Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 250 Panik


__ADS_3

Seharian Toni menemani Dina, bahkan ia beranjak ke kamar mandi saja Dina langsung mual-mual lagi. Toni bingung sementara Dina tidak mau diajak ke dokter.


Toni sampai terpaksa makan dan minum di dalam kamar tidur mereka. Bahkan ke untuk buang air kecil pun Toni harus menahan sampai Dina tertidur.


Toni benar-benar bingung, ia harus berbuat apa. Ia kawatir dengan kondisi Dina namun Dina orang yang keras kepala, jika Toni memaksa membawanya ke rumah sakit, ia takut akan membuat Dina marah padanya.


Keesokan harinya, Dina masih terlelap tidur, Toni bangun dan secepat mungkin mandi, dan bersiap ke kantor, semalam ia telah meminta ijin pada Dina untuk berangkat ke kantor dan Dina mengijinkannya karena semalam Dina merasa sudah lebih baik.


Dina terbangun karena merasa mual kembali. Toni yang sedang memakai bajunya pun berlari ke dalam kamar mandi. Ia memikat tengkuk Dina perlahan, dan melihat makanan yang Dina makan semalam kembali keluar.


"kamu baik-baik saja sayang?" Toni semakin kawatir


"iya aku tidak apa-apa" Dina merasa mualnya sudah hilang. "Ayo aku temani kamu sarapan"


Toni pun menggandeng tangan Dina menuruni tangga, wajah Dina masih terlihat pucat namun ia memaksakan diri untuk menemani suaminya itu sarapan sebelum berangkat ke kantor.


"Non Dina sudah baikan?" tanya Mbok Nah sambil meletakkan sarapan untuk Toni


"sudah mbok" ucap Dina terlihat tak bersemangat


Toni pun duduk di kursi paling ujung sedangkan Dina duduk di sebelahnya. Dina mulai mengambilkan Toni makan kemudian barulah ia menuangkan nasi ke dalam piringnya.


Baru satu suap, Dina kembali merasakan mual. Ia pun berlari ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Toni pun menghentikan makannya dan menyusul Dina.


"bagaimana aku tega meninggalkanmu di rumah dengan kondisi seperti ini" ucap Toni sambil menekan tengkuk Dina

__ADS_1


"aku baik-baik saja sayang, kamu ke kantor saja" ucap Dina kemudian membasuh wajahnya.


"kamu yakin?" Toni benar-benar tidak tega meninggalkan Dina dengan kondisi seperti itu


"iya...ada mbok Nah yang menemani aku"


Toni memapah Dina berjalan kembali ke meja makan "baiklah....kalau begitu aku akan menyuapi kamu dulu, setelah itu aku berangkat"


Toni pun menyuapi Dina, dan anehnya Dina tak lagi mual padahal tadi baru satu suap Dina makan sendiri langsun mual. Setelah selesai sarapan Toni pun berdiri dan mengecup dahi Dina kemudian mengambil jas yang tadi ia letakkan di kursi.


"tak perlu mengantarku , kamu istirahat saja" ucap Toni mengusap kepala Dina, Dina mengangguk. Toni pun berjalan keluar dari ruang makan, baru beberapa langkah, Toni mendengar suara Dina kembali muntah, ia pun berbalik menghampiri Dina yang berada di kamar mandi.


Setelah merasa lebih baik Dina pun membasuh wajahnya, Toni pun membantu Dina berjalan ke sofa di ruang keluarga, namun baru beberapa langkah Dina tiba-tiba tak sadarkan diri, Toni panik.


"mbok...tolong telepon papa, katakan aku tidak ke kantor, aku makan membawa Dina ke Rumah Sakit Sapta Medika" ucap Toni sambil menggendong Dina berlari keluar rumah.


"Pak Supri tolong antarkan ke rumah sakit" Toni menggendong Dina memasuki mobilnya yang sudah terparkir di halaman.


Lima belas menit kemudian mereka sampai di rumah sakit. Toni membawa Dina masuk ke IGD "sust...tolong istri saya..."


"baik tuan...silahkan dibaringkan di sini" Seorang perawat mendorong brankar ke arah Toni, kemudian membantu membaringkan Dina di atas brankar.


Toni menunggu di luar IGD dengan perasaan cemas, kemudian seorang perawat keluar "tuan boleh menemai istri anda di dalam" ucap peraawat itu.


Toni pun masuk ke dalam dan menemani Dina, kemudian seorang dokter muda menghampiri mereka dan mulai memeriksa Dina dengan teliti, sementara Dina masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


"kondisi pasien lemah, lebih baik dirawat di rumah sakit dulu" ucap dokter itu


"istri saya kenapa dok?" Toni benar-benar kawatir


"sust mana hasil lab nya" ucap dokter itu


"belum keluar dok" jawab perawat itu


"tekanan darah pasien rendah, sepertinya ia kelelahan, dan juga sepertinya..." ucap dokter itu ragu-ragu "sebaiknya setelah pasien siuman silakan konsultasi ke dokter Liem untuk memastikan" ucap dokter itu


"dokter Liem? Istri saya kenapa?" Toni semakin panik


"kemungkinan pasien sedang hamil, lebih baik konsultasi ke beliau saja" dokter itu tersenyum


"baik dok...terima kasih" ucap Toni sedikit lega namun ia masih cemas karena Dina belum juga sadar


Perawat mulai memasang infus pada tangan Dina, kemudian memasangakan gelang pasien pada tangannya. "silakan tuan urus administrasinya dulu, tadi sudah saya antrikan untuk konsul ke dokter Liem, setelah siuman nanti istri tuan bisa saya antar ke sana"


Toni pun mengurus semua administrasi untuk keperluan rawat inap Dina. Ia hanya ingin yang terbaik untuk Dina, meskipun ada sedikit kebahagiaan di hatinya karena diagnosa awal jika Dina sedang hamil. Namun ia masih cemas sebelum bertemu dengan dokter Liem.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


__ADS_2