marah pakai mengurung aku lagi"


"iya...iya...maaf...." Toni mengeratkan pelukannya


Tak bisa sering menghabiskan waktu bersama Dina membuatnya mudah sekali curiga. Ia mencurigai semua orang yang berada di sekitar Dina. Ia tak percaya dengan teman-teman Dina, ia pikir mereka pasti bersekongkol dengan Dina untuk menyembunyikan kebenarannya.


"hmm....soal yang menginap, malam ini saja ya aku menginapnya..." Dina berusaha merayu Toni


"kenapa?"


"banyak yang harus aku kerjakan....dan aku akan sulit berkonsentrasi kalau di sini, dan ada lagi tugas yang harus segera aku kumpulkan, mungkin sampai lembur dan mungkin nggak tidur sampai pagi" ucap Dina


"aku akan menjemputmu sepulang kerja, ada pekerjaan yang harus aku kerjakan bisa sampai malam, kamu kerjakan tugasmu tapi saat aku menjemputmu kamu harus ikut aku" ucap Toni tegas tak mau dibantah


"pemaksa...." gumam Dina. Tapi bukan Dina kalau ia tak bisa membuat Toni mengalah. Ia berencana mengajak teman-teman satu kelompoknya yang kebetulan cewek semua untuk mengerjakan di kosnya.


Jika melihat Dina benar-benar sibuk pasti Toni akan mengurungkan niatnya. Toni bisa saja memaksa Dina namun Dina licik, ia punya banyak cara untuk membuat Toni mengalah. Karena tugas ini bukan dia saja yang menegerjakan. Jika seperti kemarin-kemarin ia tak punya alasan, namun sekarang ia memiliki alasan untuk menolak secara halus.


.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2