
Toni tak kuasa lagi membendung apa yang ia inginkan, ia pun menarik dress yang dipakai Dina. Dalam satu tarikan dress yang dipakai Dina pun terlepas hingga tinggal penutup terakhirnya yang tersisa.
Melihat kemolekan tubuh Dina, Toni pun melepaskan apa yang menempel di tubuhnya hingga tak satu helai benang pun menempel di tubuhnya. Dina terkejut, menatap tongkat sakti yang pernah ia pegang sebelumnya, terlihat tegak dan kokoh berdiri.
Sedetik kemudian ia mencium kembali setiap inchi tubuh Dina. Tangan Dina tak tinggal diam ia pun juga meraba dan meremas tongkaat milik Toni.
Tongi hanya bisa mengerang tertahan merasakan hangatnya sentuhan tangan Dina. Ia pun mulai menelusupkan jari-jari tangannya pada segitiga penutup yang dipakai Dina.
Dina hanya bisa menggeliat dan mendesah merasakan setiap sentuhan yang ia rasakan pada intinya. Toni sudah tak sabar, ia pun menarik segitiga penutup milik Dina hingga kini tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya.
"sayang...milikmu indah sekali" ucap Toni dengan suara beratnya menatap apa yang terpampang nyata di depannya. Dina hanya menatap Toni dengan tatapan sayu.
Toni menarik kaki Dina lebar-lebar dan menekuknya. Ia mulai menjilat bagian inti Dina, gerakan lidahnya semakin lama semakin membuat Dina melayang. Semakin membuatnya tak kuasa menahan gejolak dalam tubuhnya.
Dina hanya bisa mendesah, menjerit menikmati setiap sentuhan Toni. Mendengar suara Dina yang begitu merdu membuatnya semakin semangat, tangannya juga memainkan semua yang ingin ia sentuh.
"sayang....aa...kuu...nggaakkk...taa...haann....aaahhhh...." Dina merasakan puncak kenikmatannya yang pertama.
"ayo...sayang...keluarkan semua...." Toni menghisap cairan kenikmatan milik Dina sampai habis.
Toni merangkak naik ke atas tubuh Dina, menatap Dina yang terkulai tak berdaya karena dahsyatnya puncak kenikmatannya. Dina terengah-engah pandangannya sayu, seperti memohon lebih namun ia merasa kehabisan tenaga.
Dina melingkarkan tangannya di leher Toni, ia merasakan tongkat ajaib milik Toni menempel pada intinya. Ia pun menggerakkan pinggulnya, membuat Toni tersenyum
"kamu nakal ya..." Toni dengan suara beratnya, matanya pun masih berkabut gairah menunjukkan jika ia masih menginginkan lebih, Dina hanya tersenyum.
Perlahan Toni mulai menggesekkan tongkat miliknya pada bagian inti Dina. Dina mulai terbuai dengan sentuhan-sentuhan Toni. Toni kembali menciumi Dina, meninggalkan banyak tanda kepemilikan pada tubuh Dina.
Dina terbuai, ia pun mulai memainkan tongkat sakti milik Toni, meremas membelai, Toni menggeram ia sudah tak bisa menahan gairahnya. Toni terdiam menatap Dina yang terlihat begitu cantik dan sexy di matanya.
__ADS_1
"sayang...bolehkah...." ucap Toni dengan suara beratnya sambil mendorong-dorong tongkat miliknya di depan inti Dina. Dina mengangguk, ia juga menginginkan lebih.
"kamu yakin...?"
"aku milikmu sayang..." ucap Dina dengan mata sayu seolah ia memohon untuk dipuaskan
"ini akan sakit...apa kamu yakin?" Toni ingin lebih namun ia juga tak ingin Dina marah dan membencinya
"cepatlah...aku juga menginginkannya..." ucap Dina lirih yang matanya juga berkabut gairah
"baiklah...."
Toni mulai mencium dahi hidung dan bibir Dina, ia mencoba membuat Dina lebih rileks, ia tahu Dina masih sedikit takut. Ia tak ingin membuat pengalaman pertamanya membuatnya trauma.
Ciuman mereka semakin dalam, tangan mereka berdua tak tinggal diam, sedetik kemudian, Toni mencoba memasukkan tongkat saktinya ke dalam inti Dina. Sekali...dua kali...ia tak berhasil masuk, barulah yang ketiga kalinya Toni berhasil menembus pertahanan Dina.
Dina menjerit, ia meremas punggung Toni, ia merasakan sakit yang teramat sangat. Toni diam, Ia merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan selama ini, ia juga merasakan ada yang mengalir membasahi tongkat miliknya. Dalam hatinya ia begitu bahagia karena Dina memberikan miliknya yang paling berharga untuknya.
"awh...ssss...sakit" ucap Dina lirih. Toni berhenti menggerakkan pinggulnya sebentar.
Toni mencium Dina kembali, membuat Dina lebih rileks sambil menggerakkan pinggulnya pelan-pelan. Tak ada penolakan dari Dina, Toni mempercepat gerakannya.
Rasa sakit yang tadi Dina rasakan berubah menjadi kenikmatan. Ia mulai menikmati setiap gerakan Toni. ******* demi ******* lolos dari bibir keduanya. Seakan tak memiliki rasa lelah Toni begitu bersemangat memaju mundurkan pinggulnya.
Dina semakin menikmatinya, ia semakin dibuat melayang oleh Toni, Dina mulai merasakan ledakan itu akan segera tiba. Ia pun mulai mengikuti gerakan Toni dan tiba-tiba ia mengejang dan berteriak "aaahh......saayyaanngg....." Dina mendapatkan puncak keduanya, nafasnya terengah-engah kemudian ia terkulai mencoba menetralkan nafasnya.
Toni tersenyum, ia mulai memaju mundurkan pinggulnya lagi. Satu jam sudah mereka melakukannya entah sudah berapa kali Dina mencapai puncaknya. Toni pun mulai tak kuasa menahan gejolak rasa dalam tubuhnya, Toni mulai mempercepat gerakannya, semakin lama semakin cepat.
"aah...Sayang....milikmu begitu sempit...aaaahhh.....aaku....keluar sayaannggg..." Toni mengejang berteriak mendorong tongkat saktinya lebih dalam masuk ke dalam inti Dina. Nafas Toni terengah-engah, pengalaman pertamanya mendapatkan apa yang selama ini belum pernah ia rasakan. Pertama kalinya ia melakukannya dengan cinta bersama orang yang ia cintai.
__ADS_1
Toni ambruk di atas tubuh Dina menikmati sisa-sisa puncak kenikmatannya tanpa mencabut miliknya, kemudian mengecup bibir Dina.
"terima kasih sayang...kamu memberikan milikmu yang berharga untukku" Toni menciumi wajah Dina dengan lembut
"aku milikmu seutuhnya sekarang sayang" ucap Dina lirih tenaganya habis terkuras menggapai kenikmatan bersama Toni.
"maaf...pasti milikmu sakit..." Toni membelai wajah Dina
"sepertinya milikmu terlalu besar untukku" Dina terkekeh
"terima kasih pujiannya..." Toni mengecup lembut bibir Dina "tidurlah...ini sudah pagi" Toni merebahkan tubuhnya di samping Dina tanpa mencabut miliknya dari milik Dina. Ia ingin merasakan kehangatan dalam tubuh Dina.
Mereka berdua tertidur berpelukan dengan milik Toni masih berada di dalam inti Dina. Mereka terlalu lelah setelah mendaki puncak kenikmatan bersama.
Meski lelah, mereka berdua tidur dalam senyum kebahagiaan. Bahagia karena mereka saling terikat, saling memiliki. Dina telah menyerahkan dirinya seutuhnya pada pesona Toni.
Bukan ia tidak menyimpan rasa lagi untuk Dendy, namun yang ada di hadapannya kini adalah orang yang telah memperjuangkannya dan membuktikan dirinya pantas untuk mendapat cinta Dina. Bukan orang yang tak pernah memperjuangkan apa yang ia rasakan.
Dina memilih Toni bukan karena Toni memiliki segalanya namun karena ia menerima Toni apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang mau berkorban untuknya selama ini. Dina sudah lelah memperjuangkan perasaannya, kini ia hanya ingin dihargai dan diperjuangkan, dan itu yang tidak ada pada diri Dendy.
.
.
.
.
B e r s a m b u n g
__ADS_1
yuk...jangan lupa like komen dan vote nya ya...
Bab baru segera meluncur...setelah ini sepertinya banyak adegan panasnya 😄😄😄