
Sesampai di rumah, Toni masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia berteriak dan mulai melemparkan barang-barang yang ada di meja belajarnya. Toni marah sekaligus merasa dirinya orang yang paling bodoh.
Kenapa tidak sejak dulu waktu mereka masih bersama, Toni lebih memperhatikan Dina dan mengabaikan Bian. Jika saja dulu ia tidak termakan ancaman Bian pasti sekarang dirinya dan Dina baik-baik saja.
Toni tidak menyangka jika Bian yang dulu ia kenal baik ternyata bisa berbuat seburuk itu. Toni frustasi, ia benar-benar merasa di titik terendah dalam hidupnya.
Toni tak pernah begitu terpuruk seperti saat ini. Bahkan ketika mamanya mengabaikannya ia tak pernah merasa sedih. Ia menganggap Dina penolongnya dari kehancuran, mengisi kekosongan hatinya. Bersama Dina ia tak lagi merasa kesepian, karena Dina ia merasakan lagi semangat dalam hidupnya.
Toni menangis, meluapkan segala emosinya, hatinya benar-benar hancur. Hanya karena kesalahpahaman yang dibuat oleh orang yang mengaku teman baiknya.
Mbok Nah yang mendengar suara gaduh dari kamar Toni segera berlari naik ke kamar Toni. Ia takut jika terjadi apa-apa dengan anak majikannya yang sudah dianggap seperti anak sendiri.
Tanpa mengetuk mbok Nah membuka pintu kamar Toni, dan betapa terkejutnya mbok Nah melihat isi kamar Toni yang biasanya rapi terlihat begitu berantakan.
Mbok Nah melihat ke sekeliling mencari keberadaan Toni, dan menemukan Toni duduk bersandar tempat tidur menghadap ke jendela dengan tatapan kosong.
"mas Toni...!" teriak mbok Nah kemudian berlari menghampiri Toni "mas Toni kenapa?" mbok Nah begitu kawatir
"sia-sia usahaku mbok..." ucap Toni terisak
"usaha apa mas? Kenapa mas seperti ini?" mbok Nah mengusap wajah Toni dan membelai rambutnya
"aku gagal mbok...Dina tak mau lagi denganku" Toni terisak
"kenapa non Dina tidak mau bersama mas Toni?" tanya mbok Nah pelan-pelan
"semua karena Bian mbok....seharusnya aku tidak pernah berteman dengannya!" Toni meraung
Mbok Nah menghela nafasnya "dari dulu mbok sudah tidak suka dengan den Bian, mbok ingin memberitahu mas Toni, tapi apa hak mbok melarang mas Toni berteman dengan den Bian" ucap mbok Nah sambil membelai rambut Toni
"apapun masalah mas Toni dengan non Dina, mbok yakin non Dina akan memaafkan mas, non Dina anaknya baik mas.... den Yanuar saja suka dengan non Dina"
"begitu ya mbok...?" Toni menatap pengasuhnya yang sudah seperti ibunya sendiri. Mbok Nah mengangguk "sekarang mas Toni tenangkan diri dulu, mbok akan membereskan barang-barang mas"
__ADS_1
Toni beranjak dari duduknya kemudian ia berbaring di atas tempat tidurnya mencoba memejamkan matanya. Mbok Nah mulai membereskan barang-barang Toni yang berserakan di lantai.
Semakin Toni memaksa memejamkan matanya, pikirannya semakin tidak tenang. Ia teringat motor Dina tadi masih berada di sekolah dan juga katanya hari ini Dina ada les sampai sore.
Toni bangun dan berlari keluar rumah, dengan penampilan yang kacau dan hujan mulai turun Toni pergi ke sekolah. Toni ke tempat parkir, dan mendapati motor Dina masih berada di tempatnya.
Kemudian ia ke kantin belakang kelasnya, tapi ibu kantin bilang hari ini Dina tidak ke sana. Toni ke kantin pak Jo, jawaban pak Jo juga sama, hari ini Dina tidak pergi ke kantin.
Toni bingung, tujuan terkahirnya adalah studio. Ia melangkahkan kakinya ke studio dan ada Anto di sana.
"tumben ke sini?" tanya Anto
"aku mencari Dina" ucap Toni datar
"oh...Dina belum ke sini, mungkin sedang les...hari ini dia les fisika dan matematika, paling berada di kelas" terang Anto
"aku sudah telusuri semua ruang kelas tapi kosong semua" ucap Toni datar
"oh.....mungkin Dina sedang keluar, biasanya dia sebelum les makan di luar" ucap Anto
Hujan mulai deras, Toni berdiri di dekat laboratorium kimia, ia sengaja berdiri di situ karena bisa mengamati dua gerbang, kalau-kalu Dina datang entah lewat depan atau belakang.
Tak lama ia melihat ada yang masuk pintu gerbang belakang. Dan ia terkejut, melihat Dina berboncengan dengan cowok lain. Hatinya semakin tercabik-cabik. Ia begitu emosi, ia begitu cemburu tapi sebisa mungkin ia tahan.
Toni memutuskan menghampiri Dina yang turun dari boncengan Dendy. Meski sedang hujan Toni tidak menghiraukannya hatinya terlanjur emosi dan cemburu melihat Dina berboncengan dengaan orang lain.
"Dina...." ucap Toni menarik pergelangan tangan Dina. Dina dan Dendy tersentak kaget. Mereka menatap Toni dengan penampilan acak-acakan serta bajunya yang setengah basah.
"Ada apa Ton?" ucap Dina ketus. Dendy hanya memperhatikan saja dia tidak berani ikut campur masalah Dina
"Din...aku mau bicara..." ucap Toni dengan wajah merah menahan emosinya.
"apa lagi yang harus dibicarakan Ton,...hmmm?" ucap Dina kesal
__ADS_1
"yang kamu dengar tadi tidak seperti yang kamu pikirkan Din " ucap Toni masih menggenggam tangan Dina.
"sudah Ton...tolong jangan ganggu aku lagi " ucap Dina masih mencoba menahan emosinya
"ayo kita bicara... tapi tidak di sini" ucap Toni menarik tangan Dina
"lepas Ton... tolong jangan ganggu aku lagi" Dina mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Toni
"Din...kamu tidak apa-apa?" tanya Dendy
"aku tidak apa-apa Den" Ucap Dina menoleh ke arah Dendy "sudah kamu tinggal pulang saja, terima kasih"
"kamu yakin Din...?" tanya Dendy memastikan dan hanya dijawab anggukan oleh Dina.
Dendy memutuskan untuk pulang, sebenarnya diaa tidak tega melihat Dina sedang ada masalah dengan mantannya. Ingin sekali Dendy membantunya, tetapi dia masih ingin menghormati keinginan Dina.
Setelah Dendy pergi, Dina berjalan agak cepat menembus rintik hujan berjalan ke studio radio.
"Din...tunggu!!....aku jelasin semuanya oke....!" ucap Toni mengejar Dina
Dina tidak menjawab ucapan Toni dia terus berjalan studio. Dina masih merasa kesal dan kecewa mendengar apa yang dibicarakan oleh Toni dan teman-temannya.
"baik.....kalau kamu tidak mau aku ajak bicara.... tapi aku akan tetap mengejarmu, membuktikan semua yang aku katakan ke kamu kemarin itu serius" ucap Toni
Setelah mengucapkan itu, Toni pulang dengan keadaan lebih kacau dari sebelumnya. Ia benar-benar merasa dunia telah berakhir untuknya. Yang terpikirkan olehnya saat ini hanyalah mengendarai motor sekencang mungkin dan berharap semua hanya mimpi.
Roy melihat Toni yang berjalan dengan emosi yang memuncak, ia bergegas menghampiri Toni, ia takut Toni akan berbuat nekad. Karena tadi mbok Nah menelponnya dengan nada kawatir dan menyuruh Roy untuk datang.
.
.
.
__ADS_1
B e r s a m b u n g
Dukung terus karya ini ya bestie... ditunggu like, vote dan komennya ya bestie...