Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 184 Tak pernah puas


__ADS_3

"terima kasih sayang....kamu selalu membuatku kecanduan, selalu membuatku tak bisa hanya sekali saja" ucap Toni menarik Dina ke dalam pelukannya


"apa kamu melakukannya dengan mantanmu dulu seperti saat denganku?" Dina mencoba menguatkan hatinya jika jawaban Toni tidak seperti yang ia harapkan.


"tentu tidak, sudah kukatakan tadi, jika hanya denganmu aku selalu tak pernah puas, selalu saja ingin mengulanginya lagi, jika dengan Andini aku hanya sekali saat itu yang aku bayangkan adalah dirimu, namun karena aku terlalu kecewa orang yang aku anggap baik menusukku dari belakang, aku meninggalkannya"


"lalu jika nanti suatu saat tiba-tiba ia datang membawa anak dan mengaku jika anak itu anakmu bagaimana?"


"dua kali aku melakukannya, aku selalu memakai pengaman sayang, hanya denganmu aku tidak memakainya, karena awalnya aku memang ingin menghamilimu jadi tidak ada alasan lagi kamu menolak menikah denganku...awhhh....sakit Yang..." Dina mencubit pinggang Toni


"tapi ternyata kamu telah siap menjadi milikku seutuhnya...ya...tidak aku sia-siakan kesempatan itu...aku mendapatkannya....aduh...cuma bahas begini saja dia sudah berdiri lagi..." ucap Toni memandang adik kecilnya di bawah sana


Dina pun ikut memandang adik kecil Toni yang memang telah tegak berdiri "dasar mesum....!" Dina kembali mencubit pinggang Toni


"dia hanya bereaksi saat bersamamu sayang...bolehkan sekali lagi?" Toni mengerling manja


"sudah...cukup...aku lelah...lapar juga...ini sudah siang..." Dina ketus


"jujur aku sering sekali diajak klienku makan siang atau makan malam dan mereka kadang membawa wanita-wanita bayaran, namun aku tak pernah tergoda, dia menjadi pemalu ketika bertemu dengan wanita semacam itu" ucap Toni sambil menunjuk adik kecilnya "dia hanya akan buas tak terkendali ketika bertemu sarangnya" Toni mencium puncak kepala Dina


"terus...teman-teman kampusmu bagaimana? Aku masih penasaran, setenar apa sih calon suamiku ini waktu masih kuliah" Dina membelai rahang Toni


"tentu tenar...Toni...pemain basket kampus, anak band kampus pasti tenar lah..." Toni terkekeh sengaja membanggakan diri "banyak teman kampus dulu yang cuma sekedar suka mengirim coklat makanan surat cinta tapi yang makan pasti si Deni"


"ada pula yang terang-terangan mengajakku ke hotel, ada yang memakai rok super mini duduk di depanku tidak memakai pakaian dalam, masih banyak lagi kelakuan yang nggak biasa, namun aku acuhkan...aku malah jijik...hiii...." Toni sedikit bergidik


"kamu itu aneh....ada ikan asin di depan mata kenapa nggak dimakan?" cibir Dina


"nggak enak....enakan punya kamu" Toni menggoda Dina


"sudah ah..." Dina beranjak dari tidurnya menuruni tangga masuk ke kamar mandi tanpa memakai sehelai benang pun. Toni mengikuti Dina masuk ke dalam kamar mandi.


Toni tetaplah Toni yang tak pernah puas memasuki Dina. Dan percintaan itu terulang lagi di dalam kamar mandi. Rasanya Dina ingin mengumpat namun tak bisa dipungkiri ia begitu menikmati, Toni berhasil membawanya terbang ke awan kenikmatan berkali-kali hingga jam menunjukkan pukul dua siang.

__ADS_1


"kamu itu ingin membuat aku mati kelaparan" ucap Dina ketus sambil mengeringkan rambutnya


"sayang...jangan marah begitu....siapa suruh kamu begitu menggoda" Toni merayu Dina


"tidak bisakah kita makan dulu aku sudah lapar sejak tadi..." gerutu Dina


"iya...iya...setelah ini kita makan di bawah saja ya...biar nggak usah jauh-jauh keluar gedung"


Mereka berdua akhirnya sarapan yang kesorean di rumah makan yang terletak di lantai bawah apartemen tersebut. Dina begitu kelaparan, ia memesan makanan banyak sekali, Toni hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Dina yang lucu.


"pelan-pelan saja....aku tidak akan merebut makananmu" Toni terkekeh


"aku kelaparan....kamu menggempurku lima ronde" ucap Dina kesal


Toni tergelak "itu pemasan sayang....kelak kalau kita sudah menikah aku tak akan membiarkanmu beristirahat" ucap Toni dengan senyum jahilnya


"kalau kamu menikahi aku hanya untuk menyiksaku lebih baik kita batalkan saja pertunangan kita" Dina semakin kesal


"lhoh...jangan....aku hanya bercanda sayang....aku hanya merindukan kamu, sejak kita berlibur yang terakhir kalinya kita nggak pernah melakukannya lagi...jangan-jangan berciuman pegang tangan saja jarang"


Pikiran mereka berdua tak sejalan, Toni menginginkan dirinya hamil sedangkan Dina belum mau hamil apalagi Toni belum melamarnya secara langsung kepada kedua orang tuanya.


Ia masih takut Toni akan berubah pikiran, dan akan meninggalkannya di saat ia sudah terlalu dalam mencintainya.


"setelah ini, kita belanja lagi, masih ada yang kurang di apartemenmu itu" ucap Toni sambil meneguk minumannya


"memangnya apalagi? Aku di sini hanya tiga bulan jangan terlalu berlebihan"


"yakin hanya tiga bulan?" goda Toni


"aku sudah berjanji Ton...apa aku masih bisa menawar lagi? Aku ingin di sini satu atau dua tahun kedepan boleh?" Dina menampakkan wajah imutnya


"tidak...kamu sudah berjanji...aku memberi kamu waktu maksimal enam bulan setelah itu kamu tidak boleh pergi lagi..."

__ADS_1


Dina hanyaa bisa tersenyum, ia sudah telanjur berjanji pada kedua orangtuanya dan juga papanya Toni ia hanya butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikan kontraknya, dan ia harus menepatinya.


Setelah menyelesaikan makan, Toni mengajak Dina berbelanja di swalayan yang terletak di gedung apartemen itu juga. Toni membeli bahan makanan untuk mengisi kulkas Dina, agar Dina tidak kelaparan.


Toni membantu Dina merapikan apartemen yang semalam belum selesai mereka bersihkan. Kini semuanya sudah tampak rapi dan bersih. Sudah layak untuk dihuni.


"sayang terima kasih....sudah memberikan semua ini untukku" Dina mencium pipi Toni


"ini semua tidak gratis sayang..." Toni mengedipkan satu matanya


"hah...? Ternyata kamu perhitungan juga ya...." ucap Dina kesal


"namanya juga pengusaha...semuanya diusahakan" Toni tergelak


"baiklah setelah aku mendapat gaji, aku akan mencicilnya..."


"kamu bisa mencicilnya mulai nanti malam" Toni mengambil paper bag kemudian menyerahkannya pada Dina. Dina pun membukanya, seketika matanya membelalak.


"dasar mesum...!" ucap Dina kesal sambip memegang lingerie berwarna ungu


"ayolah sayang....sebelum kita berpisah, kasih aku vitamin dulu...aku butuh vitamin agar kuat jauh dari kamu" rengek Toni


Dina hanya membuang muka mendengar rengekan Toni. Dari awal ia sudah menduganya, kenapa Toni ngotot mengantarnya ke kota S, menyewa apartemen untuknya. Ternyata alasannya memang agar mereka berdua bisa bebas bercinta tanpa ada gangguan.


Dina tak habis pikir, semakin lama otak Toni semakin mesum. Apalagi setelah mereka benar-benar resmi bertunangan, Toni tak lagi malu-malu berbicara vulgar di depan Dina.


.


.


.


.

__ADS_1


B e r s a m b u n g


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya bestie, please like vote dan komennya ya...


__ADS_2