Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 16 Jadikan Aku Pacaramu


__ADS_3

Setelah makan malam, Dina masuk kembali ke kamarnya. Badannya sudah terasa lebih baik. Dina teringat apa yang diucapkan Toni. Sebenarnya ia sudah tahu apa yang dimaksud Toni, tapi Dina menepis semua yang ia pikirkan.


Semakin malam, ia semakin merasa bingung harus bagaimana. Dina mengambil kaset band favoritnya kemudian ia mendengarkannya. Karena ia tidak sabar ia mempercepat sampai pada lagu yang ingin ia dengarkan.


Lelap haru di taman


Bias makna yang terpendam


Alas tonggak harapan


Belai indah matamu


Teman mimpi tanpa jemu


Biar terkadang semu


Untaian bunga canda


Tempat kau lepaskan tawa


Tenang hati terbaca


Kini tiba waktuku


Untuk puitiskan sayang


Untuk katakan cinta...


Reff:


Jadikanlah aku pacarmu


'Kan kubingkai s'lalu indahmu


Jadikanlah aku pacarmu


Iringilah kisahku...


Kini... tiba waktuku...


Untuk puitiskan sayang


Untuk katakan cinta...


Jangan pernah lari dariku


Jangan engkau lupakan aku


Jangan pernah lari dariku


Jangan engkau lupakan aku...


(Jadikan Aku Pacaramu ~ Sheila on 7)


Berulangkali Dina mendengarakan lagu itu, ia senyum-senyum sendiri di kamarnya "manis juga si Toni...." gumam Dina

__ADS_1


Dina merasa tidak sia-sia beberapa hari ini menjaga jarak dengan Toni. Ia memang sengaja memberikan dirinya dan Toni ruang untuk memastikan perasaannya masing-masing.


Bukan karena ia terlalu percaya diri Toni menyukainya. Ia sudah merasakannya dari awal mereka kenal, hanya saja ia takut dianggap cewek yang terlalu percaya diri.


Dina makin mantap dengan perasaannya, tapi ia akan sengaja mengulur-ulur memberikan jawabannya agar tidak dikira cewek gampangan.


Karena perasaan bahagianya rasa sakit yang ia rasakan menghilang. Tubuhnya terasa jauh lebih baik dan akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak.


Pagi harinya, Dina berangkat dengan mengendarai motornya lagi. Ia melajukan dengan kecepatan sedang. Sesampainya di sekolah, masih belum terlalu ramai.


Dina masuk ke kelas dan meletakkan tasnya di kursi tempat duduknya. Dina keluar lagi dan dia menuju ke perpustakaan yang baru saja dibuka oleh petugasnya.


Di perpustakaan dia menunggu bel masuk sambil membaca buku-buku yang ada di situ. Bel masuk pun berbunyi, Dina keluar dari perpustakaan dan masuk ke kelasnya. Ia sengaja melambatkan jalannya agar sampai di kelas bersamaan dengan guru yang akan mengajar.


"Dina dari mana?" sapa pak Agus yang juga mau masuk ke kelasnya


"dari perpustakaan pak" jawab Dina dengan senyuman


Mereka masuk ke kelas, Dina mendapat tatapan tajam dari Rani, dan tatapan tanda tanya dari Toni. Dina hanya menatap datar kepada Toni ia ingin melihat bagaimana reaksi Toni dengan sikapnya.


"kamu dari mana saja? Aku kira kamu pingsan dimana, tasnya ada orangnya entah kemana" Rani mengomel dengan berbisik


"dari perpustakaan" bisik Dina terkekeh


"dari tadi ada yang gelisah mencari kamu" bisik Rani


"siapa?" tanya Dina pura-pura tidak tahu


"yang duduk di belakang kamu" bisik Rani


"Din...ayo ke kantin" ucap Rani


"iya...ayo..." jawab Dina kemudian mereka berjalan berdua keluar kelas


Dina mengacuhkan Toni, ia tidak menyapa atau memandang Toni dari awal pelajaran sampai istirahat pertama.


Toni diam, merasa bingung, kenapa Dina diam saja terhadapnya, dan mengacuhkannya. Apakah perasaannya tidak terbalas.


"Dina kenapa Ton?" tanya Roy


"entah...aku bingung, apa aku salah ya Roy?" tanya Toni


"lebih baik kita ke rumahmu saja...santai-santai di sana" ucap Roy beranjak dari duduknya


Toni dan Roy berjalan keluar kelas dan pulang ke rumah Toni. Sepanjang jalan Toni hanya diam, ia tampak murung.


"menurutmu Dina kenapa ya Roy?" Tanya Toni sambil duduk selonjoram di lantai teras rumahnya.


"kenapa bagaimana?" tanya Roy


"kenapa Dina diam saja dan menatapku pun tidak" ucap Toni lesu


"apa ia marah padaku?"


"marah kenapa Ton?" Roy makin bingung dengan temannya yang satu itu

__ADS_1


"soal kemarin..." jawab Toni lesu


"kenapa harus marah? Dia belum memberikan jawaban kan?" tanya Roy sambil duduk bersila di atas kursi


"belum.." jawab Toni lesu menatap lurus ke depan


"berikan Dina waktu Ton...lagipula kalian juga baru kenal, mungkin dia butuh waktu lebih"


Toni memikirkan ucapan Roy, memang ada benarnya ucapannya. Dirinya dan Dina baru kenal beberapa minggu. Meskipun mereka sudah dekat tapi mereka belum mengenal lama satu sama lain.


Mungkin memang ia harus memberi Dina waktu, dan memberikan Dina perhatian lebih agar Dina merasa nyaman. Entah bagaimana ke depannya dia akan berusaha membuat Dina nyaman terlebih dahulu.


Toni dan Roy kembali ke sekolah, Toni masih dengan wajah yang tampak murung. Dia memasuki kelas dan melihat Dina yang tersenyum menatapnya.


Niatnya untuk memberi Dina waktu goyah. Ia bingung apakah harus menanyakannya sekarang ataukah besok atau lusa. Toni makin bimbang. Badan yang tadi terasa lesu berubah lebih segar melihat senyuman Dina untuknya.


Toni membalas senyuman Dina, tapi sewaktu melewati meja Dina. Dina hanya diam dan tak menyapanya. Toni kembali lagi tak bersemangat. Ia hanya bisa menatap punggung Dina dari belakang.


Meski mereka duduk berdekatan, tapi Toni tidak punya keberanian untuk mengajaknya berbicara. Ia menahan keinginannya seperti yang diucapkan Roy tadi. Memberi Dina waktu agar mereka bisa sama-sama yakin dengan perasaan mereka.


Bel istirahat kedua telah berbunyi, Toni dan Roy bergegas keluar dari kelas. Dina hanya menatap Toni dari belakang. Ia tahu Toni pasti bingung dengan sikapnya. Tapi itu semata-mata karena ia ingin memantapkan hatinya.


Dan juga ia tidak mau disebut cewek gampangan. Ia tahu Rani suka mencuri-curi pandang terhadap Toni. Dan ia juga tahu Toni menganggap Rani itu terlalu gampangan. Ia belajar dari itu.


"kamu kenapa mengacuhkan Toni?" tanya Rani penasaran


"ah...biasa saja Ran...aku tidak mengacuhkannya" jawab Dina santai


"terus bagaimana? Kamu terima apa kamu tolak?" tanya Rani penasaran


"belum tahu Ran..." Dina terkekeh


"hati-hati nanti diambil orang lho...Toni itu paket komplit Din...siapa yang tidak suka dengan cowok seperti Toni" ucap Rani


"berarti kamu juga menyukai Toni?" goda Dina


Rani diam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan Dina. Ia juga tahu jauh dalam lubuk hatinya, Dina menyukai Toni hanya saja Dina terlalu gengsi mengakui perasaannya terhadap Toni.


Kalau ia jawab ia juga menyukai Toni, ia takut Dina akan menjauh darinya. Selama ini ia sangat bergantung pada Dina soal tugas-tugas sekolah.


"ini hari sabtu, pulang sekolah kita jalan-jalan kemana gitu Din..." ucap Rani


"ah...males ah...aku mau tidur saja... Menikmati hari libur" tolak Dina


"ah...kamu tidur terus kerjaannya" Rani mencebik


.


.


B e r s a m b u n g


Tolong like, komen dan votenya ya bestie


Terima kasih sekebon bestie

__ADS_1


__ADS_2