Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 129 Geng penyelamat


__ADS_3

Pagi harinya Dina masih enggan untuk bangun. Ia mengeratkan pelukannya pada Toni. Tidur dalam pelukan Toni membuatnya tidur nyenyak bahkan bermimpi indah.


Toni tersenyum, melihat apa yang Dina lakukan. Baginya usaha tak pernah menghianati hasil. Bertahun-tahun bersabar, dan tak pernah melupakan Dina, kini ia bisa memeluk erat Dina kembali.


Toni bersyukur dengan apa yang ia miliki sekarang. Karir yang cukup bagus, pacar yang begitu menyayanginya. Ia berencana melamar Dina dalam waktu dekat. Ia masih mempersiapkan semuanya, dan juga mempersiapkan kejutan untuk Dina.


"sayang....hari ini kamu nggak kuliah?" tanya Toni lembut


"hmm....aku masih ingin tidur..." ucap Dina dengan suara seraknya sambil mengeraatkan pelukannya kepada Toni


"pagi ini aku harus ke luar kota Din...kamu tak apa kan kalau aku tinggal sendiri?"


"hmm...." Dina masih memejamkan matanya


Toni mengecup puncak kepala Din "aku tidak bisa mengantarmu, kamu pakai saja motor yang ada di garasi" ucap Toni lembut


"iya...."


Perlahan Toni melepaskan pelukan Dina, kemudian ia bangun dan masuk ke dalam kamar mandi. Dina terusik, ia pun membuka matanya, namun badannya terasa remuk, ia masih enggan bangun dari tempat tidurnya.


Lima belas menit Toni di dalam kamar mandi, terdengar pintu kamar mandi terbuka. Toni hanya keluar menggunakan sehelai handuk yang menutupi bagian pinggang ke bawah.


Dengan tanpa malu, Toni membukanya di depan Dina, dan mulai memakai bajunya.


"kebiasaan!" ucap Dina kesal


"apa sayang?" Toni menatap Dina


"apa nggak bisa ganti baju di dalam kamar mandi?" Dina membuang wajahnya


Toni tersenyum miring ia belum jadi memakai bajunya dan berjalan mendekati Dina. "kamu sudah sering melihatnya, lagi pula ini milikmu" Toni menarik tangan Dina kemudian mengarahkannya pada milik Toni


"Toni!" Dina kesal


"kenapa? Sudah lama aku tak mendapat vitaminku...ayolah...sayang..." Toni membelai Dina. Dina mendelik dan menyembunyikan dirinya di bawah selimut.


Toni menyibak selimut yang dipakai Dina, Dina beranjak dari tempat tidur dan berlari keluar kamar. Langkah Toni terhenti, melihat Dina sudah menghilang di balik pintu kamarnya.


Dina menuruni tangga, ia menuju ke dapur. Membuka kulkas dan melihat isinya, berpikir sejenak, akhirnya ia memutuskan membuat sandwich untuk Toni sarapan. Dina membuat sedikit banyak, ia ingat Toni akan keluar kota dan akan membawakan bekal untuk Toni.


Dina membuat segelas susu hangat dan secangkir teh hangat entah mana yang akan diminum Toni dan menyiapkan sandwich di piring. Tak lama Toni turun, ia menghampiri Dina.


"kamu masak apa?" ucap Toni lembut memeluk pinggang Dina


"hanya sandwich, tak ada bahan makanan di kulkas" ucap Dina

__ADS_1


"aku sudah lama nggak belanja, kalau kamu ada waktu, tolong isi kulkasnya ya..." Toni masih memeluk Dina


"tapi aku nggak mau belanja sendiri"


"nanti aku usahakan pulang lebih awal" Toni duduk di kursi makan


"sarapan dulu...terserah mau minum teh atau susu" Dina mendorong piring ke hadapan Toni


Toni tersenyum miring "aku mau susu yang itu" ucap Toni menatap dada Dina


"mesum!" Dina melempar Toni dengan serbet makan


Toni tergelak, kemudian ia memakan sarapan yang sudah disiapkan oleh Dina.


"ini nanti dibawa, mungkin kalau kamu lapar lagi, kalau nggak mau kasih ke Ridwan saja" ucap Dina sambil menyerahkan tas yang berisi bekal


"apa ini?"


"bekal untukmu"


"terima kasih sayang....benar-benar calon istri idaman" Toni terkekeh


Dina diam, tak menghiraukan ucapan Toni. Ia malas meladeni Toni jika sudah menyebut masalah calon istri.


Dina berangkat ke kampus mengendarai motor Toni. Ia hari ini hanya kuliah satu mata kuliah bersama kedua sahabatnya Caca dan Berta. Dina tak lagi mencari keberadaan Dendy, ia fokus dengan kuliahnya.


"Din....data-data sudah kamu input?" tanya Caca


"sudah sebagian..."


"sore setelah aku kuliah aku ke kosmu ya..."ucap Berta


"aku mungkin sedikit malam, mungkin jam enam ke kosmu, kita lembur malam ini, biar bisa segera kita cetak gambarnya" ucap Caca


"terserah kalian saja...." ucap Dina. Dina merasa malam ini ia bisa selamat dari Toni.


Ada kedua sahabatnya yang bisa menjadi alasan untuk tidak menginap di rumah Toni. Ia senang menghabiskan waktu bersama Toni namun ia juga ingin bersama teman-temannya.


Pukul 7 malam Toni sudah sampai di kos Dina. Kos dalam keadaan ramai, tak ada yang menghiraukan Toni naik ke kamar Dina. Di dalam kamarnya Dina sedang mengerjakan tugasnya bersama Berta dan Caca.


Mereka bertiga berbagi tugas, tak ada yang menyadari jika Toni sudah berdiri di depan pintu kamar Dina.


"ehemm...."


Ketiga orang itu langsung menatap ke arah datangnya suara.

__ADS_1


"Din....cowokmu tuh...." bisik Caca


"sudah pulang?" ucap Dina santai


"kalian masih lama?" tanya Toni datar


"masih...ini saja baru mulai menggambar" ucap Berta yang tak menyadari tatapan tajam Toni


Toni duduk, menunggu Dina yang tampak serius menggambar di komputernya. Sedangkan kedua temannya berdiskusi. Toni merasa diacuhkan oleh Dina. Ia kesal namun bagaimanapun juga Dina sedang mengerjakan tugasnya.


"sayang...." ucap Toni


"hmm....apa?" Dina tak mengalihkan pandangannya dari komputernya


"kamu sudah makan?"


"sudah tadi..." lagi-lagi Dina tak menatapnya ia terlihat serius.


Toni merasa bosan, tak pernah ia menghadapi situasi semacam ini. Bahkan ketika dulu ia kuliah, ia tak pernah mengerjakan tugas sampa harus seperti Dina.


"sayang...aku pulang dulu ya....tidur jangan malam-malam, istirahat kalau capek" ucap Toni kemudian menghampiri Dina dan mengecup kepalanya.


"Ta...tolong lanjutkan, aku mau mengantar Toni ke bawah" ucap Dina, kemudian ia beranjak dari duduknya. Dina mengantar Toni, namun Toni berhenti di depan pintu kamarnya Dina.


"tidak usah mengantarku, kamu lanjutkan saja" ucap Toni sambi mengecup dahi Dina


"maaf ya....tugas ini benar-benar menyita waktu" Dina berpura-pura sedih


"tenang saja...." Toni tersenyum, Toni mencondongkan kepalanya tepat di sebelah telinga Dina "kamu terlihat begitu seksi....aku jadi...." bisik Toni


"selalu!" Dina mengerucutkan bibirnya


"aku pulang dulu, ingat jangan tidur malam-malam"


"iya...aku nggak akan tidur malam-malam, tapi tidur pagi" Dina tergelak dan mendapat tatapan tajam dari Toni.


Toni pun meninggalkan kos Dina dengan perasaan kecewa, namun ia harus mengerti seperti waktu Dina mengerti kesibukannya. Meninggalkan Dina bersama teman-teman cewek Toni sedikit lega, setidaknya Dina aman dari cowok-cowok yang terlihat mengaguminya.


.


.


.


B e r s a m b u n g

__ADS_1


__ADS_2