Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 90 Menjemputmu


__ADS_3

"aku tanya sesuatu boleh nggak?" Dina menatap serius Toni.


"apa?" pikiran Toni berkecamuk, ia memikirkan segala kemungkinan pertanyaan yang akan muncul dari Dina


"tapi kamu harus jawab jujur" wajah Dina semakin serius


"iya apa, tanya saja kalau aku bisa jawab akan aku jawab" Toni berusaha setenang mungkin


"sejak kapan kamu jadi direktur?" wajah Dina masih serius


Toni menghela nafas "oh itu....kalau diangkat direktur sih baru beberapa bulan, tapi kalau mengurus anak perusahaan papa di sini sudah sejak awal kuliah"


Mendengar jawaban Toni, Dina hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "di posisi kamu yang seperti itu pasti dong mudah untuk memacari cewek manapun" ledek Dina


"sudah aku bilang, aku tidak punya waktu Din...lagipula yang tahu aku direktur juga hany orang-orang terdekat"


"tapi cewek-cewek di tempatku magang, mengidolakan kamu, dan aku tahu itu juga dari mereka" wajah Dina masih tampak serius


"selama tiga tahun terakhir aku bekerja sama dengan perusahaan om Ferdi ya jelas mereka tahu, sudah ah...jangan bahas kerjaan lebih baik kita jalan-jalan kemana gitu"


"pulang saja ya Ton....ini sudah malam, aku besok pagi-pagi harus berangkat lagi" Dina bangkit berdiri dari duduknya


"sebentar..." Toni menarik tangan Dina pelan


"ada apa Ton?" Dina menatap Toni mengerutkan dahinya


"Din...kita masih tetap berteman kan?" tanya Toni lembut dengan senyum tipisnya


"maksud kamu?" Dina mengerutkan dahinya


"dulu kamu sempat tak mau bicara denganku, bahkan seolah-olah kamu membenciku"


"itu dulu Ton....aku sudah lama mengubur semua hal yang menyakitkan" Dina menyunggingkan senyumnya

__ADS_1


"hmmm....kalau begitu seminggu ini aku boleh antar jemput kamu magang?" tanya Toni penuh harap


"memangnya kamu enggak kerja? Kuliah kamu?"


"seminggu ini aku ada yang harus aku kerjakan di sini, masih bisa kalau pagi jemput kamu berangkat terus sorenya aku jemput pulangnya" tatapan Toni penuh harap


Dina menghela nafasnya "aku bisa berangkat sendiri, kalau kamu ada pekerjaan selesaikan saja, jangan menambah beban kamu dengan mengantar jemput aku"


"ayolah....Din...hitung-hitung kita reunian...katanya kita masih berteman..." ucap Toni dengan tatapan memohon


"baiklah....tapi kalau kamu sibuk kamu kabari aku, agar aku bisa berangkat sendiri" Dina tersenyum


Toni mengantar Dina pulang, hatinya begitu bahagia. Dina tak lagi marah padanya, tak lagi membencinya sementara itu sudah cukup baginya. Kini tinggal ia memantapkan hatinya melihat adakah yang berubah dalam diri Dina setelah sekian lama mereka tak bertemu.


Keesokan harinya, seperti janjinya Toni menjemput Dina di kosnya. Belum ada jam tujuh, Toni sudah menunggu Dina di kosnya.


"Din...ditunggu cowok yang kemarin di bawah" ucap Tere melongok ke dalam kamar Dina


"ini jam berapa Ton? aku belum mandi" gerutu Dina


"sudah hampir jam tujuh" Toni melihat ke arah pergelangan tangannya


"baru setengah tujuh Ton" Dina mengerucutkan bibirnya


"maksudku pagi-pagi ke sini jemput kamu sekalian kita cari sarapan dulu begitu" Toni tersenyum


"enggak usah....sebentar lagi ada ibu-ibu jualan nasi pecel keliling"


"kebetulan....makan di sini saja berarti" Toni terkekeh


Dina menghela nafasnya, ia merasa cowok itu merepotkan, ia tal bisa berbuat sesuka hatinya


"aku mau mandi dulu, kamu tunggu di atas saja, nanti biar aku bilang sama kak Tere untuk memesankan nasi pecel untukmu" Dina berjalan menaiki tangga disusul oleh Toni.

__ADS_1


Dina masuk ke kamar mandi, sedangkan Toni duduk di meja belajar Dina. Ia masih penasaran dengan semua tentang Dina sekarang. Diam-diam ia membuka kembali buku harian Dina. Ia membaca satu per satu halaman.


Terkadang ia merasa sesak di dadanya, kaadang pula ia merasa marah membaca tulisan Dina. Ia kecewa dalam buku itu tak ada namanya sama sekali, itu berarti Dina tak pernah mengingatnya.


Lima belas menit berlalu, Dina sudah selesai mandi. Ia pun keluar kamar melihat apakah pesanannya sudah ada apa belum, ternyata belum juga datang.


"Ton...nasi pecelnya belum lewat, bagaimana?" tanya Dina masuk ke dalam kamarnya


"ya sudah kamu siap-siap saja dulu nanti kita makan di jalan" ucap Toni lembut


"kalau mampir dulu, aku bisa telat" ucap Dina sambil merapikan penampilannyaa


"kalau begitu bungkus saja nanti kamu makan di tempat magang" Toni memperhatikan Dina yang sedang berdandan. Meskipun hanya make up sederhana, tidak berlebihan namun Dina terlihat semakin cantik.


Toni semakin jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Ia ingin sekali mengutarakan perasaannya, namun takut Dina akan membencinya lagi. "sudah cantik tak perlu dandan lagi" Puji Toni dengan senyum mengembang


"hmm....begitu ya...." Dina terkekeh "ayo berangkat keburu siang" Dina mengambil tasnya kemudian keluar kamarnya diikuti Toni.


Toni membukakan pintu mobil untuk Dina "jangan dibiasakan, nanti aku jadi manja" gerutu Dina Toni hanya menanggapinya dengan senyuman.


Toni mengantarkan Dina sampai di depan gerbang perusahaan Om Ferdi, Dina yang meminta ia diturunkan di depan saja. Toni menolak, Dina mengancam tidak akan mau diantar jemput kalau Toni tidak mau mengikuti keinginannya.


Mau tidak mau Toni menyetujuinya, ia tidak mau berdebat dengan Dina. Ia tahu sifat Dina, tak mau mencolok dan tak mau menjadi bahan pembicaraan orang-orang yang tidak suka padanya.


Dina masuk dari gerbang dengan berjalan kaki, tak ada seorang pun yang mengetahui jika ia diantar oleh Toni. Setelah mendapat tatapan tak suka dari karyawati tempatnya magang, Dina tahu jika ia harus berhati-hati dalam bersikap.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2