Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 58 Tentang Fara


__ADS_3

Roy berpikir keras, malaikat dan iblis sedang berperang di kepalanya. Jika ia ingat perlakuan Bian dan Fara kepadanya yang selalu memperlakukannya seperti pembantu tak pernah dianggap kehadirannya, sering diremehkan, ia ingin sekali membalas sakit hatinya pada mereka berdua.


Kesempatan terbuka lebar di depan matanya, ia tinggal kembali masuk ke dalam kamar tamu yang ditempati Fara maka semua rasa sakitnya bisa ia lampiaskan.


Roy berbalik, berjalan menuju ke kamar tamu, tapi Roy berhenti tepat di depan pintu. Roy berpikir lagi, ia memiliki adik perempuan yang sangat ia sayangi. Ia tak mau suatu saat adiknya diperlakukan seperti itu.


Roy kembali berjalan ke tempat Toni duduk, dengan pikirannya yang tertuju pada adik perempuan satu-satunya.


"kok cepat?" Toni mengerutkan dahinya


"katanya disuruh cepat" Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"mana mungkin, belum juga lima menit sudah selesai, tapi....ah...sudahlah...ayo segera pulang, aku lelah....setidaknya rasa sakit hatiku sudah terbayarkan" Toni berdiri mengambil barang-barangnya kemudian keluar rumah.


Roy dan Toni berboncengan dengan kecepatan sedang. Roy mengantarkan Toni pulang ke rumahnya. Toni masuk ke dalam kamarnya, ia membersihkan dirinya untuk yang kedua kalinya.


Toni merasa sedih dan hampa meski ia sudah membalaskan dendamnya. Hatinya malah tak tenang, ia amat sangat merasa bersalah. Seharusnya ia bisa menghindari apa yang telah ia lakukan.


Ia menginginkan melakukannya dengan orang yang sangat ia cintai, bukan dengan orang yang ia benci. Ia membayangkan betapa sedihnya Dina jika tahu dirinya telah melakukan hal sekotor itu.


Toni merasa bersalah pada dirinya dan Dina bukan pada Fara yang sudah ia siksa. Toni memang memiliki masalah dalam mengatur emosinya. Selama ini ia bisa lebih sabar dan cenderung bisa mengontrol emosinya karena Dina.


Ketika Dina semakin jauh darinya ia seperti kehilangan arah. Emosinya menjadi tak menentu kembali. Tak ada seorangpun yang tahu di balik murah senyumnya ternyata ada sisi buruknya.


.


Pagi harinya Fara, terbangun ia berusaha mengingat potongan-potongaj kejadian semalam. Ia ingat dirinya bersama Toni, ia ingat bagaimana kasarnya Toni terhadapnya.


Fara termangu, sedih, marah dan dendam pada Toni yang telah memperlakukannya sedemikian buruknya. Ia kira Toni orang yang baik, seperti cowok-cowok yang pernah berkencan dengannya.

__ADS_1


Fara berusaha bangun, ia merasakan sakit yang teramat sangat di sekujur tubuhnya terutama bagian intinya. Ia menyibak selimutnya dan mendapati ada bercak darah yang mengering di pahanya.


"sialan kamu Toni!!! Aku akan membalasmu!!" ucap Fara dengan kilatan emosi di matanya. Fara berusaha untuk turun dari tempat tidur namun ia terjatuh. Fara berusaha berdiri kembali dengan langkah tertatih ia berjalan ke kamar mandi.


Fara membersihkan tubuhnya, ia merasa dirinya sangat kotor karena diperlakukan Toni seperti itu. Fara menangis, meraung di kamar mandi, menyesali dirinya yang telah dengan sengaja menggoda Toni.


Fara tak pernah menyangka, Toni yang ia kenal penyabar, dan murah senyum ternyata tak lebih dari seekor binatang yang tega menyakiti perempuan.


Fara merasa lebih baik, meski masih merasakan sakit tapi ia sudah bisa berjalan meskipun pelan. Dengan hanya mengenakan handuk yang membungkus tubuhnya Fara berjalan keluar dari kamar mandi.


Fara melihat secarik kertas di atas meja sebelah tempat tidur, ia meraihnya kemudian ia membacanya.


'Jangan coba-coba memberitahu orang lain kejadian tadi malam, atau kamu tahu akibatnya, aku tak segan-segan menyebarkan aibmu, keluargamu pasti akan malu'


Fara meremas kertas itu, ia begitu emosi, kemudian ia melemparkan kertas itu ke tong sampah. "Berani-beraninya dia mengancamku!! Aarrgghhh..." Fara menarik rambutnya


Fara berjalan melewati mereka berdua dengan acuh walau ia masih mengenakan handuk saja.


"sepertinya Toni sangat hebat...jalanmu saja sampai seperti itu" ucap Bian menatap adiknya


"iya...hebat....sangat hebat...!!" ucap Fara kesal dengan emosi di dadanya kemudian ia berjalan meninggalkan kakaknya bersama pacar barunya.


"adikmu kenapa?" tanya cewek yang bersama Bian


"biarkan saja...ayo aku ingin membuat kamu sama seperti dia, tak bisa berjalan" Bian mencumbui cewek itu dengan penuh hasrat kemudian ia membawa cewek itu ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, Fara merenungi dirinya yang telah menjadi orang yang bodoh. Dirinya terngiang-ngiang ucapan Toni yang menyebut untuk jangan mengganggu Dina.


"apa hebatnya Dina? Sampai-sampai kak Bian, Toni dan Roy tergila-gila padanya" gerutu Fara

__ADS_1


Hari-hari berlalu Fara tetap menyimpan semuanya sendirian. Ia menjadi anak yang pendiam tak lagi banyak bicara. Dengan Bian pun ia hanya berbicara seperlunya saja.


Ia hanya bisa merutuk dalam hatinya ketika Bian membawa cewek yang berbeda setiap pulang. Fara semakin kesal dengan kakaknya karena kakaknya lah, ia harus menanggung sakit di hatinya dan juga tubuhnya.


"Bagaimana Toni, aku belum pernah melihatnya lagi bersamamu sejak hari itu" tanya Bian


"aku tidak tahu!" jawab Fara ketus


"kalian bertengkar?" tanya Bian santai yang tak tahu apa yang telah menimpa adiknya


"entahlah kak! Kenalkan aku dengan cowok lain yang lebih dari Toni, aku juga ingin berpesta seperti kakak!" ucap Fara ketus


"Toni masih kurang? Kamu tunjuk yang mana nanti kakak bawa dia ke rumah" ucap Bian sambil mengacak-acak rambut Fara.


Bian sebenarnya tak ingin Fara seperti dirinya yang suka berpesta. Tapi ia tak bisa menolak keinginan adiknya satu-satunya. Setiap apa yang diinginkan Fara Bian selalu menurutinya. Bahkan saat Fara mengutarakan ingin bercinta untuk yang pertama kalinya Bian tak sanggup melarangnya meski ia ingin.


Ia yang memilih siapa yang boleh meniduri adiknya pertama kali. Fara mengijinkan Fara melakukannya dengan kakak teman genk motornya. Umur cowok itu dengan Fara terpaut dua puluh tahun.


Hanya saja Bian tak tahu jika Fara sempat menjadi sugar baby kakak temannya itu. Fara hanya salah pergaulan, ia menjadi seperti itu karena tak hanya sekali ia melihat kakaknya bercinta dengan pacar-pacarnya.


Selain itu Fara merindukan kedua orang tuanya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Bian dan Fara hanya sebulan sekali bertemu kedua orang tuanya itupun hanya sebentar saja.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2