Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 193 Kerja dimana?


__ADS_3

Jam pulang kerja pun tiba, Dina bersiap-siap untuk pulang. Ia merapikan mejanya kemudian mematikan komputernya. Begitu pula kedua temannya mereka juga tengah bersiap untuk pulang.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju lift, dan di depan lift sudah ada Bimo yang sedang menunggu lift juga. Dina tampak acuh, setelah peristiwa tadi pagi Dina sudah bertekat, ia hanya akan berbicara dengan Bimo masalah pekerjaan saja, di luar itu ia hanya akan bicara seperlunya saja.


Mereka berempat pun masuk ke dalam lift. Bimo memilih berdiri di pojok belakang. Ia tahu Dina marah padanya, apa gunanya ia mengajaknya berbicara.


"Din...kita nongkrong di cafe yuk..." ucap Mira


"lihat nanti saja ya...yang jelas aku juga ingin mencari udara segar, bosan di apartemen terus" jawab Dina santai


"apartemenmu yang di jalan X itu kan Din?" tanya Dea


"iya...kok kamu tahu?"


"aku pernah sekali melihatmu turun dari taksi di sana" Dea terkekeh


"berarti kita bertiga searah jalan pulang ya" Mira tergelak


Bimo sedari tadi mendengarkan percakapan ketiga cewek di depannya itu "pantas saja aku tidak pernah tahu kamu tinggal dimana, ternyata di apartemen" batin Bimo


"kenapa tinggal di apartemen Din? Enakan juga di kos biasa ramai..." ucap Mira


"aku ikut saja apa kata tunanganku...toh dia yang bayar juga" ucap Dina biasa saja, ia tahu sejak tadi Bimo menguping pembicaraan mereka.


Pintu lift terbuka mereka sudah sampai di lobi perusahaan. Mereka bertiga berjalan keluar gedung, Dina mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Toni.


"mencari siapa sayang..." tiba-tiba Toni berjalan dari arah samping memakai baju formal seperti akan menghadiri acara penting


"aku kira kamu nggak datang..." ucap Dina "oh...iya kenalkan teman-temanku"


Dina memperkenalkan Dea dan Mira pada Toni. Mulut mereka berdua menganga menatap Toni yang benar-benar definisi cowok sempurna.


"sayang....maaf aku harus ke cafe XX ada pertemuan dengan klien, temani aku bertemu klien ya..."


"kenapa nggak bilang dari pagi, aku kan bisa membawa baju ganti biar nggak kebanting dengan penampilan kamu" Dina mengerucutkan bibirnya


Toni terkekeh "nggak perlu ganti baju, ini juga suadah pas kok..."

__ADS_1


"ya sudah...aku ikut tapi aku nanti duduk di meja lain ya..." ucap Dina yang ingin mengajak teman-temannya nongkrong di cafe "aku mau ajak mereka, tadi rencananya aku mau minta ijin ke cafe sebelah bersama mereka" ucap Dina


Toni tersenyum "baiklah....asal princessku nyaman" blush...pipi Dina merona, Toni menyebut panggilan kesayangan di depan banyak orang


Mereka berempat pun berangkat ke cafe yang dimaksud Toni. Cafe yang hanya dikunjungi masyarakat kelas menengah ke atas. Mira dan Dea saling pandang, mereka bingung sebenarnya siapa Toni dari penampilan terlihat bukan pegawai biasa.


Hanya butuh waktu dua puluh menit mereka telah sampai di cafe yang dimaksud. Toni mengedarkan pandangan mencari klien yang sudah membuat janji dengannya.


"sayang...terserah kamu mau duduk dimana, pesan saja apa yang kalian mau, nanti aku yang bayar..." ucap Toni lembut


Dina mengangguk kemudian ia mengajak kedua temannya untuk duduk di dekat jendela sedangkan Toni tampak duduk di sisi lain bersama beberapa orang pria.


"ayo kalian pesan apa?" Dina membolak-balik buku menu. Begitu juga dengan Dea dan Mira. Mereka membaca satu per satu menu yang ada di buku itu.


Mereka berdua saling tatap melihat harga yang tertera di sana. Dina mentap kedua temannya heran, namun ia tahu pasti kedua temannya itu merasa tidak enak hati jika memesan makanan yang terlihat mahal. Harga makanan di sana bisa buat makan dua hari hanya untuk sekali makan.


"ayo pesan saja....jangan malu-malu" Dina tersenyum


Akhirnya mereka pun memesan makanan yang ingin mereka makan. Dina tersenyum, baru kali ini melihat Dea dan Mira bisa kehabisan kara-kata padahal biasanya mereka cerewet.


"Din...calon suamimu itu kerja di perusahaan apa?" Dea memberanikan diri bertanya


"sepertinya dia punya posisi penting ya Din...? Kelihatan banget dari penampilan dan cara bicaranya di depan kliennya" Mira menatap ke arah Toni yanh sedang berbincang dengan kliennya


Dina terkekeh "penting nggak penting Mir..." kemudian Dina tergelak


"ditanya serius malah bercanda..." gerutu Mira


"nanti kalian juga akan tahu...aku nggak mau bilang nanti dikira pamer, nggak ah..."


"Dina...." teriak Dea yang kemudian semua orang menoleh ke arah mereka, Dina hanya terkikik geli melihat ekspresi Dea yang terlihat malu


Mereka bertiga mengobrol, membicarakan isu-isu di kantor mereka yang sekarang sedang beredar. Dina hanya menjadi pendengar setia karena ia tak begitu tertarik tentang kabar yang belum pasti. Namun ia tetap menghargai kedua temannya yang antusias menceritakan semuanya.


Mereka bertiga berbicara tak kenal waktu, sampai pertemuan Toni sudah selesai mereka masih tampak asyik mengobrol. Toni hanya menatap dari jauh, ia memberikan Dina kesempatan untuk bersama teman-temannya.


Melihat Dina tertawa membuat hatinya ikut bahagia. Meski ia masih kawatir akan Bimo yang terus mendekati Dina. Toni berusaha mempercayai Dina, bukan berarti ia tak percaya dengan Dina namun ia berusaha mempercayai Dina bisa menangani masalahya dengan Bimo sendiri.

__ADS_1


"sayang..." Toni duduk di sebelah Dina


"sudah selesai?" Dina terkejut


"sudah sejak setengah jam lalu" Toni terkekeh


"Ton...boleh aku tanya sesuatu?" celetuk Dea "kamu kerja dimana?" pertanyaan Dea itu sontak mendapat lirikan tajam dari Mira. Temannya yang satu itu memang ucapannya sering tidak bisa direm


"di anak perusahaan Wijaya Group" ucap Toni santai


"oh...pasti gajinya besar ya....kalau ada lowongan aku berminat pindah ke sana" ucap Dea tanpa filter, Toni dan Dina saling tatap kemudian Toni kembali menatap Dea dan Mira


"masalah gaji sebenarnya sama saja, di sana gajinya besar karena biaya hidup juga mahal, sedangkan di sini, gaji relatif kecil karena biaya hidup juga murah" terang Toni


"kalau ada lowongan kasih info ya Ton..."


Toni tersenyum "tanya saja pada Dina, dia dekat dengan pemilik Wijaya Group, kalau ada lowongan pasti dia kasih informasi" ucap Toni dan mendapat cubitan di pinggangnya "awhh...sakit sayang"


"jangan percaya sama dia, dia yang lebih kenal dengan pemiliknya kenapa aku dibawa-bawa" gerutu Dina


"ya kan...ada benarnya sayang....kamu kan calon menantu kesayangan...." belum selesai ucapan Toni , Dina membekap mulut Toni, sedari tadi susah payah ia menyembunyikan identitas calon suaminya itu, tiba-tiba malah dikacaukan oleh Toni.


"jadi...?" Mira yang cepat mengerti akhirnya bersuara


"sudah jangan dengarkan dia, dia kalau mengantuk suka melantur" ucap Dina


"sudah malam Din, kami pulang dulu ya..." pamit Dea


"kita bareng saja...kan searah...ini sudah malam, angkutan umum juga sudah susah" ucap Dina


Dea dan Mira menyetujui perkataan Dina. Mereka berempat pulang bersama-sama. Kos Mira dan Dea ternyata terletak di belakang apartemen Dina.


Setelah mengantar pulang Dea dan Mira, Toni melajukan mobilnya menuju apartemen mereka. Hari ini hari yang cukup melelahkan bagi mereka berdua dengan permasalahan mereka masing-masing.


.


.

__ADS_1


b e r s a m b u n g


Jangan lupa like, komen dan vote ya bestie....nona tunggu


__ADS_2