Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 13 Pengakuan Toni dan Roy


__ADS_3

Roy yang bingung mendengar curahan hati sahabatnya itu berpikir apakah Toni sudah benar-benar jatuh cinta kepada Dina. Atau hanya obesei sementara.


Roy tahu betul Dina belum pernah dekat dengan cowok, misal dekat itupun hanya sebatas teman. Karena Dina seperti membatasi dirinya agar tidak terlalu dekat dengan cowok.


"Ton...aku ingin bertanya...tolong jawab dengan jujur!" Akhirnya Roy memberanikan diri untuk bertanya pada Toni


"apa Roy?" Toni mengerutkan dahinya


"kamu menyukai Dina?" tanya Roy yang membuat Toni terkejut


"hmmm....bagaimana ya.... jawabnya ya...Roy?" Toni tampak kebingungan


"tinggal jawab iya atau tidak apa susahnya Ton?" Roy mencebik


"iya Roy...aku menyukai Dina" jawab Toni jujur


"sejak kapan?" Roy membulatkan matanya, ternyata kecurigaannya benar.


Roy sudah curiga ketika Toni meminta dikenalkan dengan Dina. Tidak hanya sampai di situ, Toni sering bertanya-tanya tentang Dina, dan beberapa kali menunjukkan rasa sukanya kepada Dina.


Awalnya dia hanya menebak-nebak dan hanya asal bicara menggoda Toni dan Dina. Tapi sekarang semua terjawab sudah. Bukan hanya mengira-ira atau menebak-nebak tapi pengakuan Toni secara langsung.


"aku tidak tahu secara pasti Roy, tapi aku mulai tertarik dengannya ketika kita class meeting dulu" terang Toni


"berarti sudah lumayan lama Ton...kenapa kamu tidak pernah cerita" ucap Roy


"aku kira kamu tahu Roy" Toni memukul lengan Roy


"tahu dari mana? Kamu saja tidak cerita" Roy mencebik


"kamu kan suka menggoda, meledek aku dengan Dina aku kira kamu tahu" kesal Toni


"aku kan cuma asal bicara Ton" Roy terkekeh


"terus Dina kenapa sekarang seperti menghindar dari aku ya Roy?" keluh Toni


"entahlah Ton...mungkin ia sempat mendengar ucapan teman-teman yang tidak suka kalian dekat" Roy mengedikkan bahunya


"memangnya ada Roy?" tanya Toni penasaran


"ada...nanti kamu juga akan tahu sendiri" Roy terkekeh


"terus aku harus bagaimana Roy....?" tanya Toni dengan tatapan mengiba

__ADS_1


"aku tidak tahu Ton...kalau kamu menyukai Dina ya...katakan kepadanya..." ucap Roy santai


"Dina itu belum pernah pacaran, aku tidak tahu siapa yang pernah ia sukai, aku juga sempat menyukainya tapi Dina hanya menganggapku teman baiknya" lanjut Roy


Toni membulatkan matanya mendengar ucapan Roy. Kemarin-kemari Roy sekilas mengatakan kalau ia menyukai Dina, tapi itu waktu mereka sedang bercanda. Kini Roy tampak serius mengatakannya.


Jika Roy yang sudah lama kenal dengan Dina hanya dianggap teman baiknya, maka bagaimana dengan dirinya. Dia baru saja mengenal Dina. Baru dalam hitungan minggu.


Bahu Toni merosot memikirkan semua itu. Ia sudah merasa kalah sebelum bertanding. Ia takut Dina menolaknya. Ia takut Dina akan makin menjauh darinya.


"apapun hasilnya sebaiknya katakan dulu kepadanya, kamu tidak akan tahu apa hasilnya sebelum mencobanya." ucap Roy bijak.


"ungkapkan apa yang kamu rasakan selama ini, katakan kepadanya apa yang kamu inginkan, jika ternyata Dina hanya menganggapmu teman, setidaknya kamu sudah mengungkapkannya, daripada hanya kamu pendam sendiri" terang Roy dan beranjak dari duduknya


"tumben kamu bijaksana" Toni mencibir


"aku memang sudah dari dulu bijaksana, kamu saja yang tidak menyadarinya" ucap Roy santai


"dan aku juga akan mebuat pengakuan kepadamu, aku dan Dina dulu pernah saling menyukai, tapi dia lebih memilih menjadikanku teman baiknya, dulu ia belum ingin berpacaran, waktu kutanya kapan kamu siap berpacaran? Dia menjawab mungkin ketika sudah SMA" ucap Roy santai


"dan sekarang kita sudah sama-sama SMA, aku rasa aku juga harus menanyakan hal yang sama seperti dulu" Roy terkekeh


"jadi kamu mau bersaing denganku Roy?" Toni mulai tersulut emosinya


Toni berjalan mengikutinya, ia penasaran apa yang maksud ucapan Roy "siapa Roy?!" tanya Toni dengan nada tinggi


"aku...!" Roy tergelak


"kau....!" Toni makin naik emosinya


"sudah....sudah...ayo kembali ke sekolah, sebentar lagi bel berbunyi" ucap Roy santai setelah mempermainkan emosinya.


Apa yang Roy katakan memang benar adanya. Tapi untuk hal yang terakhir ia tidak tahu secara pasti siapa yang akan Dina pilih. Tapi melihat tatapan Dina kepada Toni ia tahu sebenarnya Dina juga menyukai Toni.


Mereka berdua berjalan beriringan kembali ke sekolah. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sesampainya di kelas, Toni tidak mendapati keberadaan Dina. Ia mendekat ke arah tempat duduk Dina. Toni lega, karena tas milik Dina masih ada di sana.


Toni duduk di kursinya, ia memikirkan apa yang Roy katakan tadi. Di satu sisi ia ingin mengungkapkan perasaannya, di sisi lain ia takut dengan penolakan Dina.


Toni melamun, sampai tidak menyadari Dina sudah duduk di kursinya. Biasanya mereka akan bercanda, tapi kali ini Dina membiarkan Toni melamun. Biarkan ia larut dalam pemikiraannya pikir Dina.


Guru yang mengajar di jam pertama jam sore telah masuk. Roy yang melihat Toni masih melamun menyenggol lengan Toni sehingga Toni tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


Sepanjang jam pelajaran Toni lebih sering memperhatikan Dina daripada penjelasan gurunya. Ia merenungkan perkataan Roy. Ia juga memikirkan apakah Dina menyukai Roy.


Tapi sikap Dina ke Roy biasa-biasa saja. Tidak pernah Dina menunjukkan sesuatu yang berlebih kepada Roy. Semakin lama memandangi Dina, ia malah mendapat lirikan dari Rani teman sebangku Dina.


Benar saja Rani curi-curi pandang kepada Toni. Entah apa maksud Rani, yang jelas ia merasa tidak suka. Ia menganggap Rani cewek yang berlebihan.


Terlalu agresif kepada cowok, dan terlalu percaya diri bahwa hanya dirinya yang paling cantik. Dina yang tidak banyak berbicara tapi ramah terhadap semua orang, yang mampu menarik hatinya.


Tiga jam pelajaran berlalu, bel pulang telah berbunyi semua siswa berhamburan keluar kelas untuk segera pulang. Toni memperhatikan Dina yang sepertinya terburu-buru membereskan barang-barangnya.


"aku antar pulang ya Din..." ucap Toni yang masih duduk di kursinya


"tidak usah Ton....terima kasih" jawab Dina dengan senyum manisnya


"Din..aku duluan ya..." ucap Rani sambil melirik ke arah Toni


"iya Ran...hati-hati ya..." ucap Dina dengan senyum mengembang


"aku pulang dulu ya Ton... " Dina beranjak dari duduknya dan menggendong tasnya


"yakin...tidak mau diantar? " Toni meyakinkan Dina


"iya...aku pulang bareng teman, anak kelas dua B" ucap Dina dengan senyuman


"hati-hati di jalan ya Din..." ucap Toni dengan tatapan sendu.


Toni sedih, bingung marah bercampur jadi satu. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya kepada Dina. Roy yang berada di sebelahnya masih menunggunya untuk pulang. Tapi yang ditunggu masih asyik melamun.


.


.


.


B e r s a m b u n g


.


Jangan lupa pencet tombol favorit ya...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya


Terima kasih sekebon bestie...

__ADS_1


__ADS_2