
Jauh di dalam lubuk hati Dina, masih berharap Dendy akan memperjuangkannya. Dina merasa lelah jika ia yang harus memperjuangkan perasaannya pada Dendy seperti dulu. Meski begitu Dina tetap menyimpan cintanya dalam lubuk hatinya. Baginya sekarang, biarlah waktu yang menjawab semuanya.
Setelah pertemuan terakhirnya dengan Dendy saat ia memintanya mengantarkan ke kampus untuk menyerahkan laporan KKNnya Dina tak lagi bertemu Dendy. Dendy juga tak menghubunginya, bahkan hanya sekilas melihat motornya terparkir saja tidak pernah.
Dina mulai menyadari, apa yang ia lakukan beberapa minggu terakhir adalah salah. Mengejar seseorang yang tak memperjuangkan perasaannya padahal ada orang yang benar-benar berjuang untuk mendapatkannya.
Tak ada yang tahu tentang pertemuannya dengan Dendy, hanya beberapa teman kos Dendy yang tahu, yang ia yakini tak ada seorangpun yang mengenal Toni.
Setelah dua bulan Toni disibukkan dengan mengurus perusahaan papanya kini ia kembali ke rutinitasnya seperti biasa. Mengelola perusahaan kecil yang bernaung di bawah Wijaya grup.
Toni juga sedang mempersiapkan pembukaan cafe barunya, terinspirasi dari candaan Dina yang akan ia namakan perpaduan dari nama Toni dan Dina. Ia berencana meresmikan pembukaannya saat ulang tahun Dina tiga bulan lagi.
Dengan kerinduaan yang sudah tak terbendung Toni mendatangi kos Dina. Ia berharap Dina tak sedang sibuk, dan berada di kosnya karena ia ingin memberi kejutan untuk Dina.
Toni memencet bel kos Dina, sedikit lama menunggu ada yang membukakan pintu untuknya, namun ia baru pertama kali bertemu dengan cewek itu.
"kak Dina sedang mandi kak...kakak tunggu aja..." ucap cewek itu
"aku tunggu di atas saja" ucap Toni dengan wajah datar
Toni naik ke kamar Dina, dia menunggu di kamar Dina. Beberapa bulan ia tak ke kos Dina, tak ada yang berubah.
"lhoh...kamu ternyata?!" Dina terkejut
"memangnya siapa yang kamu tunggu?" Toni mulai emosi, ia berpikir Dina menduakannya
"aku pikir temanku" jawab Dina santai sambil merapikan rambutnya
"baiklah...aku pulang kalau begitu" Toni kecewa
"kenapa pulang?!" Dina kebingungan ia tahu Toni marah
"karena bukan aku yang kamu tunggu" Toni berjalan keluar dari kamar Dina
"Toni...tunggu...!!" Dina berjalan mengejar Toni "bukan begitu maksudku"
Toni berhenti dan berbalik "sudah jelas kamu mengira aku orang lain"
"aku benar-benar tidak tahu Ton...tadi Lia bilang ada yang mencariku, aku bilang ke dia suruh tunggu dulu aku sedang mandi, aku nggak tahu kalau itu kamu"
"ya sudah kamu tunggu saja temanmu itu, aku pulang masih banyak yang harus aku kerjakan" Toni keluar dari kos Dina
__ADS_1
"terserah kamu saja Ton..."
Dina kembali ke kamarnya, ia kesal Toni marah padanya. Padahal Dina berpikir yang seharusnya marah adalah dirinya. Beberpa bulan ia jarang berkomunikasi, hanya berkomunikasi lewat pesan singkat, dan Dina sering mengirim pesan singkat tapi Toni jarang membalasnya. Dina menelpon Toni tapi tak pernah tersambung.
Dina mencoba mengerti dengan kesibukan Toni, tapi ia tak menyangka Toni sama sekali tak ada waktu untuknya. Dan sekarang hanya karena masalah sepele, Toni marah padanya.
Dina malas meladeni Toni yang merajuk. Dina membiarkan Toni menyadari kesalahanya. Kalau memang Toni menyayanginya pasti ia akan kembali menemuinya.
Dua hari Dina mendiamkannya, Toni mulai gelisah. Ia merasa bersalah sekaligus marah pada Dina. Ia gengsi jika harus meminta maaf pada Dina, tapi ia juga sangat merindukannya. Batinnya berperang antara mendatangi Dina atau menunggu Dina yang mendatanginya.
Toni tak tahan, ia ingin mendatangi Dina, ia merasa Dina tak akan mendatanginya selain itu ia ingin membuktikan Dina tak menghianatinya.
"Wan...ayo ke kampus..!." ucap Toni dengan nada marah
"bukannya hari ini bos nggak ada jadwal kuliah?" Ridwan kebingungan
"aku ingin menangkap basah Dina..."
Ridwan mulai ketakutan, Toni terlihat menyeramkan, ia tahu bosnya itu marah pada Dina "memangnya mbak Dina kenapa?"
"aku curiga ia pergi dengan cowok lain!" Toni dengan wajah yang mulai memerah dan berjalan meninggalkan ruangannya
"hah...? Tahu dari mana?" gumam Ridwan yang mengikuti bosnya itu.
Ridwan mengikuti perintah Toni. Membelah jalanan di kota J di siang hari membutuhkan kesabaran ekstra. Dua puluh menit Toni sampai di kampus Dina, ia tahu jadwal kuliah Dina, di awal semester Dina memberikan jadwal kuliahnya beserta ruangannya.
Toni turun dari mobilnya, ia berjalan ke lobi fakultas Dina. Dari jauh ia melihat Dina sedang bersama seorang cowok, tampak akrab dan tertawa lepas.
Toni terbakar api cembur, ia pun bergegas menghampiri Dina "ayo ikut denganku!" ucap Toni dengan nada dingin
Dina dan temannya mendongak menatap siapa yang berbicara pada mereka
"sebentar..." ucap Dina tak kalah dinginnya
"sekarang!" sambil menatap teman Dina
"hmm....Din....besok saja kita lanjutkan....nanti aku carikan data-datanya..." ucap teman Dina merasa tak enak hati
"tanggung Yon..."
"ayo...ikut aku" Toni menarik tangan Dina
__ADS_1
"kamu ini kenapa sih?!" Dina kesal
"Din...aku ke perpustakaan dulu..." Teman Dina beranjak meninggalkan Dina dan Toni.
Untung suasana lobi sedang sepi tidak banyak orang yang berlalu lalang. Tak ada yang memperhatikan kejadian tersebut.
"apa-apan kamu ini Ton?!" Dina berdiri dari duduknya
"ayo..." Toni menarik tangan Dina dan membawanya ke mobil
"Wan...kamu turun...bawa motor Dina ke rumah" ucap Dina dingin
"mana bisa begitu Ton?" protes Dina
"sudah berikan kuncinya pada Ridwan"
Dina mengalah, kuci motornya ia serahkan pada Ridwan dan ia naik ke mobil Toni. Toni membawa Dina pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Toni membawa Dina ke kamarnya agar Ridwan yang sedang menunggu mereka tak mendengar perdebatan mereka.
"kami ini kenapa Ton..?! Datang-datang membuat temanku ketakutan!" teriak Dina
"ada hubungan apa kamu dengan cowok tadi?" tanya Toni berusaha tak membentak Dina
"dia temanku..." jawab Dina
"teman? Bersama dia kamu bisa tertawa lepas....sedangkan aku...kamu abaikan"
"lantas mau kamu mau apa? Kamu datang-datang sudah marah-marah, memangnya cuma kamu saja yang boleh marah?"
"kamu mengabaikan aku Din...sekian lama nggak bertemu, aku datang tapi kamu abaikan" ucap Toni dengan nada kesal
"aku mengabaikan kamu?" Dina tertawa "yang selama ini jarang membalas pesan itu siapa?!"
Toni tak berkutik ketika Dina mengungkitnya. Ia memang jarang membalas pesan Dina, ia pikir Dina akan mengerti dengan kesibukannya
.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g