Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 211 Pilihan yang sulit


__ADS_3

Toni masih berusaha merayu Dina agar tidak marah. Namun sepertinya usahanya menemui jalan buntu. Dina memutuskan untuk kembali ke kota K tanpa mempedulikan Toni.


Ia terlalu kesal, melihat ada perempuan lain di kantor Toni. Dina merasa kehilangan kepercayaan pada Toni. Entah apa yang Toni lakukan di belakangnya Dina tidak tahu. Dina sudah terlalu kesal jika dirinya yang selalu menyingkirkan ulat-ulat pengganggu dalam hubungan mereka.


Jam pulang kantor masih beberapa menit lagi, Dina sudah sampai di kantor. Ia tampak tak bersemangat, berjalan dari lobi menuju ke lift langkahnya terasa berat.


"dari mana kamu?" tanya seseorang ketika Dina sedang menunggu lift


Dina pun menoleh ke belakang "papa.... Ada apa datang kemari, bukannya papa sedang berlibur di pantai P?" tanya Dina


"kamu itu papa tanya kenapa malah bertanya?" ucap orang itu yang tak lain adalah Yanuar Wijaya "dari mana saja kamu?"


Dina pun mengambil posisi di sebelah Yanuar "dari Hotel Jaya pa..." jawab Dina jujur


Satu alis Yanuar terangkat "langsung pulang?" Dina hanya mengangguk ia tak berani menjawab karena ia tak bisa membohongi calon mertuanya.


"kamu ikut ke ruanganku" ucap Yanuar ketika pintu lift terbuka. Mereka berdua pun masuk ke dalam lift itu "ada yang ingin papa bicarakan dengan kamu" ucap Yanuar


Dina hanya mengangguk patuh, ia tak berani membuka suaranya. Lift pun naik ke lantai yang mereka tuju. Dina berjalan mengekori Yanuar menuju ke ruangannya. Meskipun ia sudah menyerahkan pengelolaan perusahaan pada anak-anaknya, namun ia masih memiliki satu ruangan di sana, ruangan lama tempat ia dulu bekerja.


Yanuar duduk di sofa panjang sedangkan Dina menelpon OB untuk membuatkan calon mertuanya itu minuman. Dina pun duduk di sofa tunggal di seberang Yanuar


"benar kamu hanya dari Hotel Jaya?" tanya Yanuar dengan tatapan mengintimidasi


"iya pa benar..." Dina berbohong, ia tak mau peristiwa tadi di kantor Toni sampai di telinga calon mertuanya itu.


"jangan berbohong kamu, papa tahu kamu kemana saja hari ini!" ucap Yanuar tegas ia sudah mendengar laporan dari orang kepercayaannya.

__ADS_1


Sejak permasalahan Dina ingin membatalkan rencana pernikahan mereka, Yanuar menyuruh seseorang untuk mengawasi Toni. Ia tak masih mengkawatirkan bahwa anak laki-laki satu-satunya itu akan berulah lagi.


Ia tak ingin pernikahan Dina dan Toni batal. Sebagai orang tua ia bertanggung jawab atas perilaku anaknya. Apalagi dengan kondisi rumah tangganya yang berantaka, ia tak menginginkan anak-anaknya mengalami hal yang sama.


"benar pa...Dina hanya ke hotel kita yang sedang bermasalah, Dina tidak kemana-mana lagi" Dina masih berusaha menutupi peristiwa yang terjadi antara dirinya dengan Toni.


"kamu ke kantor Toni kan?"


Deg....


Dina terdiam, ia berusaha menutupi apa yang telah Toni perbuat, ia tak mau dianggap sebagai pengadu.


"jangan kamu tutup-tutupi kelakuan Toni di luar sana!"


Dina tak berkutik, ia berpikir calon mertuanya itu bisa mengetahui dari mana soal perilaku Toni yang sering membuat dirinya kesal.


"tapi pa...." Dina ingin sekali protes, bahkan kalau bisa menunda hari pernikahannya bukannya malah mepercepatnya.


"jangan dikira papa diam itu tidak tahu apa-apa tentang kalian! Papa tidak ingin kamu hamil tapi Toni malah meninggalkan kamu!"


Lagi-lagi ucapan calon mertuanya itu membuatnya terpaku, ia tak menyangka jika calon mertuanya itu mengetahui semuanya bahkan sampai masalah ranjang antara dirinya dengan Toni.


Dina hanya bisa tertunduk, tangannya meremas roknya. Ia gugup, takut, jika ucapan calon mertuanya itu menjadi kenyataan.


"papa pernah muda, jadi papa tahu sudah sejauh apa hubunyan kalian, kalian sudah tinggal serumah sejak kamu masih kuliah, maka dari itu papa meminta pernikahan kalian dipercepat" ucap papanya Toni tegas.


Yang sekarang Dina rasakan adalah malu, malu pada calon mertuanya itu. Ia takut akan dianggap cewek murahan karena berani menyerahkan tubuhnya pada Toni.

__ADS_1


"tapi jangan percepat pernikahan kami pa...Dina masih butuh waktu" ucap Dina lirih


"kalau begitu, minggu depan papa akan mengumumkan Toni sebagai CEO Wijaya Group yang resmi" ucap Yanuar tak ingin dibantah "dan posisi kamu tetap, tidak berubah"


Dina mengangkat kepalanya, ia menatap calon mertuanya. Ia sudah nyaman bekerja dengan Vanya, jika harus bekerja dengan Toni ia tak tahu akan jadi apa dirinya.


Toni pasti akan memanfaatkan waktu luangnya untuk bercinta dengannya. Pilihan yang sulit, di satu sisi ia tak ingin pernikahannya dipercepat di sisi lain ia juga tak ingin menjadi asisten Toni.


"lalu kak Vanya.... Bagaimana pa?"


"posisi Vanya hanya sementara sampai kalian menikah, namun karena Toni sudah keterlaluan aku akan menariknya ke kantor pusat!"


Dina tak mengerti jalan pikiran calon mertuanya itu. Kenapa posisi CEO bisa ia tukar-tukar seenak hatinya. Lalu dengan dia dekat dengan Toni apakah masalah akan selesai.


"pikirkan baik-baik, papa akan menberikan kesempatan untuk kamu berpikir, papa lakukan ini karena papa menyayangi kamu, hanya kamu yang pantas menjadi menantu papa" ucap Yanuar lebih lembut "papa tunggu jawabannya sampai besok malam" Yanuar berdiri dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan ruangan yang pernah ia tempati.


Dina menyandarkan tubuhnya di sofa, badannya terasa letih otaknya juga merasa lelah. Dina merasa kepala terlalu berat, banyak yang ia pikirkan. Ia bingung harus memilih yang mana.


Jika ada pilihan bagi dirinya untuk bisa menunda acara pernikahannya pasti ia akan memilih itu. Namun calon mertuanya itu tak memberikan pilihan lain. Ia tahu betul calon mertuanya itu dekat dengan kedua orang tuanya, tak mungkin baginya untuk memprotes keputusan calon mertua dan kedua orang tuanya. Karena kelelahan, Dina tertidur di bekas ruangan calon mertuanya itu.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2