
Diperhatikan seperti itu membuat Dina senang, belum pernah ia diperhatikan seperti itu. Apalagi dengan orang yang baru ia kenal. Dulu waktu Dina masih SMP dia sempat menyukai seseorang dan sepertinya cowok itu juga tertarik dengan Dina, tapi tidak sampai pacaran.
Mungkin banyak yang mengira Dina itu cewek yang kutu buku dan tidak menarik karena memang penampilan Dina terlihat seperti cewek yang kutu buku. Barulah waktu kelas tiga Dina mulai berubah, dia mulai sedikit merubah penampilannya, tapi kesan kutu bukunya masih ada.
Meskipun sudah merubah penampilan dan mulai membuka diri dengan mulai berteman dengan teman-teman di luar teman sekelasnya, tapi Dina tetaplah Dina yang lebih mementingkan belajar daripada bersosialisasi dengam teman-temannya.
Bertemu dengan Toni di akhir masa putih biru membuat Dina mulai menginginkan untuk punya pacar. Sebenarnya sudah lama ia punya keinginan seperti itu tapi ia tidak terlalu memikirkan keinginannya. Ia hanya ingin menunjukkan kepada semua orang kalau Dina yang berasal dari sekolah pinggiran mampu bersaing dengan anak-anak kota.
Mungkin karena memang sedang masa puber jadi rasa tertarik terhadap cowok lebih besar. Dina hanya berharap bisa memilik pacar seperti teman-teman lainnya.
Walaupun pacar baginya hanya penyemangat dan penghibur untuknya. Dina tidak akan melupakan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, ia harus tetap rajin belajar dan bisa membagi waktunya antara pacar dan belajar.
Setelah menghabiskan kue dan jus jeruknya Dina membereskan tempat makan yang tadi ia pakai
"sudah Din...biar aku bawa pulang lagi" ucap Toni sambil menarik kotak makan yang dipegang Dina
"eh...biar aku bawa pulang nanti aku kembalikan kalau sudah bersih" ucap Dina tidak enak hati
"sudah Dina...biar aku bawa pulang nanti, rumahku dekat tidak apa-apa" Toni mengambil tempat makan dan botol yang dipakai Dina tadi.
Dina hanya bisa pasrah, sebenarnya ia tidak enak hati, ia takut mamanya Toni marah. Tapi Toni meyakinkannya, jika tidak apa-apa, mamanya tidak akan marah.
.
Masa pengenalan sekolah hari ketiga, Dina dan Toni datang bersamaan. Mereka berdua berjalan masuk ke kelas. Di dalam kelas sudah ada Rani dan Roy. Mereka berdua saling pandang merasa aneh dengan Toni dan Dina.
"kalian berdua kenapa bisa datang sama-sama?" tanya Roy heran
"tadi kita bertemu di depan pintu gerbang" ucap Dina santai sambil meletakkan tasnya. Kemudian ia memakai atribut yang harus ia pakai.
Bel berbunyi, semua siswa kelas satu diminta untuk berbaris di lapangan. Panitia akan mengadakan permainan yang melatih kekompakan kelas masing-masing.
Dina dan Toni terlihat kompak dalam permainan tersebut, membuat teman-temannya sedikit iri. Banyak yang tidak menyukai kedekatan Dina dengan Toni.
Setelah permainan selesai mereka semua boleh beristirahat, karena memang waktunya istirahat pertama.
"Ton...aku bawa sesuatu untukmu..." ucap Dina memberikan sebuah kotak kepada Toni
"ini apa Din?" tanya Toni mengerutkan dahinya menerima kotak dari Dina
__ADS_1
"hanya kue...pengganti kue yang kamu bawakan kemarin" ucap Dina tersenyum simpul
"kenapa kamu harus repot-repot Din...kalau begini kita setiap hari akan saling tukar makanan" ucap Toni terkekeh
"ya tidak apa-apa Ton, kamu yang mulai duluan kan..." Dina tergelak
Toni terpesona melihat Dina tertawa lepas. Dina tidak pernah menutup-nutupi apapun, suka bilang suka tidak ya tidak.
Roy datang tiba-tiba "hei...ini apa?" Roy merebut kotak yang Toni pegang
"hanya kue Roy" jawab Dina malu
"kembalikan Roy...itu punyaku" ucap Toni kesal
"boleh dong...kuenya dibagi..." ucap Roy dengan nada menggoda
"kalian ini seperti anak kecil saja, cuma kue jadi rebutan" Dina terkekeh kemudian meninggalkan Toni dan Roy yang masih berebut makanan.
Sepeninggal Dina, Roy mengembalikan kotak yang tadi ia rebut.
"kalian pacaran?" tanya Roy penasaran
"kenapa jawabannya seperti itu?" tanya Roy heran
"ya memang aku belum tahu, baru juga kenal" ucap Toni berjalan ke arah mejanya
"Dina itu sebenarnya cewek yang menarik, sayangnya dulu waktu SMP dia kutu buku, dan sepertinya tidak pernah memikirkan cowok, jadi ya...tidak banyak yang mengenalnya" ucap Roy duduk di atas meja
"oh...begitu ya...jadi dulu kamu sempat suka sama Dina?" Toni penasaran
"suka...hanya suka biasa...dia lebih suka baca buku, bagaimana aku mendekatinya" Roy terkekeh
Ada rasa cemburu mendengar Roy berbicara seperti itu. Ternyata Roy sempat menyukai Dina, entah sampai sekarang masih suka kepada Dina atau tidak.
"aku sempat mendengar beberapa teman kita bicara, mereka tidak suka melihat kedekatan kalian" ucap Roy
"hah...memangnya siapa mereka? Kenapa tidak suka?" Toni terkejut
"mana kutahu, kebanyakan teman sekelas kita kan teman-teman sekelasmu" Roy mengedikkan bahunya
__ADS_1
Toni berpikir, ada apa teman-temannya tidak menyukai kedekatannya dengan Dina. Ada salah apa Dina dengan mereka, padahal Dina cewek yang mudah bergaul, ramah dan baik hati kenapa mereka bisa tidak suka.
Hari-hari berlalu, masa pengenalan siswa tinggal hari terakhir. Toni dan Dina semakin dekat. Mereka terlihat akrab seperti mereka sudah lama saling mengenal.
"Din...ini hari sabtu, nanti malam aku boleh main ke rumah?" tanya Toni
"jangan Ton...rumahku jauh... Kita bertemu di sekolah saja ya..." ucap Dina panik
"oh...ya sudah kalau begitu" ucap Toni dengan nada kecewa.
Kegiatan hari terakhir tidak banyak, hanya melakukan pemilihan pasangan terbaik, kakak pendamping terbaik, dan banyak kriteria lainnya.
Masing-masing kelas harus mengusulkan beberapa kandidat untuk masing-masing kriteria. Dina dan Toni diusulkan oleh pendamping kelas mereka menjadi pasangan terbaik dan terkompak.
Banyak yang menolak usulan kakak pendamping mereka. Tapi saat pendamping mereka bertanya adakah kandidat yang lain mereka tidak menjawab.
Pemilihan itu akan dilakukan pada acara penutupan nanti. Yang juga akan diisi dengan pementasan penampilan dari masing-masing kelas.
Acara penutupan sudah dimulai, masing-masing kelas menampilkan penampilan terbaik mereka sesuai undian yang diacak oleh panitia. Tibalah saatnya pengumuman kakak-kakak ter- dan peserta ter-.
Pemilihan tersebut telah dilakukan sewaktu pentas seni tadi. Dengan memberikan voting secara acak kepada seluruh siswa dan panitia. Saat yang ditunggu-tunggu adalah pengumuman pasangan terbaik.
Semua siswa yang sudah menjadi kandidat merasa cemas tapi tidak dengan Dina. Dina biasa saja, karena ia merasa sudah pasti akan kalah karena kandidat-kandidat dari kelas lain jauh lebih baik dibanding dia dan Toni.
Pembawa acara mengumumkan jika pasangan terbaik jatuh kepada Dina dan Toni. Dina terkejut, tidak menyangka jika dirinya dan Toni menjadi pasangan terbaik.
Dina dan Toni saling berpandangan kemudian terkekeh bersama. Terlebih Toni, ia yang mengetahui jika banyak teman-teman sekelasnya yang tidak menyukai kedekatan mereka berdua, tetapi siswa-siswa kelas lain malah menjadikan mereka sebagai pasangan terbaik.
.
.
.
B e r s a m b u n g
.
Yang belum pencet tombol favorit, jangan lupa pencet dulu ya...
__ADS_1
Jangan lupa ritualnya ya...please like, vote dan komennya ya, terima kasih sekebon bestie...