Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 246 Bulan Madu


__ADS_3

Lama Toni membelai lembut perut rata Dina, ia benar-benar berharap akan segera tumbuh kehidupan baru di rahim istrinya. Hingga ia pun menitikkan air mata, ia tak menyangka perjalanan cintanya akan sampai di sini.


Ia mengingat awal pertemuan mereka dulu, awal mereka berpacaran dan akhirnya Dina membencinya karena keegoisannya. Hingga pada akhirnya mereka dipertemukan kembali dan dipersatukan kembali dengan cinta pertamanya.


Toni tak tahu kenapa ia begitu mencintai Dina, padahal banyak perempuan yang lebih cantik dan lebih baik daripada Dina namun hanya Dina yang bisa membuatnya tergila-gila, bahkan tak hanya dirinya ia harus bersaing dengan beberapa laki-laki lain untuk bisa mendapatkan cinta Dina.


Lama ia membelai perut rata Dina, akhirnya ia pun juga tertidur. Mereka berdua tidur ditemani suara angin dan deburan ombak di laut.


Dina mulai mengerjapkan matanya dan mulai melihat sekelilingnya, semua telah gelap, hanya cahaya temaran dari lampu tidur yang menyala. Dina meraba sampingnya, namun kosong ia pun bangkit dari tidurnya.


"kamu sudah bangun?" tanya Toni yang terlihat duduk di dekat meja yang berada di ruangan itu.


"kenapa kamu tidak membangunkan aku?" tanya Dina sambil mengucek matanya


"kamu kelelahan sayang....aku ingin kamu beristirahat dulu..." ucap Toni kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Dina "aku akan siapkan air hangat untukmu" Toni mengecup dahi Dina kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai Toni pun keluar dan menyuruh Dina mandi. Ia berjalan ke meja telepon dan mulai menekan nomor resepsionis "tolong siapkan sekarang saja" kemudian Toni mengakhiri panggilan tersebut


Dina keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh rampingnya. Toni berjalan menghampiri Dina "kamu mau menggoda ku hemm?"


"sepertinya otakmu itu sudah tidak waras" ketus Dina


Toni tergelak "bajumu sudah aku siapkan, pakailah itu" Toni menunjuk baju yang sudah ada di atas tempat tidur


Dina berjalan dan mengambil pakaian itu "mana pakaian dalamku?"


Toni pun mendekat kemudian mencium leher Dina "di sini kamu tidak perlu memakainya sayang..."


"apa kamu juga akan mengurungku lagi di sini?" ucap Dina ketus


"ini bulan madu kita sayang...aku ingin menikmatinya dan menghabiskan waktu bersamamu" Toni menjilati leher Dina


"buat apa jauh-jauh ke sini, kalau ujung-ujungnya sama saja, aku ingin juga menikmati pemandangan di sini" gerutu Dina sambil melepaskan handuk yang melilit tubuhnya


Toni pun menggoda, dan meremas benda kenyal favoritnya "itu bisa kita lakukan lain kali" bisik Toni di telinga Dina "apa kamu lupa pesan papa sebelum kita berangkat?"


Dina membeku, ia teringat mertuanya itu menyuruh mereka berbulan madu, sesuka hati mereka selama yang mereka butuhkan, tidak perlu memikirkan pekerjaan yang perlu mereka lakukan hanyalah membuat cucu untuk mertuanya itu.

__ADS_1


Dina mendesahkan nafasnya, ia belum siap jika harus hamil, tapi ia juga tak ingin mengecewakan mertuanya itu. Ia sudah berjanji pada dirinya setelah pil yang diresepkan dokternya habis ia tak akan meminumnya lagi, dan itu masih sekitar dua bulan lagi, karena dokter memberinya resep untuk tiga bulan sekaligus.


Mau tidak mau Dina mengikuti apaa mau Toni, ia tak bisa menolak permintaan Toni. Akhir-akhir ini ia akui ia lebih bergairah, dan selalu ingin disentuh oleh Toni, Dina tidak tahu kenapa dia seperti itu padahal sebelum-sebelumnya ia bisa menahannya.


Setelah selesai memakai bajunya, Dina digandeng Toni keluar dari kamar di teras bungalow itu telah terdapat meja yang telah dihias sedemikian rupa menjadi sangat indah.


"kamu yang menyiapkan ini?" ucap Dina dengan binar mata bahagia


"bukan...para pelayan yang membuatnya" jawab Toni asal


"terima kasih sayang...." Dina mengecup singkat pipi Toni


"hemm....tapi kamu harus membayarnya sayang...." Toni menyeringai


"iya...iya...aku sudah tahu..." Dina sudah hafal apa yang dimau suaminya itu, ia sudah mengenal Toni setiap berada di dekatnya pasti tak jauh-jauah dari masalah ranjang.


Toni menarik kursi untuk Dina duduk kemudian setelah Dina duduk ia pun juga duduk di hadapan Dina. Kemudian mereka mulai makan diselingi canda tawa.


"sayang....terima kasih untuk kesempatan kedua yang kamu berikan untukku, terima kasih kamu mau menikah denganku, terima kasih untuk semuanya" Toni menggenggam tangan Dina "aku akan berusaha mewujudkan impian kamu dan memenuhi semua keinginan kamu"


"tidak..." jawab Toni tegas


"jika tidak ada keraguan lagi, janganlah terlalu cemburu dengan semua masa laluku dan juga orang-orang yang berada di dekatku, karena aku sudah menjadi milikmu seutuhnya hingga maut memisahkan kita" ucap Dina dengan binar bahagianya


"baiklah...aku tidak bisa berjanji tapi akan berusaha untuk yang itu"


Dan makan malam yang romantis itu ditutup dengan kegiatan panas mereka mberdua. Seolah-olah tak pernah puas melakukannya, mereka melakukannya lagi dan lagi.


Sudah lima hari mereka berada di sana, selama lima hari itu pula waktu mereka lebih banyak mereka habiskan dengan berada di kamar mereka. Mereka sesekali berjalan-jalan mengelilingi pulau itu menikmati pemandangan indah di sana.


"sayang....sepertinya milikmu semakin besar" ucap Toni menangkup dua benda kenyal yang menjadi favoritnya setelah selesai melakukan percintaan panas mereka di sianh hari yang terik.


"sepertinya aku tambah gemuk" ucap Dina menatap tubuhnya


"kamu semakin seksi sayang bukan gemuk" Toni membelai rambut Dina


"hemmm sepertinya karena kamu yang selalu memijatnya sayang" ucap Dina dengam senyum menggoda

__ADS_1


"begitukah?" Toni semakin meremas milik Dina, dan Dina pun terpancing kini ia mengambil alih permainan ia yang menyerang Toni lebih dulu.


Tujuh hari sudah mereka berada di sana, namuj belum banyak tempat yang mereka kunjungi, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu membuat cucu untuk tuan Yanuar.


"sayang...kamu masih ingin ke eropa?" tanya Toni, saat ini mereka sedang berada di pinggi pantai dengan hamparan pasir putih di depan mereka.


"tentu saja....tapi tidak masalah jika kita tidak pergi"


"terserah kamu mau pergi kapan"


"tapi masak iya...aku ke eropa bajuku saja isinya baju dinas malam semua" ucap Dina lirih


Toni terkekeh "besok di eropa kamu bisa belanja sepuasmu" ucap Toni mengecup puncak kepala Dina


"ah tidak...nanti uang kamu habis..."


"sayang....kalau habis kita bisa mencarinya lagi, lagipula mertuamu itu yang membelanjakanmu" Toni terkekeh


"dari dulu papa selalu baik padaku, aku takut mengecewakannya" ucap Dina lirih karena ia masih belum bisa memberikan cucu untuk mertuanya dalam waktu dekat


"kamu menantu kesayangannya, jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak" ucap Toni kemudian bangkit berdiri "ayo hari ini kita jalan-jalan"


Dina menyambut uluran tangan suaminya itu. Mereka benar-benar menikmati bulan madu mereka tanpa gangguan apapun, sejak hari pernikahan mereka Toni sengaja mematikan dan menyimpan ponsel Dina serta ponselnya ia tak ingin mereka terganggy dengan telepon yang tidak penting.


"kamu mau di sini berapa lama?" tanya Toni sambil menggandeng tangan Dina


"hemm....aku ingin segera ke eropa, aku ingin ke London, ke Roma, ke Paris..." Dina menerawang jauh kw depan


"baiklah....dua hari lagi kita berangkat, nanti aku akan memesan tiket untuk kita" ucap Toni sambil berjalan menyusur pasir putih di pantai itu


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2