Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 135 Menjemput impian


__ADS_3

Dina menikmati liburannya di rumah, meski ia begitu merindukan Toni. Liburan ini ia juga ingin memantapkan hatinya, apakah ia akan mempertahankan Toni atau ia haru mengejar Dendy.


Jauh dari semua cowok yang pernah ia cintai akan membuatnya tahu siapa yang benar-benar ia rindukan dan inginkan. Ia ingin mulai merencanakan masa depannya. Ia berpikir jika bukan saat ini, kapan lagi. Ia takut setelah lulus nanti pergaulannya akan lebih sempit.


Sampai saat ini Dendy tak pernah lagi menghubunginya. Ada rasa kecewa dalam hatinya, namun ia juga tak bisa memaksa siapapun untuk menyatakan perasaannya.


Tapi Dina bersyukur, setidaknya ia sudah tahu jika Dendy masih memiliki perasaan untuknya. Dina hanya ingin jika memang Dendy ingin memperbaiki hubungan mereka, jangan sampai saat semuanya terlambat.


Rasa rindu yang ia rasakan pada Dendy tak sebesar yang ia rasakan pada Toni. Perlahan Dina mulai meyakini jika memang ia harus memilih Toni. Namun ia masih ragu, karena sikap dan tempramen Toni yang masih susah ditebak.


Dina tak mau terburu-buru mengambil keputusan. Ia ingin memastikan perasaannya, ia tak ingin salah pilih. Semua yang ia impikan, saat ini semua ada di diri Toni. Namun peristiwa beberapa bulan terakhir membuatnya berpikir kembali.


Komunikasi mereka tak seburuk sewaktu beberapa bulan yang lalu. Meski kadang sedikit lama, Dina selalu membalas pesan, atau mengangkat telepon dari Toni.


Toni juga menyempatkan dirinya untuk menemui Dina. Toni menjadi lebih menghargai kebersamaan mereka. Meski singkat pertemuan mereka namun begitu bermakna.


Toni lebih bisa mengontrol emosinya, sikapnya kini lebih tenang, dan lebih dewasa. Ia ingin membuat Dina percaya jika dirinya telah berubah, dan bisa menjadi yang seperti Dina inginkan.


"Wan...bagaimana persiapannya?"


"persiapan apa bos?"


"kejutan untuk Dina dan juga restoran" ucap Toni datar


"tinggal tentukan tanggal bos..."


"sudah sesuai dengan keinginanku?"


"sudah...di bagian outdoor resto kita bos"


"baiklah...peresmiannya menurutnu kira-kira kapan Wan?"


"menurut saya setelah ulang tahun mbak Dina saja bos.....kita tidak tahu mbak Dina menerima lamaran bos atau tidak..."

__ADS_1


"Ridwan....!" Toni kesal dengan ucapan Ridwan karena membuatnya layu sebelum berkembang "mulai hari ini jangan panggil Dina mbak....panggil Dina nona...telingaku sakit setiap kamu panggil dia mbak!"


"baik bos...oh....iya....sepertinya di tanggal itu bos besar ada acara di kota ini, apakah saya harus mengundangnya?"


"kalau dia mencariku beri tahu dimana aku, kalau tidak, tak perlu kamu katakan"


"baik bos..."


Semakin mendekati tanggal ulang tahun Dina, Toni semakin gugup. Ia takut Dina menolak lamarannya. Tinggal satu langkah lagi dirinya akan tahu kepastian masa depan yang ia rencanakan selama ini.


Setelah itu ia akan merasa tenang membiarkan Dina melakukan apa yang ia sukai. Dia akan mengikat Dina dengan komitmen yang lebih kuat lagi.


Meski jalan untuk menuju pernikahan sudah mulai terbuka namun ia masih tetap kawatir akan banyak rintangan yang akan mereka hadapi terutama dari mamanya.


Mamanya rela mengorbankan apa saja demi keinginannya tercapai termasuk mengorbankan keluarganya. Beberapa tahun terakhir mamanya tak pernah lagi tinggal serumah dengan papanya, alasannya hanya karena tuntutan pekerjaannya.


Padahal papanya telah berkorban banyak untuk menjadikannya seperti saat ini. Bahkan Vanya yang terang-terangan menentang kedua orang tuanya dari awal sekarang sudah berdamai dengan papanya namun tidak dengan mamanya.


Liburan Dina hampir selesai, Toni datang ingin menjemput Dina untuk kembali ke kota K, namun Dina menolaknya.


"aku mau naik motorku Ton...kalau aku bareng kamu siapa yang bawa motorku?"


"biar nanti Ridwan yang mengurusnya..."


"jangan....itu motor kesayangannku, jangan sampaj ada orang lain yang menyentuhnya...." Dina kesal


"terus mau kamu apa?" Toni menjadi frustasi "ayolah sayang...aku tidak tega kamu balik naik motor sendiri, takut terjadi apa-apa dengan kamu" bujuk Toni


"aku sudah biasa Ton...kamu tenang saja..."


Toni menjauh terlihat menelpon seseorang, entah apa yang sedang ia bicarakan tampak sangat serius.


"baiklah...kamu bersiaplah..." ucap Toni mengalah karena ia malas berdebat dengan Dina

__ADS_1


"jadi aku boleh kan naik motor kembali ke kota J" ucap Dina dengan riang. Toni hanya mengangguk, ia sengaja tidak memberi tahu rencananya pada Dina.


Tak berapa lama, orang yang ditelepon Toni datang mengambil mobil Toni dan membawakan helm serta jaket untuknya. Toni menunggu Dina bersiap, ia sudaj bisa membayangkan Dina akan marah padanya.


"sayang...kamu mau balik ke kota J kapan?" tanya Dina sambil meletakkan barang-barangnya


"sekarang..." ucap Toni tersenyum miring


"oh...ya sudah...kamu duluan saja..." ucap Dina yang belum mengetahui jika mobil Toni sudah tidak terparkir di depan rumahnya


"aku bareng kamu..."


"hah...tadi sudah kubilang aku balik sendiri naik motor"


"iya...kita berdua naik motor" Toni mengembangkan senyumnya.


"berdua? Naik motornya siapa?" Dina melihat ek sekelilingnya tak ada motor lain selain motornya


"naik motormu..." Toni tergelak


"kamu itu merusak kesenanganku saja!" Dina mengerucutkan bibirnya


"ayo berangkat, tak perlu diperdebatkan lagi..."


Akhirnya Dina menurut, merekapun berpamitan pada kedua orang tua Dina untuk berangkat ke kota J. Dina masih merasa kesal dengan Toni. Sejak mereka berdua berpacaran Dina jarang pulang mengendarai motornya sendiri.


Toni mengendarai motor Dina dengan kecepatan sedang. Ini kali pertamanya selama pacaran membonceng Dina jarak jauh. Biasanya hanya antara kampus, kos atau rumahnya.


Toni kesal karena Dina tak mau dimanjakan olehnya. Dina sering meminta Toni mengantar atau menjemputnya naik motor. Namun bukan Toni namanya kalau tidak pintar mencari alasan yang berujung Dina yang mengalah.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2