Jadikan Aku Pacarmu

Jadikan Aku Pacarmu
Bab 119 Sekretaris dadakan


__ADS_3

Toni mengajak Dina ke kantornya bukan tanpa alasan Toni mengajak Dina ke sana. Ia ingin menepis semua gunjingan dari para karyawan, sebagian besar membicarakan Dina yang tak sadar diri karena Dina dianggap tak pantas untuk seorang Toni yang begitu sempurna di mata semua orang.


Toni berjalan memasuki kantornya dengan menggandeng tangan Dina. Semua mata menatap mereka berdua. Tak biasanya Toni membawa cewek ke kantornya.


"aku malu, semua mata menatap kita" bisik Dina


"abaikan mereka..." ucap Toni lembut dengan tatapan datar ke arah para karyawan.


Toni mengajak Dina masuk ke dalam ruangannya. Baru pertama kali Dina masuk ke kantornya Toni. Tak begitu luas, hanya ada meja kerjanya dan juga ada sofa dan meja tamu.


"kamu duduk saja di sini"


"aku di sini cuma duduk-duduk saja? Katanya kamu butuh bantuan?" ucap Dina mengerucutkan bibirnya


"tunggu Ridwan dulu..."


"baiklah..." Dina memperhatikan sekelilingnya, ia melihat di satu sudut ada lukisan cewek cowok memakai seragam putih abu-abu. Dina berjalan mendekati lukisaj itu, ia melihat di sudut kanan bawah terdapat tanda tangan pelukisnya ia tidak asing dengan tanda tangan itu, dan juga ada tanda tangan pembuatannya tertera sekitar dua tahun yang lalu.


"ini siapa yang melukis? Sepertinya aku kenal dengan tanda tangan ini" Dina menatap ke arah Toni yang sedang serius membaca lembaran kertas di meja kerjanya


"hah...apa sayang?" Toni menatap Dina


"ini siapa yang melukis?"


"oh...itu Sari yang melukisnya" jawab Toni santai


"Sari? Temanku waktu SMP dulu?"


"iya...Sari yang itu..." jawab Toni sambil membaca kertas-kertas di mejanya


"terus, siapa yang ada di lukisan ini?" Dina memperhatikan lukisan itu, ia merasa cewek yang ada di lukisan itu mirip dengannya, tapi ia tak yakin


"coba perhatikan baik-baik" Toni tersenyum menatap Dina


"hmmm....yang cowok jelas kamu, yang cewek...hmmm...masak iya ini aku?"


Toni beranjak dari duduknya dan menghampiri Dina, kemudian memeluknya dari belakang "memangnya siapa lagi? Hmm?"


"tapi kenapa lukisannya sudah lama, sedang kita pacaran baru beberapa bulan"


"tapi perasaanku sudah ada sejak lama sayang..."


"gombal....!" Dina mengerucutkan bibirnya


Toni tergelak "waktu itu aku bertemu Sari saat ada bazar di kampusku, ternyata dia satu kampus denganku, kebetulan dia pameran hasil karyanya bersama teman-temannya, aku meminta dia melukis kita berdua, jadilah lukisan ini...Dina versi ingatan Sari"


"iya di lukisan ini aku tampak cantik, padahal aslinya nggak secantik ini"


"bagiku kamu itu cantik...cantik luar dalam" bisik Toni di telinga Dina sambil meremas gunung kembar Dina


"sstt...ini di kantor....."


"kenapa memangnya?" Toni memainkan gunung kembarnya

__ADS_1


"sejak kapan kamu mesum begini" Dina menepis tangan Toni


"sejak dekat dengan kamu" Toni kembali mengarahkan tangannya bertepatan dengan pintu ruangannya yang terbuka


"maaf bos aku..." Ridwan tak jadi melanjutkan ucapannya "silakan lanjutkan bos...saya keluar dulu..." Ridwan membalik badannya


"eh...kenapa kamu keluar?" Dina melepaskan pelukan Toni


"maaf mbak saya mengganggu..." ucap Ridwan tak berani menatap Toni. Ia tahu pasti Toni sedang menatapnya seolah ingin memakannya hidup-hidup


"enggak kok..." Dina duduk di sofa kembali


"sial...kenapa aku harus masuk saat si bos sedang begituan" batin Toni


"maaf bos, tadi saya mengurus Raya dulu pagi ini dia lemas lagi..." ucap Ridwan sopan


"kak Raya sakit?"


"nggak mbak, Raya sedang hamil muda" Ridwan dengan mata berbinar


"oh...selamat...selamat ya Wan..." Dina mengulurkan tangan kepada Ridwan namun ia menoleh ke arah Toni.


Dengan ragu Ridwan mengulurkan tangannya ke Dina. Toni menatap tajam Ridwan, ia tidak rela orang lain memegang Dina.


"Wan...tugas-tugas Raya sebagian biar Dina yang mengerjakan, sisanya kamu selesaikan" ucap Toni tegas


"baik bos..."


Ridwan keluar ke meja tempat Raya duduk dan mengambil dokumen-dokumen yang harus Raya periksa. Kemudian masuk kembali ke ruangan Toni.


"kamu jelaskan apa yang harus Dina kerjakan, tapi ingat jaga jarak..."


"baik..."


Ridwan, membawa dokumen yang harus Dina kerjakan, kemudian menjelaskannya pada Dina apa saja yang harus Dina kerjakan. Dina mengangguk tanda mengerti kemudian dia berdiri membawa keluar dokumen yang harus ia kerjakan.


"kamu mau kemana sayang?" Toni beranjak berdiri


"ke meja kak Raya...ini tugas sekretaris kan?" ucap Dina dengan wajah tanpa dosanya


"ya sudah...tapi pintunya jangan ditutup biar aku bisa melihatmu dari sini" ucap Toni sedikit tak rela


"iya...iya..." Dina berjalan keluar kemudian diikuti Ridwan


Dina duduk di meja biasa Raya duduk. Ia pun meletakkan dokumen kemudian menyalakan komputernya.


"kamu kenapa Wan? Seperti ketakutan begitu?"


"aku? Biasa saja mbak" kilah Ridwan


"ya sudah...nanti kalau aku bingung bolehkan tanya kamu?"


"iya mbak...saya paham, biasanya mas Toni nggak mau tugas Raya dikerjakan orang lain, ini tumben mau, mbak Dina pula yanh disuruh" ucap Ridwan

__ADS_1


"entahlah Wan...akhir-akhir ini aku juga bingung menghadapi sikap Toni...mumpung masih libur juga nggak ada salahnya aku bantu dia" Dina menyunggingkan senyumnya


Dina mulai mengerjakan, perkerjaannya menggantikan Raya. Ia begitu serius mengerjakannya, tak butuh lama bagi Dina untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Wan aku sudah selesai ini terus bagaimana?" tanya Dina ke Ridwan yang duduk di seberan mejanya


"hah...sudah selesai?" Ridwan terkejut "Raya saja nggak bisa secepat ini mbak"


"kamu terlalu memuji Wan" Dina terkekeh


"kalau sudah selesai serahkan ke mas Toni mbak"


"baik..." ucap Dina ceria membawa dokumen untuk Toni


Ridwan kini tahu kenapa Toni begitu menginginkan Dina. Dina cantik, pintar, cerdas, ramah dan baik hati, cowok mana yang tak akan tertarik pada Dina.


"mbak jangan lupa pintunya ditutup, kalau perlu dikunci ya..." ucap Ridwan menahan senyumnya


"hah...kenapa?" Dina mengerutkan dahinya "oke" Dina masuk ke ruangan Toni kemudian menutup pintunya.


"ini sudah selesai, tolong diperiksa ulang" Dina meletakkan dokumen di meja Toni.


"sayang...kemarilah..." Toni menepuk pahanya


Dina menurutinya dan duduk di pangkuan Toni.


"beri aku vitamin" ucap Toni lembut


"vitamin?" Dina mengerutkan dahinya


Toni tiba-tiba mencium Dina, ciuman lembut tapi dalam. Dina hanya bisa pasrah, tak kuasa menolaknya. Tangan Toni perlahan membuka satu per satu kancing kemeja Dina kemudian menurunkan penutup gunung kembarnya.


Toni menarik gunung kembar Dina kemudian menghisapnya dengan rakus. Tangannya tak tinggal diam, ia meremas gunung satunya.


"sst...aahh..." ******* lolos dari mulut Dina


tangan Toni pun mulai menyusup ke dalam rok Dina, ingin menggapai inti Dina, namun tiba-tiba Toni berhenti


"kok basah Din?"


"hah...? Basah?" Dina panik, ia buru-buru merapikan pakaiannya, kemudian mengambil tasnya "aku ke toilet dulu ya..."


Buru-buru Dina keluar, ia ke toilet yang ada di dekat meja Raya. Ridwan bingung, melihat Dina yang berjalan terburu-buru dengan wajah pamik, ia takut terjadi sesuatu dengan Dina.


"bos...itu mbak Dina kenapa?"


"entah..." Toni mengedikkan bahunya. Ia berusaha meredam rasa kesalnya pada Dina, ia kesal karena ia sedang tanggung Dina berlari keluar meninggalkannya.


.


.


.

__ADS_1


.


B e r s a m b u n g


__ADS_2