
Toni hanya duduk memperhatikan Dina yang masih berkutat pada angka-angka di depannya sementara waktu sudah menunjukkan pukul malam.
Dan para menejer dan juga GM masih juga duduk di sana menunggu perintah dari asisten bosnya itu.
"tak kusangka Bu Dina lebih menakutkan daripad Tuan Toni" bisik salah satu menejer
"padahal terakhir kali ke sini dia baik-baik saja, malah kita dibawakan makanan yang banyak" timpal yang lain
"sepertinya kali ini masalahnya serius, sampai kita disuruh menunggu di sini" ucap yang lain.
Mereka hanya berani berbisik-bisik, tak berani melayangkan protes mereka, karena mereka sebenarnya tidak merasa melakukan kesalahan apapun.
Satu jam berlalu, Dina masih tetap sama larut dalam lembaran demi lembaran kertas di depannya. Toni yang merasa kasihan pada karyawannya hanya menatap mereka sembari memberi anggukan kecil memberi tanda jika mereka boleh pulang.
"sayang....istirahat dulu...besok dilanjutkan lagi...." ucap Toni lembut sambil membelai lengan Dina
"hemm....baiklah....aku lelah sekali...." Dina meregangkan tangannya, kemudiam ia merapikan kertas-kertas yang ada di mejanya.
Tiba-tiba Toni langsung menggendong Dina ala bridal style. Dina terkejut.
"turunkan aku, tidak enak dilihat orang..." protes Dina
"jika aku tidak menggendongmu, kamu pasti akan kembali melanjutkan pekerjaanmu"
Toni memggendong Dina keluar dari ruang rapat, ternyata masih ada beberapa karyawan yang belum pulang karena sebagian memang bekerja secara shift.
"kamu...tolong ambilkan tas milik Dina yang ada di ruang rapat dan bawa ke kamarku" ucap Toni pada seoarang karyawan yang ia temui di luar ruang rapat.
"baik tuan...." ucap karyawan itu.
Toni menggendong Dina ke arah lift, tujuan mereka adalah masuk ke kamar yang telah dipersiapkan untuk mereka berdua.
"sayang....malau dilihatin orang..." Dina menyembunyikan wajahnya
"kenapa malu? Semua juga tahu kalau kita sebentar lagi menikah" ucap Toni santai
__ADS_1
Tak lama pintu lift terbuka, Toni membawa Dina masuk. Perlahan Lift naik ke lantai dimana kamar mereka berada. Pintu lift terbuka, Toni berjalan keluar dan di depan lift sudah ada room boy yang menunggu mereka.
"dimana kamar kami?" tanya Toni datar
"silakan ikuti saya tuan..." ucap Room boy itu.
Room boy itu membawa Toni dan Dina ke kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Kemudian membukakan pintu untuk Toni dan Dina.
Setelah memastikan Toni masuk ke kamarnya, room boy itu pun keluar dari kamar mereka. Toni mendudukkan Dina di sofa ruang tamu.
"tunggulah di sini, aku akan menyiapkan air hangat untukmu" Toni meninggalkan Dina dan masuk ke kamar mandi, mengisi bathtube dengan air hangat dan menuangkan aromaterapi
Toni pun keluar dari kamar mandi "kamu mandilah dulu, aku mau keluar sebentar" ucap Toni lembut
"kemana?" tanya Dina
"aku mau membeli baju dulu, tadi ke sini aku tidak membawa baju ganti" ucap Toni lembut kemudian mengecup dahi Dina sebentar dan keluar dari kamar.
Dina pun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melepas satu per satu baju yang ia pakai. Ia masuk ke dalam bathtube dan berendam. Ia memejamkan matanya mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.
Perlahan mata Dina terbuka karena merasa ada yang masuk ke dalam bathtubenya. Dina pun tersenyum melihat siapa yang masuk dan duduk di hadapannya.
"berbaliklah...aku akan memijatmu" Dina membalik badannya dan memungggungi Toni. Toni mulai memijat bahu Dina "jamgam terlalu memaksakan diri" ucap Toni lembut
"baru kali ini aku harus bekerja ekstra, setiap angka yang kukejar tiba-tiba larinya kemana tidak jelas" keluh Dina
"masih ada hari esok, aku yakin besok pasti kamu bisa menemukannya" ucap Toni lembut yang tangannya masih memijat tubuh Dina, namun ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Dina.
Dina merasakan tubuhnya lebih rileks mendapat pijatan dari Toni. Toni merasa tubuh Dina sudah semakin rileks ia pun memberanikan diri untuk langsung menyentuh bagian-bagian favoritnya.
"sayang...ssshhhh...." desah Dina
"bolehkah?" ucap Toni di telinga Dina
"aku lelah...."
__ADS_1
"apa kamu tidak merasakannya? Dia mulai mencari sarangnya" ucap Toni dengan suara berat
"baiklah....tapi sebentar saja ya...." ucap Dina yang juga mulai merasa beegairah karena sentuhan lembut Toni.
Toni yang mendapat lampu hijau pun langsung melakukan penyatuan. Dina hanya bisa mendesah dan sesekali menjerit dengan semua kenikmatan yang diberikan oleh Toni. Meskipun badannya lelah, ia tak bisa menolak apa yang Toni lakukan padanya.
Setiap sentuhan Toni selalu mampu membangkitkan sisi liar dalam dirinya. Hingga erangan panjang meluncur dari bibir Toni begitu juga dengan Dina.
Mereka berdua pun mandi membersihakan diri mereka dan membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Namun hal tak terduga terjadi, benda tumpul Toni menggeliat kembali, Toni langsung menggendong Dina dan membawanya ke dalam kamar.
Mereka mengulangi percintaan mereka hingga tengah malam. Padahal janjinya Toni hanya sebentar, namun pada akhirnya mereka melakukannya sampai tiga ronde. Dan Ronde yang terakhir Dina yang memintanya.
.
Keesokan harinya Dina terbangun, namun tak menemukan Toni di sampingnya. Ia melihat jam di ponselnya, dan ternyata sudah menunjukkan waktu pukul tujuh lebih.
Badan Dina terasa remuk, mengingat pergulatan panas mereka semalam yang benar-benar menguras tenaga. Dina berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Ketika ia sedang mandi sesuatu keluar dari intinya, bukan sisa-sisa percintaan mereka namun darah bulanannya. Dina bingung karena ia tak mempersiapkan sebelumnya.
Ia pun keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuhnha dan mendapati Toni yang sedang duduk membaca dokumen-dokumen yang ia periksa kemarin.
Toni menatap Dina yang berjalan ke arahnya seraya menggigit bibir bawahnya dan tampak menggoda di mata Toni "masih kurang yang semalam hemm..." Toni berjalan kemudian hendak membuka handuk yang Dina pakai.
"sebenarnya kurang....tapi..."
"tapi apa?"
"aku sedang tamu bulanan, tolong belikan aku pembalut ya sayang" rayu Dina
"baiklah...." Toni keluar dari kamar yang mereka tempati. Ia sudah sering melakukannya, jadi ia sudah tau apa yang harus ia beli.
.
.
__ADS_1
.
B e r s a m b u n g