
Dua minggu sejak terakhir kali Toni bertemu Dina, Toni sering ke kantin bu Parti yang terletak di belakang kelasnya. Tapi Toni tak pernah bisa mendekati Dina. Ia hanya bisa memandangnya dari jauh.
Ketika ia hendak mendekat, Dina menghindarinya. Toni mengalah, lebih baik ia membiarkan Dina melakukan apa yang ia inginkan. Sementara cukup memandangnya dari jauh.
Toni masih ingat betul jika seminggu lagi Dina akan berulang tahun yang ke tujuh belas. Ia bahkan sudah menyiapkan kado untuk Dina. Ia ingin merayakan ulang tahun Dina sama seperti dua tahun yang lalu. Saat dirinya menyatakan cintanya pada Dina.
.
Di rumah Dina, Dina merasakan kesedihan yang sangat luar biasa nenek yang sangat dekat dengan dirinya meninggal dunia. Dina merasa sangat kehilangan. Nenek yang dari Dina lahir selalu mengurusnya, menemaninya ketika bermain, yang selalu menyiapkan apa yang disukai Dina kini tak ada lagi.
Dina merasa terpuruk, neneknya meninggalkan dirinya enam hari sebelum dirinya berulang tahun yang ke tujuh belas. Semua yang Dina cita-citakan untuk membahagiakan neneknya belum ada satupun terwujud.
Dina seperti kehilangan arah, dunianya terasa runtuh. Tak ada seorang pun yang tahu apa yang Dina rasakan saat ini. Yang orang lain tahu hanyalah Dina yang sedih karena neneknya meninggal itu saja.
Keesokan harinya, Dina belum bisa masuk sekolah. Dina masih berduka. Dina hanya mengabari Anto ketua kelasnya jika ia tidak bisa sekolah karena ada kedukaan.
"Ton...kamu sudah tahu belum Dina hari ini tidak masuk?" tanya Roy
"aku belum tahu, memangnya Dina sakit?" tanya Toni dengan rasa kawatirnya.
"neneknya kemarin meninggal" jawab Roy dengan raut kawatir juga
"hah... Dina pasti sangat kehilangan, Dina sangat dekat dengan neneknya daripada mamanya" ucap Toni sendu
"benar....Dina pasti sangat sedih" ucap Roy
Selama pelajaran, hati Toni tak tenang, ia begitu kawatir dengan keadaan Dina. Ia ngin segera menemui Dina. Ia ingin mengetahui keadaan Dina.
"kamu tidak ingin ke rumah Dina?" tanya Roy
"iya nanti pulang sekolah" ucap Toni dengan nada tidak sabar
"aku ikut boleh?" tanya Roy
"hhh.... Boleh..." jawab Toni lirih
Jam pelajaran terasa sangat lama, Toni benar-benar sudah tidak sabar untuk segera ke rumah Dina. "Roy...jam sore kita bolos saja ya..." ucap Toni gusar
"hah...bolos?!" mata Roy membola
"iya...kalau kamu tidak mau tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri" ucap Toni kesal
"baik...baik...kita bolos jam sore...tapi apa alasannya?" tanya Roy
"bilang saja kita melayat ke rumah teman" ucap Toni santai
"terserah kamu saja...nanti kalau kita kena masalah kamu yang bertanggung jawab" ucap Roy pasrah.
__ADS_1
Bel istirahat jam sore telah berbunyi. Toni dan Roy bergegas berangkat ke rumah Dina. Toni mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai ke rumah Dina.
Toni benar-benar ingin segera tahu keadaan Dina. Ia bisa membayangkan betapa sedihnya Dina. Dina butuh orang yang mengerti keadaannya.
Sesampainya di rumah Dina, rumah tampak sepi tak banyak orang yang berada di sana. Toni memarkirkan motornya di halaman rumah Dina.
Roy dan Toni berjalan ke arah pintu samping rumah. Dan melihat Dina sedang duduk-duduk di teras samping rumah.
"Din..." ucap Toni
Dina menoleh ke arah datangnya suara. Dina menghampiri Toni dengan mata yang terlihat sembab dan senyum yang dipaksakan.
Toni iba, ia juga ikut sedih melihat keadaan Dina.
"turut berduka cita ya Din..." ucap Toni, rasanya ia ingin memeluk Dina memberikan kekuatan untuk Dina
"terima kasih Ton..." ucap Dina dengan senyum dipaksakan
"turut berduka cita Din..." ucap Roy
"iya...terima kasih....ayo duduk dulu..." Dina berjalan ke arah teras depan rumah dan duduk di kursi teras
"nenek kapan meninggalnya Din? Kenapa kamu tidak mengabari aku?" tanya Toni dengan tatapan sendu
"kemarin pagi Ton...aku tidak kepikiran mengabari siapapun, ini tadi pagi saja kalau sepupuku tidak mengingatkan aku juga pasti tidak ijin ke sekolah"
Dina terisak, ia tak bisa menahan kesedihannya. Di depan keluarganya Dina berusaha terlihat kuat, tapi tiba-tiba di depan Toni dan Roy Dina menangis lagi.
"aku belum bisa membahagiakan nenek Ton..." Dina terisak
"nenek pasti sedih melihat kamu menangis seperti ini, kalau kamu bahagia nenek juga pasti ikut bahagia di surga" ucap Toni lembut sambil membelai rambut Dina.
Roy menyaksikan bagaimana Toni yang lebih bisa menghibur Dina daripada dirinya dulu. Roy tidak pandai mengekspresikan apa yang ia inginkan.
Roy semakin yakin jika, Toni memang telah menyadari semua kesalahannya dan mencintai Dina dengan tulus. Ia merelakan jika Dina dan Toni kembali bersama lagi. Ia yakin jika Toni akan bisa membahagiakan Dina.
Dina menghapus air matanya "kalian kenapa jam segini ada di sini?"
"ini Toni yang mengajak aku membolos" cibir Roy
"loh kok aku yang disalahkan, kan kamu yang meminta ijin tadi" kilah Toni
"iya...iya...yang selalu merasa benar" Roy mengerucutkan bibirnya.
Dina tergelak "kalian ini tidak pernah berubah, selalu saja seperti tom dan jerry"
Toni senang melihat Dina sudah bisa tertawa lagi "nah...begitu senyum...jangan sedih terus ya..." ucap Toni mengembangkan senyumnya
__ADS_1
"iya...terima kasih ya....kalian sudah menghiburku" Dina menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"sama-sama Din" ucap Roy
"apa yang tidak aku lakukan untukmu Din...?" Toni tersenyum
"mulai....mulai..." cibir Roy
"sirik....!" ucap Toni kesal
Dina hanya tersenyum memperhatikan perdebatan mereka berdua. Dalam hati, Dina begitu bahagia Toni ada di saat ia membutuhkan teman.
Teman-teman yang mengaku teman dekatnya tak ada satupun yang datang. Malah Toni yang tak ia harapkan untuk datang, yang ia hindari selama ini menunjukkan perhatiannya.
"kamu ujin berapa hari Din?" tanya Roy
"sehari saja Roy....kalau di rumah nanti aku ingat terus dengan nenek" jawab Dina dengan tatapan sedih
"besok pagi aku jemput ya..." ucap Toni lembut
"tidak perlu Ton...aku bisa berangkat sendiri..." ucap Dina yang tak ingin terlalu bergantung pada Toni
"pokoknya besok pagi aku jemput, aku kawatir kamu tidak bisa konsentrasi mengendarai motor" ucap Toni penuh penekanan
"Toni ada benarnya Din...lebih baik kamu jangan pergi-pergi sendiri dulu, bahaya kalau kamu tiba-tiba melamun" ucap Roy yang tahu kekawatiran Toni.
Dina tersenyum "aku tidak apa-apa, aku bisa berangkat sendiri"
Toni tahu Dina hanya ingin menghindari dirinya. Ia tetap kawatir dengan keadaan Dina. Ia tak ingin terjadi sesuatu dengan Dina. Meskipun Dina telah melarangnya tapi ia akan tetap menjemput Dina.
Toni ingin membuktikan bahwa ia benar-benar menyesal atas semua kesalahannya. Dan ia ingin memperbaiki semua yang dulu telah ia lewatkan.
Toni ingin menebus semua kesalahannya. Ia ingin berada di samping Dina di saat masa-masa sulitnya. Ia tidak ingin kejadian waktu Dina sakit dulu terulang lagi.
.
.
.
B e r s a m b u n g
Dukung terus karya ini ya bestie
Please like, vote dan komennya ya, terima kasih sekebon bestie
Jangan lupa mampir di karya 'PACARKU ADIK KELASKU' terima kasih bestie
__ADS_1