
Dua jam berlalu, akhirnya Dina selesai di make up. Dan benar tangan Melinda alias Malik benar-benar ajaib, kini ia menjadi seorang putri kerajaan make up yang tidak terlalu tebal namun natural membuat kecantikan Dina semakin memancar.
Rambutnya ditata sedemikian rupa sehingga Dina benar-benar cantik, sehingga Ani pun sampai tak mengenalinya, dan jangan lupakan tiara yang Dina pakai di kepalanya khusus dibuat oleh Vanya untuk Dina, memakai mutiara laut asli dan batu permata asli.
Gaun berwarna light yellow yang Vanya antar tadi menyempurnakan kecantikan Dina. Benar-benar seperti mimpi, ia bisa memakai gaun seindah ini.
"Pengantinku kali ini benar-benar menakjubkan, padahal eike hanya memoles sedikit tapi hasilnya woww...." ucap Melinda dengan gaya kemayu
"ah...kamu bisa saja....kamu terlalu memujiku padahal tangan kamu memang ajaib" puji Dina
"iihh....eike jadi besar kepala nih..." ucap Melinda malu-malu "eike boleh kan foto sama yei....?" tanya Melinda kemudian meminta karyawan Vanya memfoto mereka berdua
Toni pun masuk ke bersama Roy, ia belum selesai bersiap karena setelan jas yang harus ia pakai masih berada di dalam ruangan tempat Dina berias.
Toni menatap Dina tanpa berkedip, lagi-lagi hari ini ia dibuat terpukau dengan penampilan Dina. Roy pun juga sama, jika mengingat Dina dulu ia tak menyangka hari ini Dina benar-benar cantik. Ia kemudian tersenyum menetralkan perasaannya, biar bagaimanapun kini Dina telah resmi menjadi istri dari sahabatnya.
"tuan ini jas anda, saya akan membantu anda bersiap" ucap karyawan Vanya membawa setelan yang akan Toni pakai
"ah...iya terima kasih, tapi saya bisa memakainya sendiri" Toni meraih setelan itu, ia tak mau dibantu oleh karyawan Vanya karena semuanya perempuan, ia tak mau tubuhnya disentuh perempuan lain kecuali Dina.
Toni pun masuk ke dalam kamar, dan mengganti pakaiannya. Kemudian keluar sambil membawa dasinya. "Sini aku bantu..." Roy meraih dasi yang Toni pegang
"memangnya kamu bisa?" cibir Toni namun menurut saja apa yang Roy lakukan
Roy menyimpul dasi kupu-kupu iti di leher Toni "sudah selesai..." ucap Roy
__ADS_1
Toni pun menghampiri Dina yang telah selesai bersiap. Tiba-tiba Melinda menghampiri Toni "ih..sini eike rapiin rambut yei...sama bedakin wajah yei...biar nggak kucel begitu"
"nggak..."
"sayang...sudah...menurutlah...tangan Melinda ini ajaib, percayalah...." ucap Dina lembut
Lima belas menit kemudian, rambut Toni telah selesai ditata oleh Melinda alias Malik dan kini ia tampak lebih gagah dan berwibawa "ahhh...macho sekali...eike jadi pengen gigit" ucap Melinda dengan gaya kemayunya, dan mendapat tatapan tajam dari Toni "iihh....atut...nggak jadi ahh..." Melinda pun menyingkir dan membereskan peralatan make upnya
"oh ya Mel....nanti malam kamu juga yang bakalan bantu aku benerin make up?" tanya Dina
"of....course...cantik...eike hari ini dikontrak oleh Madam Vanya untuk setia mendandani princess Dina" ucap Melinda dengan gaya centilnya "jam sepuluh kan?" kini suara Melinda berubah menjadi suara Malik
"sekitar jam segitu..." ucap Dina terkikik melihat ekspresi Toni yang sulit diartikan karena melihat Melinda
"mama....." ucap Dina dengan nada manja memeluk mamanya
"sudah jadi istri orang jangan bertingkah manja begini" ucap mamanya Dina melepas pelukan anaknya
"sepuluh menit lagi acara dimulai sebaiknya kita bersiap" ucap Tuan Yanuar
Mereka pun semua bersiap dan berjalan meninggalkan kamar itu, Toni menggandeng Dina yang tampak kesulitan berjalan karena memakai ballgown itu.
"kamu cantik sekali sayang, hari ini kamu sukses memberi aku kejutan...." bisik Toni
"baru sadar ya....kalau aku cantik" cicit Dina
__ADS_1
"sayangnya sudah lama aku sadarnya" Toni terkekeh
"ayo bersiap...nanti masuk ke ruangan di barisan paling depan Tuan Yanuar dengan Kak Vanya, kemudian orang tua Dina, disusul adik-adik Dina kemudian pendamping dan yang terakhir pengantin....oke semua siap..." ucap salah seorang dari pihak WO
Mereka pun memasuki ballroom hotel itu yang telah dihias sedemikian rupa sesuai keinginan Toni dan Dina. Semua nuansa putih dan kuning, berbagai bunga kesukaan Dina pun ada di sana.
Para tamu undangan telah banyak yang datang memenuhi ruangan itu, mereka semua tampak antusias ingin melihat seorang anak pengusaha terkenal di kota itu yang jarang sekali diekspos karena Toni memang memilih berada di kota J waktu itu. Mereka tampak penasaran seperti apa wajah pengusaha muda yang dikabarkan berwajah tampan dan juga pintar dalam mengelola perusahaan. Bahkan media pun ada yang meliput pernikahan Toni dan Dina, pernikahan seorang anak pengusaha terkenal di kota itu.
"sekarang kita sambut....mempelai berdua....Mr Louis Antoni Wijaya and Mrs. Jocelyn Andina Prasetya....." ucap pembawa acara
Dina mengapit lengan kiri Toni, berjalan anggun memasuki ruangan tempat resepsi mereka. Tampak semua orang bertepuk tangan kemudian kelopak-kelopak bunga bertaburan mengiringi langkah mereka berdua naik ke atas pelaminan.
"sayang jangan lupa senyum" bisik Dina, ia tahu Toni sudah jarang tersenyum pada orang sejak mereka putus waktu SMA dulu
Toni pun menuruti permintaan Dina, senyum yang telah lama ia kubur itu akhirnya ia tunjukkan lagi pada banyak orang. Sedangkan Dina jangan ditanya lagi, ia terkenal ramah dan sudah dipastikan ia tersenyum sepanjang hari ini.
Dina mengamati satu-per satu tamu-tamu undangan yang ia lewati. Ia melihat beberpa teman sekolahnya dulu ada di sana, dan yang paling banyak ia lihat adalah kolega-kolega bisnis yang pernah ia jumpai.
Selebihnya ia tidak tahu karena terlalu banyak orang yang hadir. Ballroom yang begitu luas itu penuh dengan orang. Dina mengira-ira mungkin mertuanya ini mengundang lebih dari seribu orang.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1