
Hari-hari berlalu, perkuliahan telah dimulai. Sejak terakhir kali Toni dan Dina bertemu di studio mereka tak lagi saling berkabar bahkan bertemu. Seolah-olah Dina menghilang begitu saja dan juga Toni sibuk kuliah dan bolak-balik ke kota J.
Toni tak pernah mendengar kabar dari Dina, baik dari Roy atau dari siapapun yang dekat dengan Dina. Hanya terkadang ia tak sengaja mendengar Dina siaran di hari sabtu pagi.
Setiap akhir minggu Toni menghabiskan waktunya di kota J untuk belajar mengelola kantor cabang papanya di sana. Tak ada yang tahu apa kesibukan Toni, karena ia menjadi orang yang lebih tertutup.
Di waktu senggangnya ia lebih banyak menghabiskan waktu di kota J. Sedikit demi sedikit kantor cabang perusahaan papanya memperlihatkan kemajuan karena ada Toni yang mengawasi dan juga mengelola.
Toni baru berumur delapan belas tahun, namun bakatnya dalam mengelola bisnis sudah terlihat. Papanya mengakui Toni lebih berbakat jika dibanding dirinya.
Toni menjadi dekat dengan Andini, mereka sering menghabiskan waktu berdua. Pikiran Toni tentang Dina teralihkan dengan kesibukannya, apalagi dengan Andini di sampingnya.
Terkadang jika dia sedang sendiri, ia menertawakan dirinya sendiri. Ia kini dekat dengan orang yang namanya mirip dengan orang yang paling ia sayangi.
Dengan Andini Toni mulai bisa menerima keberadaan cewek lain di sekitarnya, ia tak lagi menutup dirinya. Meskipun Andini bukan cewek yang ceria seperti Dina, namun keberadaannya mampu menghiburnya, menghilangkan rasa sepinya.
Namun rasa itu tetap ada di hatinya, ia tak benar-benar melupakan Dina, hanya saja ia mulai bisa merelakan Dina. Ia berpikir, ketika ia terlalu kuat menggenggam pasir maka pasir itu akan semakin cepat lepas dari genggamannya.
Begitulah pemikirannya, ia merelakan Dina bukan untuk menghilangkan perasaannya pada Dina namun, ia mencoba menerima kenyataan bahwa apa yang ia inginkan tak selamanya bisa ia miliki.
Dengan merelakan, ia mencintai Dina dengam cara berbeda apalagi kini ia tak tahu dimana keberadaan Dina. Ia tak lagi sering bertemu Roy yang selalu jadi informannya.
"papa dengar cabang kota J kini semakin maju, padahal baru beberapa bulan kamu sudah bisa menunjukkan kemampuanmu" ucap pak Yanuar sambil membaca koran
"iya pa..." jawab Toni singkat
"papa juga dengar kamu dekat dengan anak pak Herman"
__ADS_1
"hanya berteman pa, tidak lebih..." ucap Toni santai
"terserah kamu saja, kamu sudah dewasa, apa tidak sebaiknya kamu pindah kuliah di kota J saja?"
"tidak pa...aku lebih senang kuliah di sini"
"papa dengar anaknya tante Vera kuliah di kota J"
"hah...?! Yang benar pa? Dari mana papa tahu?" Toni penasaran, dari mana papanya tahu jika Dina kuliah di kota J
"cuma asal tebak..." papanya Toni tergelak
"papa ini...!" Toni meninggalkan papanya yang masih tertawa melihat tanggapan Toni.
Papanya Toni pernah secara tak sengaja bertemu mamanya Dina, dan menanyakan kabarnya. Dari mama Vera, pak Yanuar mengetahui jika anak sulungnya kuliah di kota J tapi ia tidak bertanya di kampus mana.
Dalam hati kecilnya Pak Yanuar ingin menjodohkan Toni dengan Dina, namun ia tak mau memaksa Toni dalam mencari pasangannya.
Perhatian-perhatian dari Bimo membuatnya mulai goyah dengan perasaannya. Ia jauh dari Dendy, dan ada Bimo yang selalu ada untuknya.
Itu membuat Dina seperti cewek yang tak setia, tapi Dina sendiri tak dapat memungkiri jika keberadaan Bimo sangat membantunya beradaptasi di kota J.
Dina merasa tertolong di awal masa perkuliahan, bahkan Dina yang tak pernah tahu dunia luar di malam hari, akhirnya bisa menikmati kebebasannya. Itu semua berkat Bimo, ia selalu ada untuk Dina, sebagai penebusan rasa bersalahnya pada Dina.
.
Semakin hari Toni semakin dekat dengan Andini, ia memulai membuka hatinya untuk Andini. Toni tahu jika Andini menyukainya sejak lama, ia berpikir tidak ada salahnya membuka hatinya memberikan kesempatan orang baru untuk mengisi kekosongan hatinya.
__ADS_1
Selain itu, ia juga sangat berterima kasih pada Andini karena selama beberapa bulan terakhir Andini selalu membantunya saat berada di kota J.
"An....besok malam kamu ada acara tidak?" tanya Toni
"hanya kamu yang memanggilku An...padahal yang lain memanggilku Dini" Andini mengerucutkan bibirnya
"itu karena..." suara Toni tercekat ia tak bisa melanjutkan ucapannya, ia tak mau memanggil Andini dengan Dini karena ia seperti memanggil nama Dina dan akan membuatnya semakin larut dalam kenangan Dina "kenapa mengalihkan pembicaraan, cukup jawab ada atau tidak" Toni sedikit kesal
"enggak...aku enggak ada acara...memangnya kenapa?"
"besok malam kita jalan-jalan ke taman kota ya..." ucap Toni sedikit gugup. Ia gugup bukan karena ia menyukai Andini, tapi ia gugup untuk memulai sebuah hubungan baru setelah sekian lama ia terpaku pada satu nama yaitu Dina
"iya...besok jam tujuh ya..."
"baik...aku jemput di rumah ya..."
.
Sabtu malam, waktu yang dipilih Toni untuk ia mengutarakan keinginannya. Lebih tepatnya, ia mencari pelarian untuk bisa menghapus bayang-bayang dan kenangan Dina dari pikirannya.
Ia sudah memikirkannya sejak lama, ia ingin melupakan Dina, menghapus kenangan Dina dengan memulai hubungan baru dengan orang lain. Selama ini ia sangat sulit melupakan Dina, beberapa bulan tidak mendengar kabar Dina membuatnya sadarjika Dina memang sudah melupakannya.
Ia berpikir, untuk mencari pelarian berharap agar ia bisa benar-benar melupakan Dina. Ia merasa hanya Andini lah yang bisa membantunya melupakan Dina.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g